Memorabilia

Memorabilia
halaman.. 7


__ADS_3

Akan selalu ada kasta dalam setiap kehidupan. Sebab manusia terlahir dengan tangan yang mengepal seolah ingin meraih segalanya.


Kerakusan, tamak, dan, selalu ingin berkuasa adalah sifat dasar dari manusia. Ego adalah pemicu dari segalanya hingga munculnya sistem hirarki yang menjadi aturan dari betapa berpengaruh dan kuatnya seseorang di masyarakat.


Di lingkungan manapun akan selalu muncul


keinginan agar dapat dilihat Oleh orang lain dengan cara merendahkan orang yang lebih lemah darinya dan bermulut manis pada orang diatasnya. Semua terjadi dimanapun bahkan di tempat yang seharusnya digunakan untuk menanamkan nilai moral menjadi tempat kemrosotan moral umat manusia.


Sekolah adalah salah satu tempat untuk mengenyam pendidikan. Tempat yang digunakan untuk mendidik generasi muda agar bisa lebih berwasasan dan memiliki nilai pekerti. Sayangnya tak semua para pendidik memiliki pendirian teguh dan bijak. Banyak dari mereka yang seolah menutup mata atas apa yang tengah terjadi pada anak didik mereka.


Erka adalah salah satu korban dari adanya sistem hirarki tersebut. Seorang remaja yang hanya bisa pasrah atas apa yang ia alami saat ini. Ia hanya bisa menangis mengingat apa yang telah menimpanya berkali-kali.


Entah apakah ia harus bersyukur atau merutuki nasibnya. Karena dengan kepintarannya ia bisa mendapat beasiswa di sekolah elit yang berisi anak dari orang-orang yang berkuasa dan para konglomerat.


Sejatinya Erka hanyalah anak dari kalangan menengah kebawah. Ia hanya anak dari buruh


Kontrak dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

__ADS_1


Erka tergolong anak yang mandiri meski telah ditinggal mati oleh ibunya saat ia kecil,


Ia tak pernah mengutuk nasibnya meski ia hanya punya seorang ayah. Sebab ia tahu ayahnya telah berjuang keras untuknya, Ia tak akan mengeluhkan apa yang ia alami saat di sekolah kepada ayahnya.


Erka terdiam dalam kamar sembari memegangi tangan kirinya yang memar. Meski tak sesakit tadi siang tapi ia masih merasakan perih. Tak hanya itu ada banyak luka pukul di punggung dan beberapa bekas luka sayatan di sekitar perutnya. Entah berapa banyak ia mengalami kekerasan di lingkungan sekolahnya.


Sayangnya para guru seolah acuh bahkan menutup mata ketika mengetahui siapa pelaku dari perundungan. mereka takut, bukan kepada para murid yang melakukan perundungan melaikan kepada latar belakang mereka.


Setiap kejadian yang menimpa Erka terjadi, para guru hanya memanggil mereka dan hanya menasihati tanpa memberikan sanksi tegas agar tak mengulangi kenakalan mereka.


Hukum dapat dengan mudahnya di beli, bahkan semua hal yang terkait dengan kebenaran dapat berubah dengan secuil nilai dari mata uang.


Korban seperti Erka hanya dapat meringkuk dengan tangis dan sekujur luka ia terima tanpa ada satupun yang mau membantu untuk meringankannya.


Semakin lama Erka seperti bom waktu yang siap meledak. Ia hanya bisa menahan dan berdiam diri atas bagitu banyaknya penderitaan yang ia alami, terlebih tak ada satupun teman di kelasnya mau berteman dengan.


Yah, mereka lebih memilih untuk bergaul dengan kalangan yang sesuai dengan mereka, bukan dengan bocah miskin yang hanya bisa mengayuh sepeda ontel saat berangkat sekolah saat yang lainnya diantar dengan mobil kelas premium dan supir pribadi di dalamnya.

__ADS_1


Hingga akhirnya tragedi mengerikan itu terjadi.


Ada begitu banyak wartawan yang berada di gerbang sekolah. dengan camera dan micropon yang siap membanjiri pertanyaan kepada para pengurus sekolah. Suasana begitu gaduh karena beberapa wartawan mencoba menerobos memasuki sekolah dengan menaiki gerbang sekolah.


Para wartawan itu ingin meliput kejadian yang terjadi di sekolah dimana seorang siswa yang pernah mencoba bunuh diri dengan melompat dari lantai 5 gedung sekolah.


Kejadian yang begitu tak terduga sebab ada beberapa anak yang merekam kejadian mengerikan Itu dan mengunggahnya di media sosial.


Namun yang lebih membuat para wartawan itu semakin gencar untuk mencari informasi bukanlah hanya karena kasus percobaan bunuh diri itu, melainkan hal-hal mengerikan yang telah terjadi sebelumnya.


beberapa hari setelah insiden percobaan bunuh diri tersebut muncul video aksi perundungan yang di alami oleh si korban, hingga munculnya ribuan kritik dan memunculkan sebuah petisi penolakan diskriminasi dan kekerasan di lingkungan sekolah.


Ribuan orang telah menandatangani petisi itu, bahkan beberapa dari mereka melakukan aksi nyata dengan menuliskan spanduk dan poster yang bertuliskan tujuan untuk menyelediki secara tuntas para pelaku dari video perundungan yang mengakibatkan percobaan bunuh diri di lingkungan sekolah tersebut.


Sayangnya itu tak berarti apa-apa sebab saat ini Erka berada dalam kondisi kritis dengan alat


Bantu Pernafasan dan banyaknya benda yang menempel di tubuhnya di ruang ICU. Kini Ayah Erka hanya bisa terdiam dan berdoa atas kesembuhan pada anak satu-satunya dan berharap tak akan ada anak yang mengalami kejadian serupa.

__ADS_1


__ADS_2