
Suara adzan isya berkumandang dan saling bersahutan antara masjid dan musholla di desa Selatan. Terlihat Difi tengah membersihkan sisa-sisa adukan semen di yang menempel di kakinya dengan air keran di depan rumahnya. Matanya nampak sayu dan lelah, sesekali ia meregangkan badannya yang terlihat lemas.
"ini melelahkan, andai saja mereka masih ada" ucap Difi sambil berjalan menuju tempat duduk yang terbuat dari bambu di depan jendela ruang tamu rumahnya.
Dahulu Difi adalah seorang anak dari pengusaha meubel terkenal, meski memiliki tubuh yang cukup lemah keluarganya terbilang berkecukupan saat itu. Sering sekali saudara-saudaranya dari jauh pergi menemui keluarganya untuk meminta bantuan terkadang mereka memang ingin bertemu dengan ibu Difi karena ia termasuk saudara tertua di keluarga besarnya.
Seperti kehidupan normal anak-anak lainnya, masa kecil Difi selalu di penuhi dengan tawa dan canda dan juga ayah dan ibu Difi begitu menyanyanginya kala itu.
Pernah suatu ketika saat Difi mogok untuk les hanya karena telah di pukul oleh kakak kelasnya di sekolah. saat itu ayah Difi langsung pergi ke rumah anak tersebut dan melabraknya.
__ADS_1
Diantara teman-temannya Difi bukan anak yang menonjol dan prestasinya di sekolah hanyalah rata-rata. ia tak pernah membuat masalah bahkan menghindari perkelahian dengan temannya, berbeda lagi jika ia mendengar orang tuanya di hina dia akan sangat marah sebab orangtuanya adalah yang paling ia sayangi dan menjaga dirinya.
Bukan hanya itu, Difi adalah anak yang cukup di sayangi di keluarga dari ibunya dan itulah yang membuat difi senang jika di ajak ke rumah om dan tante dari keluarga ibunya. sayangnya itu tak terjadi saat ini. bisa di bilang ia adalah seorang anak yang di paksa dewasa oleh keadaan.
saat ia baru lulus dari sekolah ayahnya meninggal karena tumor di paru-parunya. itu adalah pukulan berat buat hidup difi. banyak masalah-masalah yang menerpa difi dan ibunya saat itu.
mulai dari masalah biaya hidup kedepannya dan juga hutang yang hutang yang menumpuk hingga harus menjual rumah yang baru di bangun oleh keluarga mereka. tak hanya itu beberapa klient yang dulu selalu di bantu oleh ayahnya kini mencoba mencari keuntungan dan ingin menipu difi dan ibunya.
yang membuat difi semakin sedih adalah keluarga dari ibunya yang dulu selalu berkunjung tak lagi datang menemuinya. kini ia hany tinggal sendirian bersama keponakannya dan juga support dari kakak perempuannya.
__ADS_1
kakak perempuan difi sudah menikah dan hidup terpisah dengan difi. hanya ada beberapa orang yang benar-benar membantu difi pada titik terendahnya. dan merekalah yang membuat difi berpikir untuk tidak melakukan tindakan bunuh dirinya. ia takut melihat kakak dan orang yang mendukungnya menangis untuk kesekian kalinya saat mendengar berita kematiannya.
yah, kini difi hanya bisa bertahan dengan apa yang ada. ia hanya bisa menjalani hidupnya dengan bekerja sebagai kuli bangunan dengan separuh gaji dari gaji normal seorang kuli.
sebenarnya bekerja menjadi kuli bangungan bukanlah hal yang cocok dengan kondisi tubuhnya yang lemah. terkadang ia hampir pingsan saat bekerja kandang pula ia sering sakit.
yah, dengan umurnya yang masih remaja ia sudah di paksa menjadi sosok dewasa dengan di rampasnya semua kebahagiaan miliknya di masa lalu.
yap..
__ADS_1
mohon maaf.......
cerita ini tak ada klimaks crita atau happy ending karena cerita kali ini ku ambil dari kisah nyata.