Marine Snow

Marine Snow
Ep. 7 : Victoria Black


__ADS_3

“Aku tidak menyangka kita akan bertemu secepat ini.”


Kelopak mataku terbuka. Kuambil nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan. Aroma pancake madu yang datang ke atas meja beberapa menit yang lalu, masih berusaha menggodaku. Jam dinding di belakang meja kasir menunjukkan pukul sebelas lebih sepuluh menit. Jam makan siangku akan datang 5 menit lagi.


“Aiden Johnson, eh?” katanya lagi.


Dari semua orang yang ada di dalam café, aku harus duduk berhadapan dengan seorang gadis bermata kelabu ini. Dress polkadot hijau-putih tanpa lengan yang digunakannya agak menyilaukan mata. Ini musim gugur. Hijau rasanya kurang cocok dengan keadaan sekitar yang mulai menguning. Sepertinya Shofia lupa mengatakan apa yang kusuka dan yang tidak, kepadanya.


“Kau memiliki nama yang bagus. Boleh kupanggil Aiden saja?”


Kurasa dia mencoba menarik perhatianku yang sedari tadi menatap aksi bartender, dua meja di sampingku. Dengan seluruh kesabaran yang tersisa, kutolehkan wajahku. “Terserah.”


Gadis itu tersenyum. Tubuhnya yang mendadak merapat ke meja, membuat rambut ikal coklat terangnya bergerak menutup bahu hingga sikunya. “Bagus. Kau juga bisa memanggilku Victoria. Kuharap kita bisa menjadi saudara yang solid.”


Dia pasti sedang bercanda. Saudara katanya? Gadis bermarga Black ini mungkin butuh beberapa stimulan untuk memicu neuron lambat dalam otaknya agar bergerak lebih cepat. Aku sudah mengerahkan seluruh kemampuanku dalam membuat jengkel seseorang. Wajah tak berminat, mengacuhkan pertanyaan, juga tatapan tak suka. Dengan ketiga resep itu, Dominic biasanya segera meninggalkanku dan menyingkir sejauh mungkin. Tetapi dia tidak terpengaruh.


“Aku selalu bermimpi memiliki seorang kakak. Dan kurasa aku bisa mengandalkanmu untuk peran itu, Aiden,” ujarnya yang langsung mendapat lirikan tajam dariku. Aku tak suka keadaan ini. Belum lagi ketika dia menambahkan. “Sepertinya Aiden Black tidak terlalu buruk. Bagaimana menurutmu?”


“Jangan konyol!” hardikku. Sorot mataku menajam. “Akan kutekankan beberapa hal penting kepadamu. Aku adalah Aiden Johnson, dan selamanya akan menjadi seorang Johnson. Aku tidak peduli pada semua pembicaraan Shofia tentang pernikahannya. Itu bukan urusanku. Selama dia masih berhubungan dengan pria itu, dia tak pantas kupanggil dengan Mom.”


Victoria mengangguk, lalu mengambil cola-nya. “Pria yang kau maksud adalah ayahku, Aiden. Tidakkah kau merasa harus menghormati seseorang yang lebih tua? Setidaknya panggil namanya dengan benar.”


“Kau berusaha mengajariku, huh?”


“Hanya mengingatkan bagaimana yang benar,” ujarnya. Setelah menghabiskan seperempat cola-nya, dia mendengus. “Namanya David Black. Dua kata dan tidak sulit untuk diucapkan. Kau setuju?”


Lucu.


Apa gadis ini menganggapku sebagai orang yang dungu? David Black. David Black. David Black. Aku sudah mengulang nama itu berkali-kali dalam otakku, bahkan aku sering memakinya. Dia lelaki dengan satu anak perempuan yang memperburuk keadaan keluargaku. Merebut satu-satunya Johnson yang kukenal.

__ADS_1


“Kurasa kau harus setuju. Kau tidak bisa selamanya menjadi Cordelia, anak yang patuh dan penurut, Aiden. Selalu ada saat di mana kau harus mendahulukan ego dan nafsu seperti yang dilakukan Goneril dan Regan kepada ayahnya, Raja Lear. Tak apa… Ego dan nafsu adalah tanda bahwa kau memang manusia.”


Raja Lear. Aku pernah membacanya di suatu tempat. Tetapi karena tidak terlalu yakin, kucoba membalikkan topik. “Kau tidak mengerti posisiku dan tidak akan per─”


Tawa gadis itu pecah seketika. Entah menertawakan responku atau yang lainnya. Tetapi yang jelas, dia sudah menarik hampir seluruh perhatian pengunjung café. Ini memalukan. Aku sudah berusaha datang ke café ini dengan pakaian yang tidak mencolok ─jeans dan sweater hitam dengan logo puma kecil di dada kiri- agar tidak ada satu orang pun yang memperhatikan pembicaraan kami.


Dan semua itu sia-sia.


“Sepertinya Shofia benar. Kau hanya menyukai Hamlet dan menutup mata pada karya Shakespeare lainnya.” Victoria menggeleng. Dia sudah berhenti tertawa. Kedua tangannya lalu bersilang di dada. “Itu bukan sikap yang baik, Aiden. Hamlet bukan satu-satunya karya Shakespeare yang menceritakan tragedi dan balas dendam. Beliau masih memiliki Raja Lear, Romeo dan Juliet, Macbeth, dan beberapa lainnya.”


