
Aku terbangun dengan mata yang sedikit perih, cahaya matahari menerpa wajahku menembus kaca jendela. Tenggorokan ku terasa kering, mungkin Ini akibat dari banyaknya bir yang ku minum semalaman.
Aku mencoba mengerjapkan mata beberapa kali hingga perih di mataku tak terasa sakit. Sangat malas bagiku untuk beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi. Apalagi setelah di PHK dari pekerjaanku.
Sekarang aku hanya ingin malas-malasan
Seharian ini namun, sayangnya kemarin malam Imelda menelponku berkali-kali dan menyuruhku untuk menemuinya di cafe. Ah, andai saja aku bisa membatalkan janji itu. Aku sangat bosan mendengar ocehan gadis itu.
Imelda adalah gadis yang manis dan cantik, sayangnya ia tak suka berdandan dan banyak bicara. tapi jujur, jika aku memiliki kesempatan untuk menjadi kekasihnya aku akan menerimanya dengan senang hati, karena ia adalah gadis yang baik dari sudut pandangku.
Aku meraih hp di sebelah meja untuk melihat jam berapa sekarang. Pukul 08:30 WIB. Sial, setengah jam lagi kami harus bertemu di cafe. Dengan sedikit malas aku beranjak ke kamar mandi tanpa mempedulikan betapa kacau kamar tidurku saat ini. Jika kalian melihat kamarku mungkin kalian akan berpikirian ruangan ini terlihat seperti kapal pecah dengan banyaknya kacang dan bir kaleng berserakan.
09:15 WIB aku tiba di depan cafe yang sudah di janjikan. Aku mencium bau mulutku untuk memastikan apakah bau bir dimulutku telah hilang. Jika si Imelda tahu aku minum tadi malam ia akan menceramahiku habis-habisan.
Aku memasuki cafe dan melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Imelda. Ah, itu disana. Kemeja putih dengan garis hitam dan kacamata tebal sedang menatap layar hp. Duh, tak bisakah ia sedikit berdandan seperti gadis pada umumnya. Tak ada gadis normal yang bepergian hanya dengan memakai kemeja dan kacamata tanpa sedikitpun bedak di wajahnya. Sudahlah aku harus segera menemuinya atau dia akan semakin kesal karena menungguku.
"ehem" aku berdehem di sampingnya.
"duduklah, kau telat 17 menit. Aku malas menunggumu tahu" ketusnya.
Aku duduk di depannya dan menunggu ia bicara. Jujur aku memang sedang malas untuk bicara dan masih sedikit mengantuk.
" apa kau tahu masalah minggu lalu, kau telah membuat kesalahan dan juga Keuntungan besar. Setelah kau tanpa sengaja menghapus file kerjaanku di kantor dan menumpahkan kopi di rok si Direktur kejam itu kau di pecat bukan. Itulah kesalahanmu" hardiknya.
Tentu saja aku tahu itu kesialanku, jika bukan karena hal itu tentunya aku takkan seperti ini. Dasar mulutnya sedikit tajam.
__ADS_1
"sudahlah aku akan menceritakan hal baik juga padamu. Apa kau tahu besok kau boleh masuk kerja lagi. File yang tak sengaja kau hapus itu adalah pekerjaan milik si Erick sialan itu dan aku di suruh untuk melanjutkan pekerjaannyan dan kau tahu apa yang terjadi setelah kau dikeluarkan"
Imelda menatap mataku dan memegang tanganku tiba-tiba, tentu saja aku kaget. Lelaki mana yang tak kaget jika ada gadis yang tiba-tiba memegang tanganmu. Aku hampir melompat dari atas tempat duduk namun sayangnya tanpa di komando perut nakalku berbunyi. Sial, ini memalukan saat terjadi di depan seorang gadis.
"hahahah, kau belum sarapan ya" tawa Imelda.
"hey, aku kesiangan tau, aku tak sempat sarapan" balasku.
Imelda memanggil seorang pelayan dan meminta daftar menu makanan. Ia memesankanku beberapa hidangan yang menurutku agak mahal. Ah, ku harap kantongku cukup untuk membayarnya. Dasar gadis ini.
