Memuja Bunda, Melupakan Ayah

Memuja Bunda, Melupakan Ayah
Hujan Tanpa Awan


__ADS_3

Delapan tahun adalah umur yang sulit bagi seorang anak kecil memahami apa itu yang namanya perpisahan.


yang mana, tidak sekedar berucap ‘selamat tinggal’ kemudian bertemu kembali, tetapi saling berpeluk dengan ketir.


Kinan, seorang gadis kecil berumur delapan tahun itu berjalan menuju sekolahnya,


jemarinya bertaut pada tali tasnya yang ia bawa di bahu nya.


berat, namun ia belum sadar akan ada yang lebih berat dari sekedar membawa tas punggung itu.


”kinan”panggil seseorang dari jauh,


membuat Kinan berbalik, dan dari tempatnya berdiri dapat ia lihat sahabat sepantarannya berlari menuju nya.


”Aisha buruan!”seru Kinan dari jauh, dapat Kinan lihat gigi ompong sahabatnya itu dari jauh yang tersenyum padanya.


Aisha berhenti dihadapan Kinan, kemudian menautkan lengannya dengan Kinan, kemudian keduanya berjalan beriringan menuju sekolah yang sudah dekat.


hari itu, Kinan hadapi dengan tenang dan tentram, sebagaimana seorang anak kecil menghadap dunia tanpa rasa keras.


detik demi detik berlalu, jam, dan seribu kosa kata keluar dari sang pemberi ilmu.


Kinan akhirnya pulang, berpisah diarah berbeda dari Aisha.


Gadis itu melanjutkan langkahnya menuju rumah, sebuah rumah yang ia tempati bersama Ayah, Ibu, dan Adiknya selama ini.

__ADS_1


Rumah berlindungnya,selain didekapan Ayah Ibunya.


Kinan berjalan, kemudian netranya terkejut melihat sang adik terduduk menangis di pekarangan rumah.


sontak langkahnya ia percepat, menghampiri adiknya yang masih lima tahun itu dengan khawatir. Ia perhatikan dengan seksama wajah adiknya yang memerah sesenggukan.


”do, Aldo kenapa?”tanya Kinan penuh khawatir sambil terus menyeka wajah basah sang Adik.


sedangkan yang ditanya hanya terus menangis meracau sambil menunjuk kedalam rumah.


Kinan kemudian berdiri, membawa langkahnya menuju rumah. Semakin ia dekat, semakin jelas suara makian menggema dari dalam rumah, kata-kata yang belum ia kenal dan belum pernah ia dengar terlontar saling bersahutan dari rumahnya.


”Ayah, Ibu?”seru Kinan pelan, sangat pelan, dengan harap semoga tak ada hal buruk terjadi.


kinan berjalan menuju dapur, dan disana dapat ia lihat orang tuanya saling beradu ucap.


dihadapkan hal itu, Kinan hanya bisa terdiam mematung, hingga akhirnya sang Ibu melihat keberadaannya.


sang Ibu berjalan kearahnya, kemudian merengkuh tubuhnya yang kaku.


”aku tidak mau tau lagi, Mas. Aku mau cerai!” Seruan itu terdengar jelas di telinga Kinan yang berada di dekapan sang Ibu.


lagi, satu kata lagi yang ia tak tau kembali diucap sang Ibu. Disambut ucapan penuh setuju dari sang Ayah, yang kini berjalan frustasi keluar rumah.


”kinan, lihat Ibu, Kinan”ucap sang Ibu, membuat Kinan mendongak menatapnya. Tampak sama seperti sang adik, wajah sang ibu juga memerah menahan tangis dan ribuan emosi lainnya.

__ADS_1


”enggak apa-apa, Kinan enggak usah mikirin apa-apa” ucap sang ibu, bukan tenang yang Kinan dapat, tapi ketakutan tanpa alasan yang ia rasa.


”Kinan enggak apa-apa“ucap Kinan, kemudian melepas pelukan sang Ibu


”kinan kedepan dulu ya bu, tadi adek main sendiri”ucap Kinan kemudian berjalan menuju halaman.


Ia menghampiri sang adik sambil menahan tangis, wajahnya yang merah padam menyambut lengan sang adik, kemudian membawa nya agak jauh dari rumah.


menangis, ia menangis. tanpa tahu alasannya, namun ia hanya ingin menangis, dipeluknya Aldo yang tampaknya sudah habis air mata


“Adek jangan main sendiri ya”ucap Kinan, kemudian melanjutkan sedihnya.


hujan tanpa awan, itu yang ia lakukan.


menangis tanpa alasan. diri kecilnya masih tak sanggup mencerna apa yang dihadapinya. namun, tubuhnya hanya terus memintanya menangis.


menangis dan menangis.


dengan sesenggukan, terus ia tatap sang adik yang bermain agak jauh darinya.


Mengawasi dengan bulir air mata yang menghalangi jarak pandangnya.


”kak Kinan enggak ikut main?” Seru Aldo dari jauh, sembari menautkan jemarinya, bocah kecil itu berdiri menatap sang kakak.


Kinan tersenyum kecil, kemudian menyeka wajahnya dengan seragamnya yang tampak kotor

__ADS_1


”kakak lagi capek, adek main sendiri dulu”ucap Kinan, kemudian ia lihat sang adik kembali bermain dengan tanah.


__ADS_2