Kusandarkan punggungku pada kursi tanpa melepaskan tatapan tajamku padanya. Jadi, tawa lepasnya tadi adalah respon dari ketidaktahuanku terhadap karya Shakespeare yang lain? Ini menggelikan. Dia berbicara tentang sikap yang kurang baik di saat dirinya sendiri menghina ketidaktahuan orang lain. Otak gadis ini pasti sedang bermasalah.


“Akan kukatakan beberapa hal menarik dari Raja Lear, Aiden.”


Kedua alisku menyatu. “Apa kau tidak pernah berpikir bahwa orang lain enggan meladeni ocehan tidak pentingmu ini?”


“Aku bukan pahlawan! Jangan mengenangku,” sahutku tak sabar. Semua pembicaraan ini harus segera diakhiri sebelum otakku meledak menjadi berkeping-keping. “Begini, V. Aku memanggilmu ke sini hany─”


“Kau memanggilku apa?” tanyanya dengan raut wajah serius.


Aku mendengus pelan. “Aku memanggilmu ke sini untuk menjelaskan satu hal kepadamu. Aku tidak menyetujui pernikahan David Black dan Shofia.”


“Bukan itu maksudku, Aiden!” Dia hampir berteriak kencang. Manajer café yang berada tiga meja darinya memandang dengan tatapan yang ingin memangsa gadis itu. Sayang, Victoria tidak melihatnya. “Kau memanggilku ‘V’!”


Bola mataku berputar. Ya ampun. Yang benar saja! Dia berteriak hanya karena hal sepele? Tuhan pasti sedang ingin menghukumku hari ini. Setelah berusaha menerima wujud hukuman dari-Nya, aku berkata. “Namamu terlalu panjang untuk kuucapkan. Apa sekarang kau sudah puas?”


Senyumnya mengembang. Iris kelabunya berkaca-kaca, bahkan ada beberapa bulir air mata yang jatuh. Tidak mungkin! Hukuman ini lebih mengerikan dari dugaanku.


“Aiden, kau benar-benar kaka─”

__ADS_1


“Kurasa aku harus segera pergi.” Detik berikutnya, tubuhku sudah beranjak dari kursi. Untuk mengakhiri hukuman ini, aku menghela nafas dalam-dalam. “Terima kasih sudah mendengarkan ucapanku. Oh, salah. Ada yang harus kuperbaiki. Terima kasih sudah mengoceh tanpa batas dan menghilangkan nafsu makanku.”


Brilliant.


Aku merasa di atas awan ketika melihat wajah Victoria merah padam. Rasanya sungguh menyenangkan. Sehingga, dengan riang aku meninggalkan meja kami, berkelit di antara beberapa pelayan, hingga sebuah tangan mencengkram pundakku.


Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Aku hanya sempat merasakan tubuhku melayang, lalu jatuh dengan keras di atas lantai keramik café. Kepalaku pening dan pandanganku kabur. Bahkan aku tidak mampu mengenali seseorang ─mungkin beberapa- yang berkerumun di sekelilingku.


Aku benci keadaanku yang lumpuh seperti ini.


“Aiden, kau baik-baik saja?”


Awalnya suara Dominic mendominasi liang telingaku. Kemudian, secara bertahap, hidung mancung, serta mata hazel tertangkap oleh retinaku. Aku juga mulai mengenali rambut kemerahan Dominic yang acak-acakan. Juga kaos polo biru dan masker yang menggantung di kedua daun telinganya.


“Aiden? Kau bisa mendengarku?”


Aku mengangguk lemah. Kepalaku masih berputar, leher dan pundakku terlalu kaku untuk digerakkan. Aku tidak pernah merasa sesakit ini sebelumnya. Tetapi rasa sakit itu tidak dapat menutupi situasi di sekelilingku yang sedang terjadi. Kami berdua sedang berada di dalam sebuah taksi.


“Dominic? Bagaimana bisa kau ada di sini? Bukankah kemarin kau─”


Sang Sopir menatap Dominic sekilas, kemudian kembali fokus ke jalan sambil berdehem. Sementara itu, Dominic hanya tersenyum kecil, memakai maskernya, lalu menghadap ke arah yang sama dengan Sang Sopir sesudah mengatakan beberapa hal kepadaku.


“Victoria meninggal kemarin malam. Itulah alasan kita berada di dalam taksi.”


Untuk yang kedua kalinya, tubuhku membatu. Di sisi lain, otakku mengeluarkan seluruh kosakata kotornya agar bisa menyumpahi keadaan ini. Menyalahkan Victoria Black atas kematiannya dan mengutuk diriku sendiri. Sial. Sesuatu dalam diriku menjerit, menyesal, dan merasa baru bertatap muka beberapa menit yang lalu.


Perkataan Dominic-lah yang pada akhirnya menyadarkan seluruh syarafku. Tetapi, dia juga membangkitkan iblis kecil dalam diriku. “Dan kita akan pulang, Aiden. Memphis hanya setengah jam dari sini.”


Sial.

__ADS_1


__ADS_2