
Perjamuan Dewi
Sedikit demi sedikit mataku mulai terbuka dan kulihat seorang wanita cantik berada di depanku. Ia mengenalkan dirinya sebagai Dewi cinta Aprodhite.
Setelah perkenalan singkat itu Dewi Aprodhite memberiku apel emas, sebuah apel yang dapat menentukan takdir manusia. Ia memberiku sebuah pilihan, antara regresi mengulang lagi kehidupan dengan ingatan yang masih tertanam atau, menjalani kehidupan selanjutnya dengan menikmati cawan kekuasaan.
Aku termenung memikirkan betapa aku harus memilih diantara keduanya. Tiba-tiba saja ingatan tentang masa lalu muncul bak potongan film yang berputar di kepalaku. Rasa rendah, takut, putus asa dan, kehilangan muncul kembali di pikiranku. Sesaat setelahnya air mataku tumpah begitu saja.
Pilihan dari Dewi Aprodhite bukanlah pilihan yang buruk karena itu seperti sebuah keajaiban dalam hidupku, hanya saja. Aku sulit untuk memilih kedua, aku takut semua kenangan di masa lalu akan menjadi boomerang ketika aku kembali ke masa lalu.
Lalu, jika aku memilih pilihan selanjutnya aku akan menjadi tiran. Seorang lelaki yang akan haus akan semuanya, yang menginginkan segalanya karena apa yang belum pernah ia miliki sebelumnya kini dapat dengan mudah dapat diraih.
__ADS_1
Malu rasanya, ketika aku memaki para Dewa dan Tuhan atas nasib yang ku terima. tetapi aku malah diberikan sebuah kehormatan untuk menentukan nasibku sendiri.
Tak lama setelah aku berkutat dalam pikiranku sendiri Dewi Aprodhite datang menemuiku.
"Anakku, katakanlah apa yang pikirkan. Kau memiliki bentuk kehidupan yang lahir atas berkah yang kami berikan. Nikmatilah apel emas itu dan teguklah sedikit susu" ucapnya.
Aku hanya diam dengan tatapan kosong. Entah apa yang harus kupilih, aku begitu dilema. Meskipun aku seperti menjadi setengah dewa dengan dapat menentukan takdirku sendiri dengan hanya memakan apel emas.
"Adakah jalan lain selain memakan apel emas ini. Apakah akhirat tidak menerimaku atau bahkan neraka milik hades pun tak menginginkanku" ucapku pada Dewi Aprodhite.
Dengan senyum menawan Dewi Aprodhite membalas.
__ADS_1
"tidak anakku, itu adalah milikmu, para Dewa tak mungkin meninggalkan hambanya bahkan Titan dan para Iblis dalam kitab Grimore dunia bawahpun menjaga pengikutnya. Lantas, apa yang cemaskan ketika kau bisa menikmati kehidupanmu lagi nak"
Mungkin benar kata sang Dewi, Tuhan pada kitab kuno bahkan Dewa dalam motologi Nordik masih memiliki secuil hal dalam mencintai hambanya. Mereka adalah cahaya dan jalan untuk menunjukkan bahwa manusia masih memiliki kewarasan dan kebenaran dalam menjalani hidup. Dengan apa yang mereka tunjukkan dan mukjizat yang mereka turunkan.
"Dewi, seperti Atlas yang menopang dunia dalam kesendiriannya, begitu pula anak pertama manusia Adam terlahir dalam kesendirian sebelum bertemu dengan Hawa. Pada dasarnya manusia terlahir dalam bentuk eksistensi yang hidup dalam kegelapan rahim. Lantas, sudikah sang Dewi menerima apel emas ini kembali lalu biarkan aku menikmati kenangan yang terlahir dari kehidupanku. Aku ingin bertemu dengan mereka namun, aku takut aku melukai mereka lagi. Maka ijinkanlah aku bersembunyi di balik awan ketika matahari hendak tenggelam untuk aku bisa menyaksikan mereka dari kejauhan" ucapku.
"Baiklah nak, aku akan memberikan jeda warna pada langit ketika surya hendak tenggelam. Hadirlah dirimu dalam rona jingga kemerahan. Pada saat itu kau bisa membukakan matamu untuk melihat dunia dalam sesaat. Tapi, di saat itu pula kau akan menjadi keabadian yang terabaikan hingga dunia benar-benar berada pada titik kehancuran" balas sang Dewi.
Dan atas pernjanjian dan kesepakatan dengan Dewi Aprodhite, di saat itu pula ketika matahari hendak tenggelam akan muncul cahaya kemerahan di sisi matahari sebagai tanda terbukannya kedua mataku untuk melihat dunia.
end
__ADS_1