Memorabilia

Memorabilia
halaman... 2


__ADS_3

Katakan, apakah masih ada hari esok untuk kisah kita. Sebab, Kini kita terpenjara oleh ketidakmampuan.


Bisakah kita bertemu ketika jarak menjadi dinding tebal yang memisahkan kita?


Kau tentu tahu kita bernafas dengan udara yang sama, menghadap langit yang sama bahkan kita memiliki rasa yang sama. Lantas, haruskah kita berakhir seperti ini.


Apa kau tahu?


Beberapa waktu lalu aku merajuk pada tuhan. Entah berapa banyak air mata yang tumpah dan mengalir di pipiku karena sebuah rasa rindu.


Aku menangis dalam ketidakberdayaanku. Bahkan ketika ribuan pedang kerinduan menghujam tubuhku, aku hanya mampu terdiam dalam kesedihan.


Seperti malam-malam sebelumnya. Aku selalu menulis surat untuk ku berikan padamu, berharap kau akan membacanya.


Aku sadar bahwa langit telah mempermainkanku.


Saat ini aku hanya ingin tahu kabarmu, apakah kau menyesal telah bertemu dengan ku.


Sebab aku hanyalah lelaki bodoh yang dengan mudah melepaskanmu.


Aku sadar kita tak mungkin bisa menyatukan rasa dan menjalani sisa hidup bersama.


Andai saja kita tak bertemu waktu itu, mungkin saja tak akan ada kerinduan yang akan datang bertamu di hati kita.


Aku masih ingat awal pertemuan kita dulu. saat itu aku tengah mencari objek untuk lukisanku. Hingga tanpa sengaja aku melihat seorang gadis cantik berdiam diri si bawah kursi taman.

__ADS_1


aku perlahan membuka ransel lukisku dan melukis wajahmu. sebab saat itu kau adalah model yang pas untukku.


Namun ketika lukisanku baru setengah jalan kau tiba-tiba datang menghampiriku.


Ku kira saat itu kau akan marah karena menjadikanmu objek lukisan tanpa ijin darimu. namun, kau saat itu kau hanya tersenyum dan menyuruhku menyelesaikan lukisanku.


Setelah pertemuan itu tiap setiap hari dan pada jam yang sama aku selalu mencarimu di taman tersebut.


Apakah kau tahu setelah pertemuan pertama itu kau telah mengambil perasaanku. Aku jatuh hati padamu.


Namun sayangnya aku tak pernah melihatmu lagi. Entahlah, ini sudah hari ke berapa aku menanti pertemuan kedua kita. aku merasa penantianku ini hanya sia-sia belaka.


Hingga setelah beberapa bulan kemudian aku menemukanmu di tempat yang sama. Kau tengah terduduk diam dengan pandangan sendu. Aku sadar pasti telah terjadi sesuatu padamu.


Aku Mencoba memberanikan diri untuk mengajakmu bicara, bertanya tentang apa yang tejadi padamu.


Mungkin ini bukan waktu yang tepat untukku mengenalmu lebih dalam. Aku telah salah memilih waktu.


Sebelum pergi aku meninggalkan lukisan wajahmu yang ku lukis di pertemuan pertama kita di samping tempat dudukmu, berharap mau akan menyimpan lukisan itu.


Setelah pertemuan kedua itu aku tak pernah bertemu lagi denganmu.


Setahun kemudian aku pindah ke ibukota. setelah berkenalan dengan salah satu donatur yang membiayai pameran lukisan tunggalku untuk di pamerkan di gedung kesenian ibukota.


Itu adalah salah satu kebahagiaan terbesarku yang akhirnya terwujud. Namun ada hal yang lebih membahagiakanku. Aku melihatmu lagi.

__ADS_1


ku lihat kau begitu tertarik dengan salah satu karyaku. Itu adalah ketiga kalinya aku berjumpa denganmu. Kurasa langit masih memberi nasib baik padaku.


Aku mendatangimu yang tengah sibuk memperhatikan lukisanku dan mengenalkan diriku sebagai seniman tunggal di pameran ini. Aku begitu senang kau sangat antusias dengan karya-karya.


Sejujurnya aku ingin berkata padamu bahwa kita pernah bertemu sebelumnya. Namun, aku takut kau melupakan pertemuan kita satu tahun lalu.


Pertemuan ketiga kita adalah sebuah berkah bagiku, sebab di pertemuan itu akhirnya aku bisa berbincang lebih banyak denganmu. Aku bisa melihat senyummu seperti saat pertama kali kita bertemu.


Seusai pameran tunggalku di gedung kesenian, donatur yang menyumbang dana untuk pameranku menyarankan aku membuka sekolah melukis dari hasil penjualan dan hasil lukisanku. Itu adalah ide yang bagus untuk kehidupanku di ibukota kedepannya.


Dan satu hal yang membuatku bahagia adalah kau adalah orang pertama yang mendaftar di sekolah melukisku.


Waktu berjalan begitu cepat, kini aku memiliki beberapa murid baru. Kau kini telah menjadi murid senior dan membantu para junior belajar.


dan sekarang akhirnyaku tahu. Kau adalah seorang putri tunggal perusahaan tambang dan keluargamu adalah salah satu konglomerat besar di negara ini.


Akupun tahu alasan dari tatapan kosongmu di pertemuam kedua kita adalah karena kau telah kehilangan ibumu.


Banyak hal yang yang terjadi bahkan keakraban antara guru dan muris senior berubah menjadi keakraban sepasang kekasih.


Asmara antara guru dan murid merupakan hal yang tabu di negara ini. aku tahu itu adalah kesalahan terbesarku hingga membuat kita berpisah saat ini.


Keluargamu adalah keluarga terpandang dan aku hanya seorang seniman lukis. kita memiliki perbedaan kasta yang begitu jauh. lalu pada akhirnya hubungan kita di ketahui oleh keluargamu.


Bersembunyi dan melarikan diri bersama bukanlah ide baik, sebab aku tak ingin kau hidup dalam pelarian selama hidupmu. Aku tak ingin kau kehilangan ayahmu, orang yang begitu berharga bagimu.

__ADS_1


Kita harus berpisah, aku tak ingin kau menderita. sebab itulah perpisahan ini menjadi pilihan terbaik dan akhir dari hubungan kita.


__ADS_2