Mas Dosen-Ku

Mas Dosen-Ku
END


__ADS_3

A/N


Sedari awal aku nulis cerita ini ngga pernah ngebayangin akan sampe sepanjang ini haha, aku pikir nulis 30 eps aja udah wahh banget karna ini first time aku nulis novel. Tapi ternyata aku bisa sampe sejauh ini hehe, hal ini ngga lepas dari kalian semua para readers tercintaku....


Maafkanlah author baru ini yang masih belajar, mohon maaf untuk setiap typo yang aku tulis dan mungkin alur cerita yang absurd ngga jelas hehe.


dan Terimakasih sekali kalian mau meluangkan waktu kalian untuk baca cerita pertamaku,


i love you all...


and see you in the next story..


\~\~\~


“ Mas, kamu ke kantor aja deh... aku baik-baik aja kok..”


“ Ngga sayang, mas mau temenin kamu di rumah.. “


“ Ke kantor aja sana... lagian di rumah juga ada bibi sama supir kok.. udahh.. kamu ke kantor aja sekarang.. “


“ Heemm ya udah deh, kalo kamu maksa. Tapi inget ya, kalo ada apa-apa langsung telfon.”


“ Siap sayang.... “


Saat aku sedang rapat tiba-tiba aku mendapat telfon dari rumah, langsung saja perasaanku jadi ngga enak.


“ Halo say..”


“ Mashh... akhh, to-tolong... akhh sakit mas....”


“ Halo... kamu kenapa? Kamu di mana? “


“ A-aku jatuh mas di kamar mandi.. akhh to-tolong mas...”


“ Halo? Sayang? Mas pulang sekarang oke....”


Jantungku berdegub sangat cepat, aku kesetanan saat membawa mobil, tanganku bahkan sampai gemetar walaupun aku sudah sekuat tenaga berusaha untuk tenang. Tapi ini masalah istri dan anakku, tentu aku tak akan bisa tenang.


Jalan ke rumah yang biasa ku tempuh setengah jam sekarang terasa sangat lama, saat akhirnya sampai di rumah aku berbegas keluar mobil yang belum sempat ku matikan, dan berlari sekencang mungkin mencari istriku.


Sesampainya di kamar aku menemukan istriku tergeletak di lantai kamar mandi dengan bersimbah darah, dengan gemetar aku segera menggendongnya untuk ku bawa ke rumah sakit.


“ Dokter.. bagaimana keadaan istri dan anak saya? “


“ Maaf pak, kami sudah berusaha semampu kami tapi Tuhan berkehendak lain... kami tidak bisa menyelamatkan bayinya.. “


“ A-apa... anakku...”


“ Yang sabar pak, ini sudah takdir Tuhan... saya permisi pak.. “

__ADS_1


“ Tidak, tidak mungkin... hiks..hiks.. TIDAKKKK......”


“ Hiks...Hiks...”


“ Mas? Kamu kenapa? “ tanyaku heran melihat mas galen


“ Bayinya mati nay... hiks...”


“ Haduhhh sinetron lagi... sinetron lagi...” ucapku seraya mengelus dada agar lebih sabar menghadapi mas galen yang semakin hari semakin aneh. Lihat saja, dia sendiri yang menonton sinetron dia juga yang nangis.


“ Udah ah, kamu mending kerja aja mas, ke kantor sana dari pada di rumah kerjaannya cuma makan sama nonton sinetron.. “ omelku


“ Ngga! Mas kan harus jadi suami siaga, dede bentar lagi lahir loh yang..”


“ Pusing aku liat mas galen di rumah kelakuannya aneh terus, tiap hari nangis kalo nonton sinetron. Mas lupa? Aku tuh ngga boleh stress apalagi udah deket lahiran. Makanya kamu mending ke kantor aja, biar aku bisa tenang di rumah.. “


“ Hiks... kok gitu...”


“ Terserah mas ajalah.. “ naya memilih pergi ke kamar karna ia merasa perutnya tegang.


