
Rianoir menatap ke dalam kedalaman labirin gelap yang terbentang di depannya. Waktunya seperti kembali lagi, sebelum dia bertemu dengan malaikat pengabul permintaan. Semuanya menghadirkan kembali kenangan pahit yang pernah ia alami.
Monster-monster dan makhluk hidrida yang telah dihasilkan dari eksperimen yang tercela ini sekarang menantangnya dengan keabadian mereka. Rianoir menyadari bahwa untuk membasmi mereka, satu-satunya cara adalah dengan menghancurkan inti dungeon yang diciptakan oleh Professor Tiffalian, manusia yang telah berkhianat dengan kegilaan ilmiahnya.
"Ini semua ulah sang profesor."
"Bagaimana bisa dia berbelok arah dari tujuannya semula?"
Rianoir teringat pertemuan pertamanya dengan Professor Tiffalian. Ketika itu, professor terlihat seperti seorang ilmuwan jenius yang cerdas dan penuh dedikasi dalam penelitiannya. Rianoir memercayai keahlian dan niat baik professor untuk meningkatkan pemahaman manusia tentang makhluk-makhluk supernatural. Namun, apa yang terjadi setelahnya mengubah segalanya.
Professor Tiffalian mulai melangkah ke jalan yang gelap, mencampurkan DNA manusia dengan monster dalam upayanya untuk menciptakan makhluk hybrid yang lebih kuat. Ia mengabaikan batasan etika dan mengabaikan akibat dari tindakannya. Dalam dunia penuh kehidupan dan kematian yang rapuh, professor beranggapan bahwa keabadian adalah puncak dari eksistensi. Namun, Rianoir tidak sependapat.
Eksperimen tersebut berujung pada monsternya yang tidak murni lagi. Makhluk-makhluk itu merajalela dengan keabadian yang menakutkan. Mereka tidak bisa mati, tidak bisa dikalahkan oleh waktu atau usia. Sebagai pemburu monster berpengalaman, Rianoir merasakan tanggung jawabnya untuk menghentikan kegilaan professor dan mengakhiri keberadaan monsternya yang ganas.
"Apakah kemampuan yang aku miliki tetao tangguh dan kuat seperti sedia kala?"
"Dari mana aku harus memulainya?"
Rianoir merenungkan situasi yang rumit ini. Bagaimana ia bisa menghancurkan inti dungeon yang memberikan kehidupan abadi kepada makhluk-makhluk itu? Apakah ada titik lemah atau kelemahan yang bisa dieksploitasi? Ia memutuskan untuk mencari jawabannya sendiri.
Pada malam yang gelap dan sunyi, Rianoir menyelinap ke laboratorium Professor Tiffalian. Ia berusaha mencari petunjuk atau catatan yang bisa membantu mengungkap rahasia inti dungeon. Namun, apa yang ia temukan hanyalah bukti kegilaan professor yang semakin dalam.
Rancangan, sketsa, dan catatan eksperimen terlarang menghiasi laboratorium itu.
Rianoir akhirnya mencuri catatan tersebut untuk dia bawa pulang, dan akan mempelajarinya sendiri di rumah.
"Ini benar-benar gila!"
Dengan hati-hati, Rianoir kembali keluar dari laboratorium milik Profesor Tiffalian.
***
Setelah berhari-hari mempelajari dokumen-dokumen tersebut, Rianoir menemukan informasi penting tentang inti dungeon. Professor Tiffalian, dalam kegilaannya, memperoleh energi vital untuk menjaga keabadian monster-monsternya dari suatu sumber yang kuat, yang ditanamkan dalam inti dungeon. Ternyata, dungeon core adalah kunci untuk memutuskan kehidupan abadi mereka.
Dengan penemuan ini, Rianoir menyusun rencananya untuk mencari inti dungeon.
Semua persiapan untuk petualangan ke inti dungeon sudah dipersiapkan. Rianoir berangkat dan berjalan seorang diri dengan niatan dan tekad yang kuat.
Rianoir, dengan tekad yang menggebu-gebu, berbicara sendiri dalam keadaan yang tegang di hadapan inti dungeon yang terang benderang ada di tangannya saat ini.
__ADS_1
"Professor Tiffalian, kau telah melangkah terlalu jauh dalam kegilaanmu! Aku tak bisa membiarkan monsternya yang tidak bermoral ini meneror dunia ini selamanya. Aku akan menghancurkan dungeon core ini dan mengakhiri keabadian mereka!"
