Marine Snow

Marine Snow
Ep. 04 : Ajakan Detektif Harold


__ADS_3

Aku ingat betapa penasarannya Natalie Carter tentang gadis yang dicintai Dominic Miller. Wanita itu bahkan mencoba menyogokku dengan sebotol jus jeruk kesukaanku. Dia berkata bahwa akan melakukan apa pun demi mendapatkan informasi akurat tentang gadis idaman sahabatku itu. Katanya, hampir seluruh pegawai wanita lajang di Tennessee Supreme Court berharap dapat memiliki Dominic dan untuk itulah dia menyogokku.


Wajah Dominic Miller tergolong pada tingkat tertinggi. Bertubuh atletis karena menjabat sebagai forward tim basket sejak pindah ke Memphis saat SMP. Memiliki banyak teman dan sangat suka berkumpul dengan berbagai komunitas. Kemampuan analisisnya di atas rata-rata. Itu sebabnya dia sangat pandai dalam matematika dan fisika. Poin terbesarnya terletak pada asset milik keluarga Miller. Posisinya berada di peringkat ketiga dari daftar keluarga kaya Tennessee.


Semua kelebihan itu pasti membuat para wanita silau. Dan itulah takdir ─yang seharusnya dijalani- Dominic Miller. Ingat? Pria itu ikut melarikan diri dari rumah 2 tahun yang lalu.


Karena keberadaanku, pancaran cahayanya sedikit meredup. Kehilangan keluarga dan harta ─sekarang sudah tidak lagi, lalu citranya sebagai pria yang waras. Maksudku, semua orang di Tennessee Supreme Court tahu bahwa Dominic terlalu memujaku, JPU yang tak ramah, dan hampir tidak pernah ada wanita yang bersanding di sampingnya. Mereka mulai berpikir bahwa dia gay.


Dan dengan terlepasnya sebuah rahasia kecil Dominic ─akibat kemarahanku, semua wanita akan kembali mengejarnya. Aku tahu, ini terdengar menyenangkan. Tidak ada lagi kata ‘gay’ yang akan disangkut-pautkan denganku. Namun sebagai seseorang yang selalu bekerja untuk menguak rahasia dan memaparkannya, aku cukup mengenal privilese. Dalam hal ini, Dominic seolah berperan sebagai klien yang menceritakan rahasianya ─gadis yang dicintainya- kepadaku yang sudah berjanji untuk tidak menceritakannya.


Aku melanggar privilese Dominic. Meskipun hanya sedikit. Saat itu aku belum bisa mengontrol emosi, sehingga Natalie tidak mendapatkan apa pun dariku kecuali kebenaran bahwa Dominic memang memiliki seseorang yang dicintai di Memphis. Dia segera menyingkir dan dengan tergopoh-gopoh, menutup pintu ruang kerja kami.


“Ya Tuhan,” gerutuku sebal. Pengulangan adegan Natalie yang merengek sebelum jam makan siang itu kembali mengingatkanku pada penjabaran Dominic tentang gadisnya dan Memphis.


Dominic berkata, seseorang yang spesial itu adalah gadis tercantik di Memphis dan yakin bahwa pendapatku akan sama dengannya. Beberapa hari yang lalu dia pernah bercerita, gadis itu memiliki kebiasaan baru. Jogging di sepanjang Poplar Avenue untuk melihat padatnya jalanan. Aku tidak menghiraukan kelanjutan ceritanya dan langsung menyimpulkan bahwa gadis itu tidak jauh berbeda.


Aneh.


Segera kututup pemikiranku tentang Dominic dan pujaan hatinya. Kemudian, jiwaku kembali pada sebuah café yang berada tak jauh Tennessee Supreme Court. Aku datang ke tempat ini untuk makan siang dan selama menunggu, Hamlet terbuka di tanganku. Seharusnya kuhabiskan ‘waktu menunggu pesanan’ untuk membaca Hamlet, bukan untuk memikirkan mereka.

__ADS_1


“Ini pesanan Anda, Tuan,” ujar seorang pelayan sambil meletakkan tenderloin steak dengan saus lada hitam di mejaku. Dia Marie Campbell ─aku sempat melihat papan namanya beberapa minggu yang lalu. Marie tidak melupakan tata krama sebagai pelayan, tersenyum. Dan seperti biasanya, senyuman itu manis. Satu alasan kuat bagiku untuk datang lagi ke café ini.


“Maaf, aku terlambat, Aiden.”


Harold Burton mengambil posisi tepat di depanku. Dia adalah detektif yang menangani kasus kematian mendadak Tuan William di dalam taksi setelah bertemu dengan Danielle Lincoln. Kami bekerja sama selama penyelidikan berlangsung karena Helga mengatakan bahwa aku harus mendapatkan kasus itu. Aku menurut, dan di sinilah kami. Berusaha menyelesaikan kelanjutan kasus yang melibatkan arsenik itu.


“Tak masalah,” jawabku singkat.


“Satu latte untukku dan tolong gunakan gula rendah kalori,” ucap Detektif Harold kepada Marie yang disambut dengan satu anggukan dan ─untuk kesekian kalinya- senyuman manis.


“Akan segera saya siapkan, Tuan.”


Detektif Harold menatapku yang mulai memotong-motong steak setelah kepergian Marie. “Kau tidak keberatan jika makan siangmu sedikit terganggu?”