Sebenarnya galen memilih diam di rumah adalah karna seminggu yang lalu naya mengalami kontraksi palsu, ini pertama kalinya bagi mereka tentu hal itu membuat panik keduanya namun saat ke rumah sakit dokter bilang hanya kontraksi palsu. Perkiraan dokter memang masih dua minggu lagi, tapi karna kejadian seminggu lalu galen memilih menjadi suami siaga dan menemani naya di rumah.


Cklek


“ Sayang... jangan marah... “


“ Nanti kalo kamu lahiran kaya di sinetron tadi gimana? “


“ Ya udah tinggal ke rumah sakit lah mas... “


“ Tapi mas...”


“ Ke kantor sekarang mas!” ucaplu tegas


“ Ya udah deh mas ke kantor sekarang, tapi kalo ada apa-apa langsung telfon oke..? “


“ Iyaa...”


Baru dua jam mas galen pergi, perutku tiba-tiba mules. Tapi aku berusaha tenang dan tak berapa lama sakitnya berangsur hilang, ini pasti kontraksi palsu.


***


Dugaanku salah! Sampai jam tiga sore sakitnya justru semakin bertambah, akhirnya aku memutuskan ke rumah sakit dengan bibi dan supir yang ada di rumah.


Sampai di rumah sakit ternyata benar aku akan melahirkan, dokter bilang baru pembukaan lima tapi rasanya sangat sakit, apalagi saat pembukaan sudah lengkap nanti? Aku jadi teringat ibu.


Akh! Benar, aku belum mengabari siapa-siapa.


Aku memilih menelfon mama terlebih dahulu, setelahnya aku mengabari ibu agar bisa ke jakarta sekarang. Dan terakhir mas galen, tapi... aku tidak akan menelfon mas galen! Aku akan mengabari asistennya saja.

__ADS_1


“ Halo selamat sore bu, ada yang bisa saya bantu? “


“ Roy... dengarkan saya! Saya sekarang di rumah sakit, akan melahirkan. Kamu tolong antar bapak ke rumah sakit ya, tapi kamu jangan bilang saya mau lahiran, bapak pasti bakal panik. Jadi kamu bilang aja disuruh saya untuk menemui saya..”


“ Baik bu, akan saya lakukan “


“ Saya ada di ruang VVIP 3, kamu bisa langsung antar bapak ke sini oke.. “


“ Baik, siap bu.. “


Hufftt kontraksinya datang lagi, saat aku sedang mengatur nafasku untuk menahan rasa sakit dari kontraksi mama akhirnya datang.


“ Nayy...”


“ Ma...akh..” panggilku lirih


“ Ssstt sabar ya sayang... “ mama berusaha menenangkanku dengan mengusap punggungku.


BRAK


“ Sayang...” mas galen tampak sangat khawatir, sepertinya ia berlari dari parkiran ke ruanganku dilihat dari kemejanya yang basah dengan keringat.


Belum sempat aku menjawab mas galen, kontraksi kembali datang membuatku menggigit bibir menahan sakitnya.


“ Akhh... sakit banget ya yang? ” Lihatlah dunia yang terasa terbalik ini.


Aku yang sedang mengalami kontraksi tapi mas galen yang mengaduh, melihat hal itu bukannya membuatku tenang malah membuatku semakin mulas saja.


Beberapa jam kemudian aku lewati dengan penuh kesabaran, sakitnya kontraksi membuatku sadar bahwa tugas perempuan sangatlah mulia, mengandung, melahirkan dan merawat anak. Sekitar pukul delapan malam pembukaanku sudah lengkap, dokter pun segera memberi instruksi untuk memindahkanku ke ruang bersalin.


***


Setelah lewat beberapa waktu, lahirlah putra pertamaku dan mas galen, yang seperti fotocopyan mas galen, hanya warna matanya saja yang sama denganku, hitam pekat.


Semua orang menyambut antusias anggota keluarga yang baru lahir ini.


“ Gantengnya cucu grandma....”


“ Mirip banget sama galen ya..”


“ Ma... alin juga mau gendong...”


“ Jadi namnya siapa nduk? “ tanya ibuku


Aku tersenyum menatap mas galen yang juga tersenyum haru menatapku.


“ Gustave Narda Abrisam, Raja pembawa kebahagiaan dari keluarga Abrisam. “


END.

__ADS_1


__ADS_2