Mas Dosen-Ku

Mas Dosen-Ku
Kabur


__ADS_3

Jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN, SHARE yaaa gaes....


\~\~\~


Kenapa rasanya sungguh menyesakkan...


Aku berjalan sambil menyeka air mataku yang turun dengan derasnya.


Pikiranku buntu, kenapa mas galen makan bareng sama cewek lain? Mereka bahkan keliatan sangat dekat. Apa benar mas galen selingkuh? Kenapa?


Aku memilih pergi ke tangga darurat, karna hanya tempat itu yang sepi.


“ Hiks... kenapa mas...” sesak sekali dadaku membayangkan kebersamaan mas galen dengan wanita lain.


Nayara


Mas, kamu di mana?


Agak lama aku menunggu balasan mas galen, apa dia masih sibuk dengan wanita itu?


Mas Suami


Kerjalah


Ya Allah... kenapa jawabannya ketus banget, aku semakin sesenggukan. Apa benar mas galen punya wanita lain? Dia berubah...


“ Hiks... tega kamu mas... sakittt... kenapa kamu giniin aku mas...” aku sungguh tak sanggup menahan tangisanku, seperti ada belati tajam yang menusuk jantungku, sakitt sekali...


Apa karna aku belum juga memberikan mas galen anak? Maka dia seenaknya mencari perempuan lain. Padahal aku juga bukan ngga mau punya anak tapi memang Allah belum memberikannya.


Apa mas galen udah bosen sama aku? Tadi pagi juga dia marah karna aku susah bangun, padahal selama ini dia ngga pernah seperti itu hiks...


Ya Allah... sakit banget hatiku...


Aku harus meminta penjelasan mas galen!


Setelah berusaha mengatur emosi dan menghentikan tangisanku, aku langsung pergi menuju ruangan mas galen.


Untung saja jam istirahat udah selesai jadi lift juga udah sepi.


“ Mbak mas galen di dalem? “ tanyaku langsung pada mbak hera yang memang mejanya berada di depan ruangan mas galen.


“ Loh nay... kamu kenapa? “ tanya mbak hera, mungkin ia terkejut dengan penampilanku yang berantakan, kerudung acak-acakan, mata sembab, bibir pucat.


“ Mas galen di dalem? “ tanyaku lagi tanpa menjawab pertanyaan mbak hera


“ Iya tapi... “


Aku langsung berbalik membuka pintu ruangan mas galen dengan kasar bahkan tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


“ Astaga...” aku bisa mendengar suara mbak hera di belakangku


Tatapanku nanar melihat mas galen di depanku, rasanya benar-benar hancur.


Bagaimana mungkin wanita yang ada di cafe tadi sedang duduk di pangkuan mas galen? Jangan katakan dugaanku benar bahwa mas galen memiliki perempuan lain.


“ Ouh... opps sorry... “ ujar wanita itu yang segera bangkit berdiri dari pangkuan mas galen.


“ Aku mau bicara “ ucapku menatap mas galen, mencoba mencari perasaan bersalah dari matanya.


“ Bisa keluar dulu? “ aku beralih pada si wanita

__ADS_1


Lihatlah! Wanita itu bahkan menatap mas galen dulu seolah meminta persetujuannya untuk keluar dari ruangan ini!


Blam


Setelah terdengar suara pintu yang di tutup, aku berjalan mendekati mas galen hingga berdiri di hadapannya berbataskan meja kerja.


“ Siapa dia? “ tanyaku dengan masih menatap mata mas galen.


“ Klien. “ sahut mas galen tampak santai


“ Kamu bohong! “ ucapku dengan penuh penekanan


“ Tidak ada rekan kerja yang duduk berpangku-pangkuan! “


“ Dia ngga sengaja jatuh, kamu jangan kekanakan nay! “ seru mas galen


“ Kamu bohong mas... “ ucapku lirih, aku berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh di hadapan mas galen.


“ Terserah kamu lah! Aku udah ngomong apa adanya! Aku pusing sama masalah kerjaan, kamu jangan bikin aku tambah pusing! Kekanakan! “ seru mas galen bahkan sampai menggebrak meja.


Hancur sudah.


Aku langsung berbalik dan berlari keluar dari ruangan mas galen, tanpa memperdulikan teriakan mbak hera yang memanggilku.


Dengan membawa ponsel dan dompet saja, aku pergi meninggalkan kantor dan menghentikan taksi yang kebetulan lewat. Di dalam taksi tangisku langsung pecah, sakit sekali dadaku ini.


