
“Bu, maksudnya gimana? Kita harus pindah ke kota?”tanya Kinan sambil mengikuti langkah sang ibu yang berjalan menuju kamarnya.
“Iya,Kinan. Ibu enggak bisa ninggalin kalian disini”sahut sang ibu dengan gelisah.
“Tapi kenapa bu? Gimana dengan sekolah Kinan?”tanya Kinan lagi dengan bingung, wajahnya menyiratkan penuh tanya kepada sang ibu yang kini mengusak wajahnya frustasi.
“Ibu harus nyari kerja di kota, nanti kamu pindah sekolah di kota aja. Kita bakalan tinggal sama Bibi Naya di kota sana”jawab sang Ibu, membuat Kinan terdiam dengan ucapannya.
“Kinan enggak mau pergi dari desa ini bu”ucap Kinan sedikit memohon, suara lemahnya membuat sang ibu menatapnya dengan ketir.
Jemari sang ibu bergerak kearahnya, kemudian ibunya mengusap wajah Kinan dengan pelan dan lembut
”kita harus pergi Kinan, karena Ibu harus nyari pekerjaan yang layak buat kalian berdua.
ibu enggak bisa kalau berharap dari hasil kebun tetangga kita aja”ucap sang ibu berusaha menjelaskan kepada Kinan yang kini tampaknya paham.
Kinan kalut, lagi-lagi ia membebani ibunya.
”kalau gitu, Kinan mau deh ikut Ibu ke kota”ucap Kinan pelan, suaranya hampir tak terdengar sang ibu karena terlalu lirih ia berucap.
Sang ibu tersenyum kecil, bagaimanapun juga ini demi kehidupan mereka semua.
”lusa kita berangkat ya”ucap sang Ibu, kemudian dibalas anggukan oleh Kinan.
Setelah percakapan keduanya berlalu,
hari yang ditunggu pun tiba.
Kinan membawa tasnya yang berisi pakaian itu menuju mobil travel yang sudah tiba.
Dengan tatapan sedih, ia menatap rumahnya yang akan lama lagi ia temui.
kemudian dapat Kinan lihat kini sang ibu menuju keluar rumah.
Setelah mengunci pintu,
sang ibu pun menghampiri Bi Ami yang sedari tadi datang untuk mengantarkan mereka.
Dilihatnya sang ibu berpelukan lamat dengan Bi Ami, kemudian Kinan berlaku hal yang sama
”sekolah yang rajin ya,Kin”ucap Bi Ami pelan padanya.
Kinan melangkah menuju mobil travel yang sudah datang, namun sesaat kemudian suara tapak kaki terdengar olehnya.
gadis itu menoleh kearah ujung jalan, netranya menyipit untuk melihat siapa gerangan yang berlari dengan tergesa itu.
Dan setelahnya, dapat ia lihat temannya Aisha sedang berlari kearahnya.
__ADS_1
”k-kinan hahh”ucap Aisha dengan nafas terengah-engah dihadapan Kinan yang menatapnya, dengan kedua tangan bertumpu pada lutut, Aisha terus menarik nafas yang dalam untuk mengisi paru-parunya.
“Aisha, kamu enggak sekolah?”tanya Kinan bingung dengan kehadiran Aisha
”Enggak, aku mau pisahan dulu sama kamu”ucap Aisha, dengan tersenyum kecil, Kinan pun meraih tubuh temannya itu, jemari kecilnya merengkuh Aisha drngan lembut
”makasih ya”ucapnya pelan
”kamu hati-hati ya, jangan lupain aku”ucap Aisha sama pelannya sembari membalas peukan Kinan.
“Ayo,Kinan. Kita berangkat”seru sang Ibu yang sedari tadi berada didalam mobil.
Kini ketiganya duduk didalam mobil itu,
dapat Kinan lihat senyuman pahit terukir pada wajah sang ibu yang ketir melihat rumah mereka.
Bagaimanapun juga, sudah terlalu banyak kenangan yang terukir pada rumah itu.
kinan berdadah kecil, membalas dadahan Bi Ami yang tersenyum kecil kearahnya, dan juga ia menatap sedih kepada Aisha yang berdiri menatapnya dengan sama sedihnya.
“Hati-hati ya”seru Bi Ami, dan Kinan terus menatap wajah Bibinya itu, hingga pandangan keduanya terputus saat mobil berbelok di persimpangan.
