
“Kinan, kalau ibu menjelaskan, jangan melamun ya”seru seseorang didepan sana.
Kinan yang sedari tadi tak fokus, akhirnya tersadar saat ia ditegur oleh sang guru.
”baik bu”sahutnya pelan, kemudian ia mencoba fokus dengan pelajaran.
Tapi, lambat laun pikirannya kembali memikirkan hal lain, banyaknya hal yang terjadi saat ini membuatnya selalu tak henti-hentinya dibuat gusar.
“Huhhh” Kinan mendengus, membuat Aisha melirik kearahnya
”kenapa Kin?”ucap Aisha dengan suara berbisik,membuat Kinan menatapnya sekilas
”engga apa-apa kok”sahut Kinan sama pelannya.
Lama waktu berlarut, sampai pada akhirnya Kinan akhirnya pulang.
kakinya ia bawa menyusuri jalanan aspal itu,
berjalan menuju rumahnya.
Sepanjang jalan, ia hanya bisa terdiam.
biasanya bibir kecil itu bernyanyi pelan sepanjang pulang, namun beberapa hari ini ia merasa malas melakukannya.
Karena pada dasarnya, ia memang sedang tidak bahagia.
Kinan terus berjalan, hingga netra nya mulai dapat melihat rumahnya dari jauh.
Semakin dekat dan semakin dekat,
kemudian sayup-sayup ia mendengar suara tangisan dari dalam rumah.
Kinan pun berlari menuju rumahnya, ia bawa langkahnya masuk kedalam, membiarkan sepatunya terhambur sembarangan.
Setelah itulah dapat ia lihat sang adik menangis dipangkuan ibunya.
gadis kecil itu mendekat
”Assalammualaikum”ucapnya pelan dan disahut sang ibu sama pelannya.
Dapat ia lihat sang Ibu berusaha menenangkan adiknya yang terus menangis,
sambil mengucapkan satu kata yang sama terus-menerus,
Yaitu ‘Ayah’
Kinan mengusak wajahnya, bagaimanapun adiknya pasti akan rindu dengan Ayah.
__ADS_1
gadis kecil itu berjalan menuju kamarnya,
ia obrak-abrik susunan pakaiannya, mencari sesuatu di tumpukan baju-baju itu.
Dan akhirnya ia menemukannya,
uang pemberian Ayah.
Kinan kembali ke ruang tamu,
kemudian ia mendekat kearah adiknya
”Dek, ini dari Ayah buat adek”ucap Kinan,sambil menunjukkan uang lima puluh ribu,karena sebelumnya ia sudah menggunakan sebagian pemberian sang Ayah untuknya.
Sang Ibu yang mendengar hal itu,
mendongak menatap kearahnya,
kemudian merebut uang itu dari tangan Kinan.
Dapat Kinan lihat sang Ibu meremas uang itu,
dan betapa terkejutnya Kinan saat uang itu dilempar sang ibu keluar rumah.
“Ibu!”seru Kinan keras, kemudian gadis itu berlari menuju luar dan mengambil gumpalan uang itu lagi.
Dan dari dalam rumah itu, dapat ia dengar sang ibu berucap menekan padanya
”Ibu enggak sudi ngelihat kalian makan uang dari Ayahmu lagi!”ucap sang Ibu,membuat Kinan berdiri dan berjalan tergesa kearahnya.
“Tapi kan ini dari Ayah!”seru Kinan keras, dengan wajah penuh tangis, ia berjalan menuju kamarnya
”Ibu enggak mau kamu terima apa-apa lagi dari Ayah”sahut Ibunya lagi
”Ibu aneh! Kan itu masalah Ayah dan Ibu! Kenapa aku yang jadi korbannya?!”seru Kinan lagi dengan keras dari dalam kamarnya.
Ia menangis,menangis dan menangis sesenggukan dibalik pintu kayu itu,
dan dapat ia dengar pula Aldo ikut semakin menjadi-jadi.
BLAM
suara bantingan pintu itu membuat Kinan menghentikan tangisannya, dengan tangan gemetar ia pun membuka pintu.
Kinan berjalan pelan menuju ruang tamu yang temaram, dan dapat ia lihat sang adik duduk terdiam di lantai.
“Ibu k-kemana?”tanya Kinan tergagap kearah adiknya yang hanya menatap pintu luar.
__ADS_1
Sesaat setelahnya Kinan langsung berlari menuju luar
”IBU! IBU! IBU!”teriak Kinan memanggil sang Ibu yang pergi entah kemana.
Gadis kecil itu kembali kedalam rumah, kemudian menghampiri sang adik dan menariknya ikut keluar.
”kita cari ibu”ucap Kinan, kemudian menutup pintu.
Keduanya berjalan setengah berlari berkeliling sekitar komplek, mencari keberadaan sang ibu yang entah kemana.
”Ibu! Ibu kemana?! Kinan janji enggak nakal lagi!”teriak Kinan berulang kali,dengan harapan bahwa sang ibu akan muncul dengan janji itu.
Genggaman pada adiknya semakin mengerat,
seluruh tubuhnya ketakutan jikalau sang ibu akan ikut pergi meninggalkannya.
“Kak, mau nyari kemana lagi?”tanya sang adik, sedangkan Kinan hanya diam, karena ia sedang berpikir keras.
“K-kita kerumah Bi Ami, kita kesana dulu”ucap Kinan kemudian menarik lengan sang adik, agar ia dapat menyamakan langkahnya.
Namun, belum sampai pada rumah Bi Ami,
Kinan menghentikan langkahnya, dilihatnya seseorang yang ia kenali sedang duduk di warung dengan wajah yang menelungkup, bertumpu pada meja.
Yaitu Ibunya.
Dapat ia lihat, sang Ibu sedang menangis.
bahu yang bergetar,kepalan tangan yabg semakin merapat, dan bibi pemilik warung yang mengelus punggungnya dengan lembut.
Kinan tertunduk, ditatapnya kedua kakinya dengan tatap buyar, ia juga lupa kalau hal ini adalah hal yang sama beratnya bagi sang ibu.
“Kita pulang aja ya dek”ucap Kinan,kemudian kembali menuntun Aldo pulang kerumah.
mengabaikan Aldo yang terus menunjuk sang ibu yang berada di warung.
Dengan perasaan lelah, Kinan pun memilih pulang. Ia terlalu lelah untuk hari ini, terlalu banyak langkah yang ia lakukan.
Terlalu banyak sekedar untuk menghadapi satu hari ini.
satu hari yang bahkan ia tidak tau akan seperti ini.
Entah apa yang akan terjadi dimasa depan,
ia hanya berharap yang terbaik.
jikalau sulit pun, ia harap Tuhan memberikannya kekuatan untuk terus melangkah.
__ADS_1