
Kinan terdiam, diambang pintu kamar itu, ia lihat Ibunya berjalan tertatih menuju dapur.
Dipagi buta ini, dengan mata mengantuk ia berjalan menghampiri sang Ibu.
telapak kakinya beradu dengan dinginnya lantai keramik, suara kajian surah-surah terdengar menyelimuti subuh itu.
“Ibu,Kenapa?”suara Kinan membuat sang Ibu tersentak, dengan mengelus dada, sang Ibu berbalik menatapnya
”Astaga Kinan, kamu bikin ibu kaget. Kamu ngapain bangun jam segini?”tanya Sang Ibu, sambil tangannya dengan cekatan mencuci piring dan gelas kotor yang menumpuk di pencucian.
“Kinan kebangun”jawab Kinan seadanya, ia bawa langkahnya menuju meja makan.
kemudian duduk disana memperhatikan sang Ibu yang sedang sibuk berkutat dengan kegiatannya.
“Ibu hari ini keluar lagi?”tanya Kinan, pipinya kini bersentuhan pada meja makan, bertumpu untuk melawan kantuknya yang perlahan muncul kembali.
lama tak bersuara, hanya ada deru angin fajar, serta dentingan piring kaca yang terdengar,
akhirnya sang Ibu berucap
”hari ini Ibu mau daftarin sekolah kamu, jadi kamu ikut ya”Jawabnya tanpa menoleh kearah sang Putri.
Kinan menegakkan tubuhnya, dengan wajah tak percaya, ia pun berucap
”Beneran?! Jadi Kinan sebentar lagi sekolah?!”ucap nya keras seakan-akan kantuknya memudar.
“Ssssstttt, Tante kamu masih tidur”ucap sang Ibu, telunjuknya bersentuhan dengan bibirnya, memberi isyarat agar Kinan tenang.
Kinan reflek menutup mulutnya dengan kedua tangannya
”iya, kamu tidur aja lagi. Nanti kamu malah ngantuk”terus sang Ibu lagi melanjutkan ucapannya.
Dengan perut yang berbunga, seolah-olah ada kupu-kupu beterbangan, Kinan berjalan menuju kamar mereka lagi.
Ia tak sabar, dirinya sudah tak sabar untuk bersekolah lagi.
Lambat laun, waktu pun berlalu,
Kelopak mata Kinan berkedut gelisah saat merasakan sebuah sentuhan di pipinya
”emhh”dengan suara parau nya ia pun membuka mata, disaat itulah ia bertemu tatap dengan Ibunya
“Kamu nyenyak banget, daritadi Ibu bangunin, tapi enggak bangun-bangun”ucap sang Ibu, Kinan pun terduduk, dengan langkah terhuyung serta handuk dipundak, ia berjalan menuju kamar mandi.
Membersihkan tubuhnya, agar ia siap menghadapi hari ini lagi.
Tak lama kemudian ia pun keluar, sesaat setelah membuka pintu kamar mandi, ia dibuat terkejut saat netranya bersitatap dengan Om Ferdi
“O-om”salam Kinan dengan wajah menunduk, kemudian melangkah menjauh dengan tergesa, sedangkan Om Ferdi hanya menatapnya sinis sekilas kemudian kembali fokus pada ponselnya.
“AKKHHHH”
namun, hal mengejutkan terjadi, dengan wajah meringis, Tante Naya menatap nyalang kearah Kinan.
Dirinya tersungkur dilantai karena terpeleset
”kamu gimana sih?! Hah?! Mau buat tante celaka apa gimana?!”teriak Tante Naya keras.
__ADS_1
Kinan yang sadar Tante Naya terpeleset karena titisan air dari rambutnya, hanya bisa meminta ampun dalam hati.
Ia ketakutan, lidahnya kelu.
”kenapa Kin- Astaga Naya kamu kenapa?”Ibunya Kinan menghampiri Tante Naya,
saat ia berusaha membantu, dengan sengaja tangannya ditepis oleh Adiknya itu.
“Kak, kamu ajarin yah Kinan ini! Kalo rambut ya dipakein handuk! Jangan dibiarin kayak gini! Kalo aku sampai kenapa-kenapa gimana?!hadehhh”marah Tante Naya dengan suaranya yang terdengar meledak-ledak.
Kinan terpaku, tubuhnya diam membeku karena ketakutan.
sedangkan telinganya terus mendengar suara Ibunya yang berucap maaf.
lagi-lagi ia membuat ibunya meminta ampun atas dirinya.
Dengan langkah gemetar, Kinan memundur menuju pintu kamar mereka
”M-maafin Kinan,Tante”ucap Kinan kemudian langsung masuk kedalam kamar.