Kinan bersandar pada bahu sang ibu yang memangku adiknya
”Kinan tidur aja ya bu”ucap Kinan sayup-sayup, dan dibalas deheman kecil dari sang Ibu.
Enam jam perjalanan pun terlewati dengan nyaman, tidak perlu waktu lama akhirnya mereka sampai di rumah Bibi Naya, rumah yang tampak indah bangunannya.
Walau tak megah, namun masih terlihat bahwa pemilik rumah itu adalah orang yang dari sekedar berkecukupan.
berbanding terbalik dengan keadaan ia dan ibunya.
Ibu turun lebih dulu, sembari menurunkan tas mereka, Kinan berdiri didepan pagar besar itu,
jemarinya bertaut dengan sang adik, sambil terus berdecak kagum.
Dretttt
Suara pagar terbuka itu membuat Kinan dan Aldo termundur selangkah, saat pagar itu dibuka, seorang wanita dengan pakaian tidur keluar menyambut ketiganya.
“Bibi Naya”seru Kinan pelan, senyum sumringahnya terpancar kearah Bibi nya yang hanya diam
”jangan panggil Bibi, panggil tante aja”ucap Bi Naya, membuat Kinan terdiam.
”i-iya tante Naya”sahut Kinan agak takut.
Ibunya yang melihat itu hanya bisa tersenyum pahit, bagaimanapun tidak ada yang bisa ia lakukan.
__ADS_1
Setelah dipersilahkan oleh Tante Naya, ketiganya pun masuk kedalam rumah itu,
Kinan mengedarkan pandangannya kesekeliling rumah.
Lebih besar dari rumahnya di Desa.
”itu kamar kamu ya”ucap Tante Naya kepada Ibunya yang hanya membalas menunduk, Kinan tahu bahwa ibunya masih segan dengan Tante Naya yang notabenenya adalah Kakaknya Ibu.
Ibu menggiring Kinan dan adiknya menuju kedalam kamar berukuran sedang itu, setidaknya cukup untuk mereka bertiga.
dengan perasaan lega, sang Ibu menghela nafasnya, kemudian merebahkan diri sejenak diatas ranjang.
“Ibu capek?”tanya Kinan, membuat sang Ibu menatap kearahnya
”enggak, ibu cuman agak ngantuk aja”sahut ibunya pelan.
Kinan mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang, membelakangi sang Ibu yang kini memperhatikan punggungnya
”kenapa Kin?”tanya sang Ibu, karena ia dapat merasakan bahwa sang Putri sedang gelisah
”Kinan, enggak nyaman ada disini”ucap Kinan pelan, jemarinya bergerak gelisah.
Ibunya yang terebah itu kembali menatap langit-langit kamar, terdiam sejenak.
membiarkan suara jam dinding menjadi pemecah sunyi diantara keduanya.
“Ibu tau kamu masih takut sama Bibi Naya”ucap sang Ibu pelan. Lagi-lagi ia menjeda kalimatnya, dapat Kinan dengar sang Ibu menghela nafasnya perlahan.
”ibu juga paham bagaimana sikap bibi kamu yang itu”lanjut ibu, kemudian ia mendudukkan dirinya, dan bersampingan dengan Kinan yang hanya menunduk menatap kedua kakinya yang berayun.
“Tapi, ibu mohon kamu tahan sebentar ya, temanin ibu dulu, biar kita sama-sama berjuang”ucap sang Ibu, jemarinya menggenggam tangan Kinan dengan lembut.
membuat Gadis kecil itu paham akan apa yang diucapkan oleh ibunya.
“Kinan, minta maaf ya bu karena ngerepotin ibu”ucap Kinan lirih, membuat sang ibu tersenyum ketir
”kalo itu kamu, ibu enggak apa-apa kalau harus direpotin terus”sahut Ibunya.
Mendengar hal itu, hati Kinan terasa nyeri,
ada rasa senang namun menyesakkan terjadi dalam dirinya.
Pikiran nya sedang beradu tanya, apakah itu baik atau sebaliknya?
Namun, ibunya sudah berucap demikian. Mau tak mau diapun harus percaya bahwa itu adalah hal yang baik.
karena hanya itu saja satu-satunya cara untuk ia dan ibunya bertahan hidup yaitu ‘percaya’.
__ADS_1