
bukh..
"apa yang kau lakukan terhadap adikku sialan.."marah Jakson lagi-lagi menonjok wajah ayah Clarissa
*****
"shhhk.."ringis ayah Clarissa
"tenangkan dirimu Jakson.."ucap Afgan menenangkan Jakson
sementara Bryan juga berusaha mengetuk-ngetuk pintu
ayah Clarissa juga ikutan khawatir. tiba-tiba ia ingat jika ia mengunci pintu kamar Clarissa, dengan ragu-ragu iapun berucap
"aku l-lupa k-kalau a aku mengunci pintu nya.."ucapnya gugup
bukh..
lagi-lagi ia di tonjok oleh Jakson, dan tersungkur
"shhhk.."
"Jakson sudah, sekarang yang lebih penting kita harus mengetahui keadaan adik lu.."ucap Bryan serius
"tumben nih anak pinter.."guman Afgan menyeritkan keningnya
karena Bryan terkenal dengan tingkah konyol nya dan absrudnya.
tidak pernah serius atau bersikap dewasa, jadi Afgan heran
"dimana kau menaruh kunci nya sialan?.."tanya Jakson dingin menahan amarahnya
"i-itu ada dikamar ku.."jawab ayah Clarissa sedikit gugup
"sial padahal aku yang lebih tua disini, tapi bocah sialan ini membuat ku takut.."batin ayah Clarissa
__ADS_1
"bodoh, kenapa Lo masih ada disini CEPAT BAWA KUNCI NYA KEMARI KALAU TIDAK-..."ucap nya dingin terpotong Karna ayah Clarissa sudah cepat-cepat pergi dari sana
"itu paman Lo goblok.."tegur Afgan
"bodoh amat, orang sikapnya aja mudah di manfaatkan oleh kedua j***** itu, itu buka sifat keluarga xxxxx.."ucap Jakson bodoh amat
"iya juga sih kalau dipikir-pikir juga, sifat ayah Lo beda banget dengan paman Lo ini.."ucap Afgan
"lah pada gibah kagak khawatir Lo dengan keadaan adik Lo didalam sini.."ujar Bryan ngegas
"ini kuncinya.."ucap ayah Clarissa yang juga terlihat cemas dengan keadaan Clarissa
oiya btw ini sudah jam setengah dua belas.
Karena Clarissa tadi pulang nya jam setengah sepuluh kan dan ia nangis lebih dari sejam man
Jakson pun buru-buru merebut kasar kunci itu dan membuka pintu
ceklek
"Clarissa Lo dimana?.."cari-cari Jakson dengan khawatir
ayah Clarissa pun menuju sekler lampu, untuk menyalakan lampu.
setelah itu lampu pun menyala dan memperlihatkan seisi kamar yang sedikit berantakan
Jakson buru-buru mendekati tempat tidur Clarissa, karena ia melihat di kasur Clarissa ada pergerakan
"Clarissa.."ucap Jakson membuka selimut itu
dan terlihat lah Clarissa yang rambutnya masih basah, dan sedang menggigil
"Clarissa kamu kenapa?.."tanya cemas Jakson
deg
__ADS_1
Jakson pun tampak patung melihat Clarissa yang pucat dan sedikit bergetar
"d dingin.." lirih Clarissa
"dia deman Jakson.."ucap Bryan yang memegang dahi Clarissa
ayah Clarissa buru-buru mendekat
"jangan menyentuh adikku.."ucap Jakson kasar mendorong ayah Clarissa
"t tapi dia adalah anaknya.."ucap ayah Clarissa
"loh baru ngakuin Clarissa anakmu setelah selama ini kau mengabaikan nya hah.."marah Jakson
"kamu salah paham, aku tidak pernah mengabaikan nya hanya saja ak-.."bela ayah Clarissa
"aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun darimu sialan.."ucap Jakson dingin
"d dingin.."lagi-lagi Clarissa bergumam lirih
"Jakson ini bukan saatnya Lo marah, kita harus segera membawa Clarissa ke rumah sakit sebab demam nya sangat tinggi.."ujar Bryan kesal
entah mengapa ia tiba-tiba kesal sendiri karena Jakson daritadi marah marah gak jelas doang.
karena selama ia kenal dengan Jakson baru kali ini ia melihat Jakson bertingkah bodoh begitu
"iya betul kata Bryan.."ucap Afgan juga
"aku yang akan mengantar Clarissa.."ucap ayah Clarissa berniat ingin mengendong Clarissa
"JANGAN MENYENTUH NYA, biar aku saja yang membawanya.."ucap Jakson dingin
.
.
__ADS_1
.