Memuja Bunda, Melupakan Ayah

Memuja Bunda, Melupakan Ayah
Rumah ini adalah ‘Neraka’ yang baru


__ADS_3

“Ibu mau kemana?”tanya Kinan kearah sang ibu yang tengah memasang sepatu Flat-nya.


Sambil mengucek matanya yang mengantuk, Kinan menatap sang Ibu yang tampak memeriksa seisi tasnya, seolah tidak ada yang boleh tertinggal.


”Ibu ada urusan dulu,ya. Kamu di rumah aja, jangan nakal,oke”ucap sang Ibu, yang dibalas Kinan dengan anggukan kecil.


Netra nya yang lelah menatap kearah benda berwarna cokelat yang dipegang sang Ibu


“Itu apa?”tanya Kinan, dagunya ia tumpukan pada senderan sofa.


dapat ia lihat sang Ibu tersenyum kecil


”ini berkas ibu buat nyari kerja. Yasudah ibu tinggal dulu ya”jawab Sang Ibu, kemudian ia melangkah keluar rumah.


Kinan berdiri, kemudian memperhatikan sang Ibu dari ambang pintu, ternyata ibunya naik ojek.


Gadis kecil itu berdadah kecil saat sang ibu tersenyum padanya, kemudian ibunya pergi, tak lagi ada dalam jarak pandangnya.


Kinan melangkah masuk, ia berjalan menuju kamar mandi yang ada di belakang hendak menyikat giginya.


Namun, sesampainya di dapur, Kinan tersentak sejenak melihat Paman nya duduk di meja makan


”P-paman”sapa Kinan dengan wajah menunduk.


“Paman, Paman. Panggil nya itu om, kira kamu di desa”belum lagi sapaan nya di jawab sang Paman, sahutan sang Tante sudah menyeruak di dapur itu.


Kinan bergetar, ia takut.


”M-maaf Om, Tante”ucap Kinan, sedangkan sang Tante hanya menatapnya sinis.


“Ambilin Piring”ucap Om Ferdi kepada Kinan yang langsung bergegas menuju rak piring.


sesaat setelahnya ia taruh piring kaca itu diatas meja, namun sang Om hanya diam menatap piring itu.


“Nunggu apalagi? Tuangin nasinya”ucap Om Ferdi lagi, dengan gemetar Kinan menuangkan Nasi hangat itu ke piring.


Setelahnya, Kinan terdiam, dengan wajah menunduk ia menatap pada jari kakinya,


ia gelisah, rasanya ruangan ini berudara hampa.

__ADS_1


Tante Naya yang sedari tadi menyantap makanannya pun menatap kearha Kinan


”Ngapain kamu? Udah sana”ucap Tante Naya, yang mana hal itu membuat Kinan langsung berjalan menjauh.


Gadis kecil itu langsung berjalan ke kamar mandi, di lantai dingin sedikit basah itu ia terduduk memeluk kedua kakinya, jemarinya meraih keran yang ada di sampingnya, suara semburan air yang menghantam ember itu membuat seisi ruangan itu riuh.


Kinan menangis, dengan nafas tersengal-sengal ia berusaha menutupi sesenggukan nya.


”aaaa tante”


Kinan menatap terkejut kearah pintu kamar mandi, sesaat setelah ia mendengar suara Aldo yang berteriak.


Dengan cepat, ia membasuh wajahnya dengan air, kemudian berlari menuju luar.


kemudian langkahnya terhenti sejenak, netranya melihat sang Tante yang menarik telinga sang adik


“Kamu pikir ini dimana? Mau tidur sampai jam berapa kamu?”ucap Tante Naya agak keras, sedangkan Aldo hanya bisa meringis menangis menahan sakit di telinganya.


Kinan berjalan menghampiri sang adik


”Tante, Jangan”seru Kinan sambil menyingkirkan tangan sang Tante dari adiknya.


”udah udah gapapa”ucap Kinan, sambil mengusap telinga sang adik, dan dapat ia lihat garis kuku membekas di telinga sang Adik.


“Ingat ya, kalian itu cuma numpang, jadi jangan seenaknya aja kalian tinggal disini”ucap Tante Naya,kemudian wanita itu kembali berjalan menuju meja makan.


Dengan mata memerah menahan tangis, Kinan bersitatap dengan Om-nya yang menatapnya sinis tak peduli.


Rumah ini adalah ‘Neraka’ yang baru.


Jam sudah menunjukkan pukul 4, namun sedari tadi sang Ibu belum juga pulang.


Kinan menatap sang adik yang tertidur pulas,


sedangkan ia hanya diam di pinggiran kasur untuk menjaga adiknya yang sedang tidur siang.


Jemarinya bergerak gelisah, sambil mencengkeram perutnya yang terasa sakit,


sesekali gerungan suara lapar berseru dari nya.

__ADS_1


Benar,


ia tak makan sejak pagi tadi,


walau sudah ditawarkan sang Tante,


tetap saja ia tak berani saat ditawarkan dengan suara dingin Tante Naya.


Krekk kring krekk


Kinan beranjak dari tempat tidurnya saat ia mendengar suara pagar beradu dengan kunci rantai, pertanda ada seseorang yang datang membuka pagar.


Gadis kecil itu melangkah pelan, ia bawa dirinya menuju pintu depan.


disanalah senyumnya merekah, sang Ibu sudah datang.


Kinan membuka pintu kayu itu, lalu berlari dengan tergesa. Membuat sang Ibu menyambutnya dengan bingung


”loh Kinan, kamu kenapa?”tanya Sang Ibu lembut


“Kinan kangen sama Ibu”jawab Kinan, suara menggumam karena wajahnya yang tenggelam pada tubuh sang Ibu.


”kamu ada-ada aja, baru juga pagi tadi ibu pergi”ucap sang Ibu, kemudian menuntun Kinan masuk kembali kedalam rumah.


Kinan melepas pelukannya, kemudian memegang tangan sang Ibu dan mengikuti langkahnya yang berjalan menuju kamar mereka.


“Ibu mandi dulu ya”ucap sang Ibu, dibalas anggukkan oleh Kinan.


dengan handuk yang bergantung di bahu, sang Ibu berjalan menuju kamar mandi,


Dari tempatnya berdiri menatap, dapat Kinan lihat noda kotor di kemeja putih itu.


Kinan kembali duduk pada pinggiran ranjang, mengusap dahi sang adik yang berkeringat.


sedangkan di sisi lain, sang Ibu kini meringis melepas celananya yang bernoda.


Saat kain hitam itu terlepas, dilihatnya bagian betisnya yang terluka karena terserempet oleh pengendara motor.


Jika saja ia tidak buru-buru dan lebih hati-hati lagi, tentu saja hal ini takkan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2