Detektif Harold tampak setuju dengan pendapatku. Lagipula, pria yang berusia enam tahun lebih tua dariku itu meminta waktuku di jam makan siang karena pukul 2 nanti dia harus pergi ke Memphis. Salah satu anak buahnya membutuhkannya dan Detektif Harold tidak ingin kehilangan kesempatan emas untuk berpartisipasi langsung.


“Kami menemukan beberapa bangunan yang dicurigai sebagai pusat dari organisasi itu. Kebanyakan, bangunan itu berkedok sebagai kantor sebuah bisnis. Orangku sudah melakukan investigasi lebih lanjut. Mereka berdiri secara resmi. Ada sertifikat dan pemerintah Memphis yang melegalkannya. Kemudian tentang aktivitas mereka. Tidak ada yang mencurigakan kecuali ada beberapa tikus kecil yang beroperasi di sekeliling bangunan itu.”


Latte pesanan Detektif Harold datang tepat waktu. Marie mengulangi etikanya kepada pria beristri yang duduk di hadapanku. Detektif Harold ikut tersenyum, bahkan terus melakukannya hingga Marie menghilang di balik meja kasir. Aku menatap Detektif itu untuk beberapa saat dan mengangkat alis setelah menemukan sebuah kesimpulan.

__ADS_1


Harold Burton akan lebih sering datang ke café ini.


“Kau bisa melanjutkannya, Detektif.” Aku mulai bersuara agar dapat mengembalikan Detektif Harold ke dalam dunia nyata. Organisasi penjahat Memphis, jam makan siangku yang hampir habis, dan Latte yang masih mengepulkan asap.


Dia berdehem beberapa kali, lalu mengecap Latte-nya. Setelah selesai, Detektif Harold menutupi rasa malunya dengan tersenyum ramah. “Maaf, Aiden. Gangguan seperti ini bisa kau temui tanpa memandang status dan kondisi,” ujarnya.


Aku mengerti status seperti apa yang sedang dibicarakannya. Ikatan pernikahan. Kedua bahuku lantas terangkat, kemudian berusaha meyakinkan Detektif Harold bahwa aku tidak peduli melalui tatapanku. Dan sepertinya dia mengerti. Bahkan reaksinya tergolong cepat sehingga dia sadar bahwa aku tidak memiliki cukup banyak waktu untuk mendengar penjelasannya.


“Laporan singkat yang kau berikan sebelum jam makan siang sangat berguna bagi kami.” Detektif Harold mulai meningkatkan level keseriusannya. Dia menambahkan. “Kami bisa mencoret beberapa gedung dan menyisakan dua untuk diselidiki lebih lanjut. Kau sangat brilliant, Aiden! Sejak persidangan itu, aku sudah mencoba meminta data pemilik rekening itu pada bank dan nihil. Pagi ini, aku baru saja mengirimkan fax dan kau sudah mendapatkan nama pemiliknya!”


Ini berkat Natalie Carter. Jika wanita itu tidak bertunangan dengan kepala HRD bank tempat Danielle Lincoln menyimpan uang, maka pertemuan makan siang ini tidak akan terjadi. Lelaki itu, Barry Powell, mampu memberikan apa pun untuk tunangannya. Aku berani bertaruh apabila Natalie meminta salinan atas seluruh catatan rekening seluruh nasabahnya, Barry Powell akan menyanggupi. Dia sudah dibutakan oleh cinta.


“Sebenarnya aku datang ke sini juga untuk menawarkan sesuatu kepadamu.” Ucapan Detektif Harold sedikit memunculkan perasaan tak nyaman pada diriku. Ketika pria itu kembali membuka suara, aku terdiam. “Aku tahu jika Jaksa tidak dianjurkan turun ke lapangan. Tetapi, bagaimana jika kau ikut denganku ke Memphis? Kudengar dari Dom, kalian berasal dari sana. Tidakkah kau ingin mengunjungi ayah, ibu, atau adikmu? Kau bisa saja mampir, bahkan menginap di rumahmu. Bagaimana? Apa kau men─”


“Aku akan sangat senang jika kau mau mentraktir makan siangku ini, Detektif Harold,” ucapku sambil berdiri dari kursi.


Kuatur alur pernafasku. Membiarkan rasa sesak dalam dadaku mengalir lepas melalui setiap hembusan ini. Kedengarannya memang mudah. Tetapi bagiku, mengendalikan emosi yang selalu muncul seiring dengan kilatan masa lalu, sungguh sesuatu yang menyakitkan. Rasanya seperti sedang menahan pisau yang memiliki dua ujung runcing. Jika kulepas, ujungnya akan menimpa orang lain ─seperti kejadian tadi pagi. Sebaliknya, dengan menahan pisau itu, aku sendiri yang akan terluka.


Ironis.

__ADS_1


“Maaf, Detektif Harold. Aku tidak akan pergi ke neraka itu untuk selama-lamanya.”


Hal yang kuingat setelah itu adalah wajah Detektif Harold yang mengasihaniku, pintu café yang kututup dengan kencang, dan jalanan lengang Seventh Evenue. Jam makan siang sudah lima menit berlalu. Mendadak, aku merasa sangat kecewa karena rekor makan siang tepat waktuku rusak.


__ADS_2