"kenapa wajahmu berkerut. Jangan takut soal urusan makanan aku yang membayarnya. Kau seperti orang susah tau hihihi" sindirnya.
"kau dengan ocehanmu. Jika saja aku masih memiliki pekerjaan aku tak akan seperti ini tahu" ucapku.
"sudahlah, ini hal baik yang ingin ku ucapkan padamu. Kau di terima bekerja di tempatmu dulu dan jabatanmu naik. Kau sudah menciptakan keajaiban di dalam kesalahan bodohmu itu. File milikku yang sebelumnya tanpa sengaja kau hapus itu telah tertanam virus untuk meretas data-data di komputerku"
"yup, kau benar. Erick bodoh itu aku memergoki percakapannya saat menelpon seseorang hahaha. Jika kau tahu tampangnya saat ia ketahuan dan di hajar habis-habisan oleh Direktur iblis itu, kau akan melihat ia seperti monyet yang sedang depresi hahaha" candanya.
Mungkin inilah yang dinamakan rejeki anak soleh, atau seperti pepatah bilang. Eh, tunggu apa memang ada ya pepatah untuk kasusku?
tapi syukurlah kecerobohanku menjadi keuntunganku saat ini. Betapa aku sedang bersorak gembira dalam hati haha.
"ah, tuhan memihak orang ganteng sepertiku" puji diriku sendiri.
"kau, ah. Besok Bu Direktur galak itu memanggilmu dan menyuruhmu masuk lagi, kau di promosikan sebagai kepala staf. Berterima kasihlah padaku, aku bilang pada Direktur galak itu bahwa kaulah yang mengetahui rencana Erick dan sengaja menghapus file itu untuk keamanan perusahaan" ucap Imelda.
__ADS_1
"kau adalah pahlawanku" ucapku.
Tak berapa lama pelayan cafe datang dan membawakan makanan di meja. Dan yang terjadi selanjutnya adalah makanan itu mulai ku lahap habis-habisan. Memang benar semua terasa enak jika perutmu lapar.
"aku sudah membantumu, jadi aku perlu kau membantuku sekarang" ucap Imelda sambil memegang kedua tanganku yang sedang memegang garpu dan sendok.
Sontak aku kaget, ku lihat matanya mulai sembab seperti mau menangis. Sial, moment apa sebenarnya ini.
"Tom kumohon, jadilah kekasihku. Besok malam adalah hari dimana aku di jodohkan aku tak ingin menikahi orang yang tak ku kenal
Jadi, jadilah kekasihku besok agar aku bisa terhindar dari perjodohan bodoh ini" bujuknya.
Walaupun Imelda adalah wanita yang tak suka berdandan dan tukang ngoceh tapi ia adalah gadis yang baik dan aku menyukai itu. Seringkali ia membantuku saat di kantor bahkan hingga saat ini, aku tak tega jika harus menolak permintaan ini.
aku dapat ide hahaha. pucuk di cinta ulasan noveltoon tiba. Aku akan mencoba peruntunganku, Aku juga masih single mungkin saja dia bisa jadi pacarku. Ah, hal ini baru bisa jadi pepatah, Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
"Mel, bukannya aku gak mau membantumu tapi-" aku diam sejenak sembari menatap matanya.
"aku tahu, kamu gak mau ya" balasnya dengan wajah menunduk.
"tentu saja aku gak mau jika harus jadi kekasihmu sehari, bisakah kita menjadi kekasih juga lusa dan seterusnya" lanjutku.
Ah, aku seperti melakukan adegan di film-film klise ketika seorang pemeran lelaki mencoba merayu wanita di depannya.
"itu, baiklah aku menerimanya tapi aku punya beberapa syarat dan tentu saja syarat pertamanya kau harus bikin aku suka ama kamu lalu yang lainnya, berhentilah untuk merokok, minum dan hilangkan mata pandamu itu. Kau terlihat jelek tau" ejeknya.
__ADS_1
"deal" balasku dengan cepat.
Jika ini sebuah cerpen mungkin ini adalah cerita yang membosankan yang ditulis oleh seorang penulis pemalas. Tapi, aku tak peduli karena karirku mulai naik dan juga aku sudah punya pacar hahahaha. Oh ya, kamu jangan iri ya pembaca.