Memuja Bunda, Melupakan Ayah

Memuja Bunda, Melupakan Ayah
Bahu kecil itu terlihat gemetar


__ADS_3

“Ibu nganterin kamu sampai sini aja ya”ucap Ibu, keduanya berdiri di hadapan gerbang sekolah berwarna coklat tua.


bunyi derap-derap langkah yang beradu dengan paving, membuat suasana terdengar ramai.


Kinan mendongak menatap wajah Sang Ibu, tautan jarinya masih memeluk lengan sang Ibu.


”Kinan malu”ucap Kinan, membuat sang Ibu tersenyum kecil kearahnya


”ngapain malu? Kamu kan udah kelas tiga. Berarti udah gede”jawab sang Ibu, dengan tangan yang mengepal, ia membuat isyarat semangat kepada Kinan yang akhirnya menjadi tenang.


“Yasudah, kamu masuk cepat, nanti cari aja ruang guru ya, lalu bilang kamu murid baru”ucap Ibu, kemudian mengusap wajah Kinan yang menjawabnya dengan anggukan.


“Ibu pergi dulu ya, nanti ibu jemput lagi”ucap Ibu, dengan tangan yang berdadah ria, ia pun melangkah pergi.


meninggalkan Kinan yang tiba-tiba kembali gugup, dengan nafas berat, ia pun melangkah masuk.


Degup jantung nya begitu kencang,


tempat ini sangatlah baru baginya,


banyak hal yang berbeda dari sekolah nya di desa.


Kinan berjalan, pandangannya mengedar mencari ruang guru, hingga disudut lorong sebelah kanan,ia pun menemukannya.


Ia bawa langkahnya dengan terburu menuju ruang guru, mengabaikan tatapan-tatapan penasaran dari murid-murid lain.


Dengan wajah menunduk, akhirnya Kinan sampai di depan ruang guru, Kinan melangkah masuk dengan pelan


Tok tok


Kemudian jemarinya yang mengepal, mengetuk pelan pintu kayu itu. Membuat seisi ruangan menatap kearahnya.


Gadis kecil itu menelan ludahnya


”Permisi bu, saya Kinan, murid baru”ucap Kinan pelan, jika saja ruangan itu penuh suara, tentu saja suara Kinan takkan terdengar.


Setelah berucap begitu, dapat Kinan lihat langkah seorang wanita sekitar 40-an tahun berjalan kearahnya.

__ADS_1


Bibir berlapis lipstik merah itu tersenyum kearahnya, senyuman yang terasa hangat begitupula sosok wanita itu menyambutnya


”Kinan ya? Ayo ikut Ibu ke kelas kamu”ucap Wanita tua itu, dapat Kinan lihat nama guru itu dari pin namanya.


“Iya Bu”sahut Kinan kepada guru yang bernama masrofah itu.


Kinan berjalan mengikuti guru itu dari belakang, langkahnya ia usahakan untuk beriringan dengan langkah sang guru yang agak cepat.


tidak perlu waktu lama, mereka pun sampai di depan sebuah kelas, Kinan mendongak membaca tulisan yang menggantung di depan pintu kelas


“3 A”gumamnya pelan, kemudian menyusul ibu gurunya yang berjalan masuk kedalam kelas. Suara sorak riuh yang sebelumnya terdengar, tergantikan oleh suara langkah yang terburu berlarian menuju meja mereka masing-masing.


Kinan meneguk ludahnya dengan susah, anak-anak didepannya ini sesekali saling berbisik.


yang ia lakukan hanyalah diam dengan jemarinya yang mencengkeram tali tasnya dengan gugup.


“Ayo, kenalin diri kamu sama yang lain”ucap Ibu Masrofah kepada Kinan dan lagi-lagi senyum hangat wanita itu menyambutnya.


Kinan merasa sedikit tenang, kemudian dengan berani ia pun memperkenalkan dirinya


”perkenalkan nama aku Kinan, umur aku 8 tahun, senang ketemu kalian semua”ucap Kinan, suara kecilnya menyeru keseluruh kelas.


Dengan wajah tertunduk, Kinan pun berjalan kearah mejanya.


selama ia melewati murid-murid lain, ia mendengar beberapa kali ucapan salam dari mereka.


Sampai akhirnya ia terduduk,


Kinan menghela nafasnya pelan, setidaknya disini menyambutnya dengan baik.


Setelahnya ia pun mengikuti kelas hari itu, walau ia masih sulit menyesuaikan lingkungan barunya, namun semuanya berjalan lancar pada akhirnya.


”makasih ya udah mau nganterin aku”ucap Kinan kepada teman barunya bernama Novi.


Ia berucap demikian sembari turun dari sepeda berwarna pink temannya itu.


Novi pun tersenyum kecil

__ADS_1


”iya, sama-sama. Ternyata rumah kamu disini? Searah dong sama aku”ucap Novi, kemudian di angguki Kinan pelan, namun anggukan itu agak kurang meyakinkan.


“I-ini rumah tante aku, karena aku baru pindah dari desa, jadi belum cari rumah”ucap Kinan sambil tersenyum pahit, namun tampaknya Novi memahami maksudnya.


“Yasudah aku pergi ya”ucap Novi kemudian melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Kinan yang berdadah kecil kearahnya yang tidak berbalik.


Kinan berjalan masuk kedalam,


kemudian ia pun membuka pintu luar


”akh”saat hendak berjalan masuk, ia tersentak karena kakinya terinjak sesuatu.


Kinan mengambil benda itu, ternyata mainan adiknya.


dengan tangan yang menggenggam mainan, ia pun berjalan menuju kamar mencari adiknya.


“Aldo?”serunya pelan sambil membuka pintu,


Dilihat nya sang adik terebah membelakanginya


”kamu tidur siang?udah makan belum?”tanya Kinan, kemudian menaiki kasur itu dan merangkak kearah sang adik.


Kinan duduk sejenak memperhatikan punggung kecil adiknya, namun yang ia sadari adalah bahu kecil itu terlihat gemetar.


Tanpa basa-basi, Kinan pun membalik tubuh sang adik untuk menghadap kearahnya


”aldo kamu kenapa?”seru Kinan dengan keras, wajahnya menunjukan ke khawatiran, melihat sang adik yang ternyata sedang menangis.


“Tadi aldo dimarahin tante” sahut aldo dengan suara yang gemetar, nafasnya yang sesenggukan menyertai seisi kamar


”emangnya kamu ngapain? Kok bisa dimarahin tante?”tanya Kinan sambil mengusap air mata sang adik yang terus mengalir.


“Engga tau, tadi aldo cuman main doang di ruang tamu”ucap Aldo lagi, suara nya terdengar semakin parau.


Kemudian, keduanya tersentak saat pintu kamar itu terbuka kencang,


Disaat itulah netra keduanya bertemu dengan sang ibu yang terdiam di ambang pintu.

__ADS_1


Dengan tatapan bergetar, wanita itu menatap kedua anaknya sedang berpelukan.


__ADS_2