
Tak terasa sudah 8 tahun berlalu dan pada akhirnya aku tak bisa melakukan apapun untuk merubahnya. Namun tetap saja rindu adalah hal yang sulit untuk di hilangkan, bahkan sudah sewindu berlalu dan rasa itu tetap ada.
Ada yang pernah bilang.
"apa yang kita genggam belum tentu menjadi milik kita"
dan itulah yang akan ku ceritakan kepada kalian. Kisah tentang sebuah kerinduan dan penyesalan.
Banyak yang bilang masa putih abu-abu adalah masa yang sulit untuk di lupakan. begitu banyak kenangan indah dan juga suka-duka di masa itu.
Tak terkecuali denganku, aku tak luput dari hal tersebut. Aku pernah jatuh hati dengan Seorang gadis bernama Risa sejak kelas satu SMA.
Tak ada yang spesial dari dirinya kecuali kepandaiannya dalam pelajaran matematika dan sains. Hanya saja aku sangat menyukai senyumannya. Senyum indah yang membuat jantungku berdegup kencang tiap kali melihatnya.
Tapi, aku hanya lelaki pendiam. Aku tak pandai mengakrabkan diri dengan seseorang bahkan temanku pun bisa di hitung dengan satu tangan.
Aku selalu mencuri kesempatan untuk memandang wajahnya karena hanya itu yang bisa ku lakukan. aku tak memiliki keberanian untuk mengajaknya bicara dan hanya bisa memandanginya dari kejauhan. Pecundang, kurasa itulah kata yang pantas terlontar untukku.
Mungkin hingga akhir kelulusan nanti aku tak akan bisa hanya untuk sekedar menyapanya.
__ADS_1
Namun, beberapa bulan menjelang kelulusan sekolah dewi fortuna sepertinya berpihak padaku. aku satu kelompok dengannya untuk mengerjakan tugas akhir sekolah. ku rasa Tuhan menjawab segala penatianku selama 2 tahun ini.
Untuk pertama kali akhirnya aku bisa berbicara dengannya. sungguh itu adalah hadiah terindah sebelum kelulusan sekolahku dan juga menjadi kenangan yang tak akan ku lupakan dalam hidupku.
Aku adalah seorang pemalu. Aku selalu memalingkan wajahku saat bertatapan dengan wajahnya. Tapi Risa selalu saja pandai memulai topik pembicaraan.
Hingga tiga bulan berlalu dan tanpa terasa aku mulai terbiasa dan tak malu lagi ketika berbicara dengannya.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu dan besok pagi adalah wisuda kelulusan sekolahku. meskipun aku mulai akrab dengannya namun aku masih belum bisa mengutarakan perasaanku padanya. Bahkan aku sempat berfikir untuk menyimpan perasaan ini dalam-dalam.
Tapi, aku tak ingin membuat hari terakhir kelulusanku besok menjadi sebuah penyesalan. Aku harus menyatakan perasaanku padanya besok.
Risa telah mendapat undangan dan beasiswa resmi dari universitas bergengsi di sana setelah ia memenangkan olimpiade sains pelajar tingkat Asia.
Aku mulai menyusun rencana pernyataan cintaku malam ini. aku harus membeli bunga di toko kak Rere.
Alarm berdering memekakan telingaku pagi ini, aku begitu bersemangat. Aku bergegas mandi dan berganti pakaian untuk upacara wisuda dan mampir terlebih dahulu untuk membeli bunga di toko kak Rere. meskipun ini masih jam 6:30 pagi.
aku harus cepat-cepat pergi membeli bunga jika tidak aku akan terlambat untuk mengikuti upacara kelulusan dan semua rencana pernyataan cinta yang ku susun semalaman akan hancur.
__ADS_1
Untunglah semua sesuai dengan yang aku rencanakan. Tinggal mengirim pesan kepadanya untuk datang ke taman di samping sekolah setelah acara kelulusan selesai. Aku tak bisa mengatakannya di sekitar area sekolah itu akan membuatku malu karena di lihat banyak teman sekelas.
Ini membuat jantung berdegup kencang. jujur saja ini pertama kalinya aku melakukan hal ini. Meskipun sesuai dengan rencana yang ku susun tapi aku tetap merasa gundah.
Aku tak memikirkan penolakan cinta darinya. Aku hanya ingin ia tahu bahwa ada seorang lelaki culun yang mencintainya selama ini dan dia adalah aku.
Namun itu adalah awal dari tragedi yang merubah hidupku. Awal dari sebuah penyesalan yang sungguh menyakitkan.
Sudah lebih dari 30 menit aku menunggu kedatangannya tapi aku tak merasakan kehadirannya. aku menghela nafas sejenak dan menengadahkan kepalaku menghadap langit.
Tak berselang lama tiba-tiba aku mendengar suara dentuman keras di arah jalan. Langsung saja aku mencari asal suara tersebut.
Mataku langsung tertuju pada sebuah keramaian di tengah jalan. aku bergegas lari menuju kerumunan tersebut.
Sesampainya di sana bibirku menjadi kelu, tubuhku menjadi lemas bahkan seolah tak mampu lagi menopang berat tubuh. Sebab di sana tergelatak tubuh Risa yang berlumuran darah.
Aku tak pernah membayangkan segala rencana yang sudah ku persiapkan agar Risa tahu bahwa aku mencintanya kini menjadi sebuah petaka dan merenggut nyawanya.
Jika saja saat itu aku tak mengirim pesan ke Risa untuk menemuiku ke taman. Jika saja malam itu aku tak memikirkan tentang pernyataan cinta ini. Hal ini tak akan terjadi.
__ADS_1
Mungkin lebih baik saat itu aku tak jatuh cinta padanya jika pada akhirnya akulah yang menjadi penyebab Risa meninggal.