Didalam sana, ia melihat sang adik yang tampak ketakutan, ia menghampirinya kemudian merengkuh tubuh Aldo dengan perlahan.
tangannya memeluk dengan gemetar.
Ketakutannya belum hilang,rasanya masih sesak di dadanya.
takut, begitu menakutkan.
itu yang ia rasakan.
Tak berselang lama, sang Ibu masuk kedalam kamar.
PLAK!
PLAK!
“Ada aja kelakuan kamu setiap hari”
Sang Ibu berucap dengan suara menekan, geraham nya berderif menahan emosi, tangannya terus berayun melayangkan tamparan.
Kinan menangis, dengan susah payah ia menahan suaranya.
lebih sesak, dadanya menjadi lebih sesak menerima pukulan-pukulan sang Ibu di punggungnya.
“Hahhh”suara nafas sang Ibu menderu keras, dari ekor matanya, dapat Kinan lihat sang ibu duduk di pinggiran kasur.
sambil mengusak rambutnya, wajah musim semi itu berubah dingin frustasi.
“Udah, sekarang kamu siap-siap aja! Kita sebentar lagi berangkat”ucap sang Ibu, kemudian berdiri memilah pakaian.
Dengan nafas sesenggukan,Kinan pun ikut serta mempersiapkan dirinya.
ia tak sabar ingin sekolah, setidaknya ia tak akan ada dirumah ini sampai waktu pulang.
Waktu berlalu, dengan Aldo yang berada digendongan sang Ibu, merekapun berjalan neriringan.
Kinan terus memperhatikan jalan komplek itu, mencari dimana gerangan Ojek yang dipesan Ibu.
__ADS_1
namun, lambat laun ia dapat mendengar suara anak-anak sepertinya saling bersahutan,
dan tak salah lagi ternyata itu adalah sekolah dasar.
Tak jauh dari rumah tante Naya, hanya sekitar lima menit berjalan kaki.
didepan gerbang sekolah berwarna cokelat itu, sang ibu menurunkan Aldo.
ketiganya berjalan beriringan menuju tempat administrasi.
Prosedur demi prosedur dan berbagai hal lainnya
”sampai ketemu besok ya Kinan”ucap guru perempuan bernama Muslifah itu padanya,
akhirnya pendaftaran selesai.
Sambil memegang seragam dipelukannya, mereka kembali berjalan beriringan.
dengan senyum yang ia coba sembunyikan, Kinan terus memeluk seragam itu erat.
”besok bangun pagi ya, biar berangkat bareng ibu sekalian nyari kerja lagi”ucap Ibu.
Kinan tertegun, kemudian ia menatap Aldo yang berada diantara ia dan ibunya
”lalu Aldo gimana bu?”tanya Kinan, langkahnya terhenti, dengan kepalanya yang mendongak menatap sang Ibu.
Sang Ibu yang berada didepannya pun berbalik sambil menatapnya bingung
”ya Aldo dirumah aja sama tante Naya”jawab sang Ibu, raut bingung di wajahnya menunjukkan bahwa ia tak mengerti maksud ekspresi Kinan.
“Kenapa Kin? Ada yang salah?”tanya Ibu nya lagi
”eh engga kok, engga apa-apa”jawab Kinan sambil menggelengkan kepalanya.
Namun, pikirannya berkecamuk,
ia takut kalau Tante Naya bakalan berperilaku kasar ke Aldo. Apalagi Aldo masih kecil, masih suka teledor dan kurang hati-hati.
Hati kecilnya terus berdoa,
rapalan-rapalan apapun ia ucap agar sang Adik baik-baik saja.
karena ketakutan hari ini begitu menghantuinya.
Jika bisa, ia lebih memilih membawa sang Adik ke sekolah daripada tinggal dirumah Tante Naya.
Rumah yang begitu ingin ia hindari,
karena ia tak tahu akan sejauh apa Tante Naya dan Om Ferdi akan bertindak.
yang pasti, ia takut kalau itu akan dihadapi oleh Aldo, adiknya yang hanya tahu bermain.
“Beneran?”celetuk sang Ibu, membuatnya tersadar dari bincangan batinnya
”e-eh iya, ayo bu kita pulang”ucap Kinan kemudian ia melangkah lebih dulu, meninggalkan sang Ibu yang sebenarnya mengerti apa yang putrinya pikirkan.
Jemari sang Ibu memegang erat tanga Aldo yang bertaut padanya
__ADS_1
”Kamu beruntung punya kakak kayak Kinan”ucap sang Ibu, pada Aldo yang tersenyum mengangguk.