Sambil menatap inti dungeon dengan tajam, Rianoir melanjutkan dengan perasaan marah yang membara, "Kau telah memanipulasi takdir alam semesta ini dengan eksperimen terlarang mu. Kehidupan tidak bisa diubah sesuka hatimu! Kini saatnya aku mengembalikan keseimbangan yang telah kau ganggu!"
Rianoir merenung sejenak, mengumpulkan pikiran dan strategi. Dia mengetahui bahwa untuk berhasil menghancurkan inti dungeon, ia harus mencari jalan masuk ke dalam dan mengatasi setiap rintangan yang ada.
"Dungeon ini mungkin dijaga dengan segala jenis perangkap dan penjagaan. Tetapi aku tidak akan mundur! Aku telah melawan monster-monster yang lebih buruk lagi. Aku memiliki kekuatan dan keberanian yang diperlukan untuk melawan kejahatan mu, Professor Tiffalian!"
Dengan tekad dan keberanian yang memenuhi hatinya, Rianoir berteriak dengan penuh semangat, "Hari ini, aku bertindak demi semua yang tidak bersalah yang telah kau jadikan korban eksperimen gila ini! Aku akan membuktikan bahwa kebenaran dan keadilan akan selalu mengalahkan kegelapan dan kekacauan!"
Kemudian, dengan langkah mantap, Rianoir melangkah maju menuju pintu masuk labirin gelap menuju inti dungeon. Dia mengingat semua pelajaran dan pengalaman yang pernah dia peroleh sebagai pemburu monster di dalam tutorial. Ia tahu bahwa misi ini bukan hanya tentang menghancurkan inti dungeon, tetapi juga menghentikan kebiasaan baru Professor Tiffalian dan mencegahnya melakukan kejahatan lebih lanjut.
"Sampai jumpa, Professor Tiffalian. Aku akan mengakhiri kegilaanmu dan membebaskan dunia ini dari teror makhluk-makhluk yang tidak manusiawi ini. Aku adalah harapan terakhir bagi semua yang tak berdaya. Dan aku tidak akan mengecewakan mereka!"
Drap drap drap
Slupp
Brakkk
"Auhh!"
"Ehhh..."
Di dalam labirin yang gelap dan berbahaya, Rianoir terus melaju melalui lorong-lorong sempit yang dipenuhi dengan jebakan dan penjagaan yang dirancang oleh Professor Tiffalian. Dia melawan setiap monster ciptaan profesor dengan keahlian bertarungnya yang luar biasa.
Aughhh...
Dalam pertarungan pertamanya, Rianoir dihadapkan dengan makhluk berkepala tiga, setengah manusia setengah serigala.
Awghhh...
Sluuuttt
Makhluk itu mengeluarkan raungan yang mengerikan saat melompat maju untuk menyerang Rianoir.
Rianoir bernapas dengan berat. "Hhh... Kau tidak akan bisa mengalahkan aku, monster! Aku akan menghancurkan inti dungeonmu dan mengakhiri eksistensimu yang tidak manusiawi!"
Monster tersebut mengeluarkan suara menggeram yang menggema di seluruh labirin.
__ADS_1
Aughhh...
Waghhh wahhhh
Awghhh...
"Manusia lemah! Aku akan menghancurkan mu!" teriak monster tersebut setelah mengeram keras.
Rianoir berdiri tegak dengan sikap percaya diri. "Kekuatanmu tidak akan membuatku gentar! Aku telah melawan monster-monster yang jauh lebih kuat dari dirimu!"
Sekarang, Rianoir mulai mengayunkan pedang dengan kekuatan misterius miliknya.
Srettt
Monster bergerak cepat, meluncur maju dengan kecepatan yang mengejutkan.
"Kau hanyalah seorang manusia! Aku akan menelanmu hidup-hidup! Hohoho..."
Rianoir juga cepat menghindari serangan monster tersebut dengan gerakan yang lincah. "Kecepatanku akan mengalahkan kekuatanmu! Aku tidak akan membiarkan diriku menjadi santapan mu!"
Sreettt
Brukkk dug tag bug
Sleep jleb
Awghhh...
Drap drap drap
Slass
Brukkk
Dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa, Rianoir menghindari serangan itu dengan gesit dan menyerang dengan pedangnya yang terhunuskan dengan energi magis. Dia menebas kepala monster itu dengan gerakan yang tajam dan cepat, mengakhiri nyawanya yang tidak manusiawi.
"Huhfff... hahhh..."
Nafas Rianoir memburu dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh dan pakaiannya, setelah berhasil dalam pertarungannya kali ini. Dia berpikir bahwa monster-monster hibrid ciptaan Profesor Tiffalian memang tangguh dan kuat, tidak mudah untuk ditaklukkan.
__ADS_1