
Suasana di sekolah SMP Semanggi cukup panas, cahaya matahari siang itu memang begitu terik. di dalam ruang kelas 7B terlihat beberapa siswa yang mengipasi badannya dengan buku pelajaran dan, ada pula yang menyeka keringat mereka dengan sapu tangan.
Namun, bangku terakhir sebelah kiri terdapat seorang anak laki-laki tengah meletakkan kepalanya di atas bangku dengan silangan tangan yang mengitari wajahnya, ia adalah nizam. Terlihat wajah Nizam begitu memprihatinkan dengan lebam di kedua pipinya dan luka bekas silet dengan darah yang masih membekas si lengan kanannya.
Sedikit isakan terdengar dari mulut nizam, namun tak ada sedikitpun teman sekelasnya yang memperdulikan. Ia hanya bisa menahan rasa sakit akibat luka lebam di pipinya.
Nizam tergolong siswa yang berprestasi dan selalu masuk dalam 10 besar di kelasnya. Ia adalah anak yang sopan dan hormat dengan orang yang lebih tua. Hanya saja ia memiliki sedikit kekurangan. Nizam adalah seorang tuna wicara.
Karena kekurangannya itulah membuat banyak anak-anak di sekitarnya menjauhinya. Banyak dari mereka menjahili dan juga menghina kekurangannya. Hinaan dan juga makian sudah menjadi hal yang sering ia terima.
"dasar bisu"
"anak kriminal"
"bocah cacat"
__ADS_1
Banyak sekali cacian yang terlontar kepadanya. Alasan lain kenapa ia begitu di benci adalah karena ayahnya seorang narapidana karena kasus pencurian. meski begitu Nizam tetap menyayangi ayahnya karena ia adalah salah satu keluarganya yang tersisa.
Di rumah nizam hanya tinggal bersama neneknya karena ibunya telah meninggalkan sesaat setelah melahirkan nizam. Untuk kebutuhan sehari-hari setiap malam nizam membantu neneknya membuat gula aren dan menjualnya sepulang sekolah.
Hasil penjualan gula aren hanya cukup untuk makan sehari-hari jadi neneknya selalu menabung beberapa ribu untuk membayar biaya sekolah nizam. Hanya saja beberapa hari terakhir penjualan gula aren milikinya semakin sepi karena cuaca yang berubah-ubah.
Jika dagangan gula aren miliknya sepi malamnya nizam akan pergi ke pasar menjadi kuli angkut. Bekerja sebagai kuli angkut barang memang begitu melelahkan untuk anak seusianya tapi itulah satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk meringankan beban neneknya.
Ia adalah anak yang tegar dan mandiri. Di saat anak seusianya setelah pulang sekolah meminta uang jajan dan langsung pergi bermain dengan temannya ia harus berjalan mengelilingi kota untuk menjajakan gula aren neneknya. Tentu saja ia sangat iri dengan kehidupan teman-temannya namun setiap perasaan itu muncul nizam selalu ingat betapa neneknya sangat berusaha keras untuk menghidupi ia di usianya yang sudah renta.
Bel berbunyi, suasana kelas riuh dan semua murid mulai berhamburan meninggalkan kelas tapi tidak dengan Nizam. Ia menunggu luka lebam di pipinya berkurang dan membersihkan lukanya setelah itu.
Seusai membersihkan lukanya nizam beranjak dari bangkunya dan berjalan untuk kembali pulang ke rumahnya. Jalan antara rumahnya dan sekolah sekitar ±2 kilo meter. Ia hanya bisa menempuh perjalanan dengan berjalan kaki karena tak mampu membeli sepeda.
Cukup lama ia berjalan dan tak terasa nizam hampir sampai ke persimpangan menuju desa tempat tinggalnya. Tinggal beberapa Ratus meter lagi nizam akan sampai ke kediamannya.
__ADS_1
Di tengah lamunan tiba-tiba nizam mendengar teriakan keras di depannya. Ia melihat sesosok wanita yang mempertahankan tasnya dari 2 pria yang mengenakan jaket hitam dan mengendarai motor.
Tak berselang lama tas itu berhasil di rebut oleh dua orang laki-laki tersebut dan melajukan motornya ke arah nizam. Nizam ingin menolong wanita tersebut. Tapi dalam sekejap penjambret itu sudah berada di depannya. Sontak Nizam melompatkan dirinya ke arah dua perjambret tersebut untuk menghalangi laju kendaraannya.
Tubuh nizam menghantam langsung ke badan penjambret dan membuat keseimbangan kendaraan si penjambret terganggu. Tubuh nizam terpelanting jatuh ke trotoar dan di waktu yang sama penjambret tersebut juga tejatuh dari motornya.
Nizam dalam kondisi sentengah sadar, kini baju putihnya berubah merah karena darah. Ingin sekali ia berteriak meminta pertolongan tapi sayangnya ia tak bisa berbicara. Ia hanya dapat berdoa semoga warga sekitar bisa membantunya.
Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran memori-memori masa lalu nizam keluar seperti kumpulan roll film di kepalanya. Ingatan tentang ayahnya yang pernah mengajaknya pergi ke pasar malam. Ingatan tentang neneknya yang membuatkan syal pertama kali untuknya dan masih banyak lagi.
Seminggu berlalu sejak saat itu. Kini nizam tengah terbaring koma di rumah sakit di temani neneknya yang menemaninya dan berharap ia segera sembuh.
Kini di setiap media massa dan sosial media banyak sekali yang membicarakan tentang aksi heroik nizam yang berani melawan para penjambret.
Banyak sekali yang memuji keberaniannya itu. Ada juga penghargaan dan beasiswa dari kepolisian atas aksinya. tak jarang wartawan mencoba mencari tahu keadaan sang pahlawan kecil itu. Tapi, bagi sang nenek semua itu tak ada gunanya. Ia hanya berharap akan kesembuhan cucunya nizam.
__ADS_1