Tanpa menghiraukan panggilan mas galen, aku mematikan ponselku.


“ Emm mbak, ini kita mau ke mana ya? “ tanya supir taksi


“ Hiks... jalan aja dulu pak.. “ ucapku dengan sesenggukan.


Akhirnya aku turun di sebuah taman, masih di kawasan jakarta. Kebetulan taman ini sepi jadi aku bisa menangis sepuasnya.


Terlalu lama menangis membuat kepalaku pusing, aku butuh tidur sekarang juga. Tapi aku jelas tidak mau pulang ke rumah, apalagi ke rumah mama itu mustahil.


Saat mengedarkan pandangan, aku melihat sebuah hotel. Baiklah aku akan tidur di hotel saja.


“ Selamat sore ada yang bisa saya bantu? “ sapa resepsionis ramah


“ Mbak saya mau pesan kamar hotel. “ ucapku dengan suara serak


“ Baik mau kelas barapa? “


“ Presidental suit. “ anggap saja balas dendam, aku akan menghabiskan uang mas galen sebanyak mungkin.


“ Ya? Bisa di ulangi kak? “ dengan tidak sopannya si resepsionis memandangku dari atas hingga bawah, aku tau penampilanku memang sangat tidak meyakinkan. Apalagi aku habis menangis berjam-jam.


“ Huufftt Presidental suit mbakk.... “ ucapku lagi


“ O-oh baik... pembayarannya mau.... “


Belum selesai ucapan resepsionis aku lebih dulu meletakkan black card yang di berikan mas galen, sungguh aku ingin tidur sekarang juga!


Setelah diberi tau di mana kamarku berada, aku langsung pergi meninggalkan lobi.


Nafasku tiba-tiba sesak saat aku masih di lift, kepalaku berkunang-kunang. Aku berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak pingsan sebelum sampai di kamar.


Cklek


Baru saja menutup pintu, kepalaku semakin pusing, matakuu bahkan mulai buram.

__ADS_1


Terakhir yang ku ingat adalah aku menjatuhkan tubuhku ke kasur.


***


Di sisi lain, galen terlihat kelimpungan mencari istrinya.


Bodoh!


Umpatnya dalam hati, sangat merutuki perbuatannya hari ini, ia tampak sangat menyesal.


“ Hemm mungkin naya udah pulang ke rumah. “ gumamnya lirih, akhirnya galen memutar kemudi menuju rumahnya.


Setelah mobil terparkir rapi di garasi rumahnya, setengah berlari ia memasuki rumah yang tampak berbeda dengan biasanya.


Ada keluarganya di sana, sang ibu mendekati putra pertamanya dengan senyum cerah, seolah memang sedang menunggu kedatangannya.


“ Len, naya mana? “ tanya sang ibu tak sabar


“ Naya ngga ada di rumah ma? “ galen justru menjawab pertanyaan sang ibu dengan pertanyaan.


“ Hah! Ya enggak lah. Kan harusnya sama kamu... “ seru ibunya


“ Arrgghhh.... “ galen meremas rambutnya kasar, seolah dengan begitu naya akan berada di sampingnya.


“ Kenapa len, ada apa? “ tanya ibunya panik


“ Naya pergi maa..... galen udah cari-cari tapi ngga ketemu! “ seru galen kesal, ia kesal dengan fakta bahwa istrinya pergi karena dirinya.


“ Telfon, ayo cepet telfon hp nya...! “ seru sang ibu


“ Udah ma... tapi ngga diangkat, sekarang malah ngga aktif sama seklia. “ ujar galen seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


“ Harusnya ngga gini len! “


“ Coba kita tenang dulu, kamu udah tanya satpam kantor kamu kemana naya pergi? “ tanya sang ayah


“ Udah pa, naya naik taksi galen udah berusaha nyari tapi tetep ngga ketemu, ke rumah sinta, kosannya vira pun ngga ada. “ sahut galen dengan cepat


“ Kamu udah coba cek transaksinya naya? Siapa tau dia sempet pakai kartu dari kamu. “


“ Oh iya....! “


Galen pun terlihat menghubungi seseorang, hingga tak berapa lama ia pun mendapatkan jawaban di mana naya sebenarnya.


“ Di hotel kita pa. “ seru galen dan langsung berlari ke mobilnya, ia ingin segera memeluk istrinya dan meminta maaf.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2