Memuja Bunda, Melupakan Ayah

Memuja Bunda, Melupakan Ayah
Dunia sudah terlalu berat untuk sang Ibu, ia malah membuatnya kembali meminta ampun


__ADS_3

Tak tak tak


Suara pisau yang beradu dengan talenan kayu itu, terdengar dipenjuru dapur itu.


bersahutan dengan suara adukan sayur tumis di wajan.


berhari-hari sudah Kinan dan ibunya saling diam.


Keduanya masih saling membantu, hanya saja tak banyak percakapan yang terjadi diantara keduanya.


Kinan terdiam menatap jemarinya yang terus memotong wortel itu, sedangkan sang ibu masih sibuk menumis.


“Bu”panggil Kinan halus, suaranya terdengar pean memanggil sang ibu yang masih diam.


sesekali Kinan melirik kearah ibunya, berharap netra keduanya bertemu.


Namun,tetap saja sang ibu sibuk dengan dirinya sendiri, seolah Kinan tak ada disitu


”Bu, maaf-“


”nanti temenin Ibu ke kebun yah”sela sang Ibu, membuat Kinan terdiam sejenak.


Kemudian, dapat ia jawab ajakan sang Ibu dengan mengangguk mengiyakan.


Kinan tersenyum kecil, setidaknya kali ini sang ibu menyahutnya.


Lama waktu berlalu,


Kinan sekarang hanya memandang punggung sang Ibu yang berjalan didepannya.


sambil sesekali ia tersenyum kepada Aldo yang berada digendongan ibunya.


setapak demi setapak, langkah demi langkah,


keduanya lewati dengan perlahan dan penuh kehati-hatian.


hingga akhirnya sang Ibu menghentikan langkahnya, Kinan menatap sang Ibu yang kini menurunkan sang adik dari gendongannya.


“Kinan, jaga adek ya. Ibu mau bersihin kebun dulu”ucap Ibunya pelan tanpa menatap Kinan.


kemudian diraih Kinan lengan sang adik, dan ia genggam dengan erat.


Sambil menggiring sang adik, ia mengikuti langkah sang ibu.


berdiri dibelakangnya yang kini sibuk membersihkan rumput dengan parang itu.


Kinan termangu, diperhatikannya pelipis sang ibu yang bercucur peluh


”Ibu enggak cape?”tanya Kinan


”enggak, kamu ke gubuk itu aja,biar ibu selesain ini dulu”ucap sang ibu, kemudian Kinan pun berjalan menuju gubuk kayu yang berada tak jauh darisana.


Gadis kecil itu mendudukkan dirinya,


dari gubuk itu, ia tatap sang ibu yang terus bergerak tanpa henti.


Kasian, ibu.


Ucapnya dalam hati.


Lambat laun, waktu berjalan.

__ADS_1


akhirnya sang ibu menghampirinya dan duduk disampingnya.


kinan menundukkan kepalanya terdiam, jemarinya bertautan dengan gelisah.


Sang ibu menatap kearahnya, kemudian terdengar helaan nafas dari belah bibir wanita itu


”Kinan”ucap sang ibu pelan, terdapat jeda sejenak darinya.


“Maafin ibu ya”lanjutnya lagi, membuat Kinan kini menatap kearah sang ibu.


dari tatapnya, dapat kinan lihat bagaimana dunia berputar dibola mata yang menatap langit itu.


“Seharusnya ibu enggak marahin kamu, padahal kamu kan enggak salah apa-apa”ucap sang Ibu lagi, Kinan yang mendengarnya hanya bisa terdiam.


Gadis kecil itu merasa kalut, bukannya puas dengan maaf sang ibu, tapi ia malah merasa semakin bersalah.


Dunia sudah terlalu berat untuk sang ibu, ia malah membuatnya kembali meminta ampun.


“Ibu juga minta maaf karena udah bohong”ucap sang Ibu, membuat Kinan kembali menunduk menatap kakinya yang berayun.


“Sebenarnya ayah enggak kerja keluar kota, tapi ayah dan Ibu mutuskan buat pisah”ucap ibunya lagi.


Entah apa yang terjadi, hati Kinan terasa mencelos. Dadanya menjadi sesak begitu saja, seperti ada yang menumbuk dadanya dengan kayu.


Matanya gemetar mendengar ucapan sang ibu


”dan ibu enggak tau lagi gimana mau jelasin ke kamu”begitupula suara sang ibu yang kini terdengar lirih menahan sengguk.


“Enggak apa-apa kok bu”sahut Kinan pelan, kemudian ia mendongak menatap sang ibu yang memperhatikannya.


”selama ada ibu, Kinan enggak apa-apa bagaimanapun keadaannya”ucap Kinan lagi, membuat sang ibu tak mampu menahan diri.


Direngkuhnya tubuh sang putri,


dagunya yang bertumpu pada puncak kepala sang putri, membuat Kinan dapat merasakan gemetarnya sang ibu sesenggukan.


Biarkan, biarkan saja.


dalam hati, Kinan terus berucap bahwa ini adalah yang terbaik.


biarkan saja sang ibu mengadu lebih banyak pada dunia, biar seisi penuhnya tahu betapa rapuhnya sang ibu selama ini.


-


Kini, ketiganya kembali ke rumah.


dengan perasaan yang baik, Kinan berpegang tangan dengan sang ibu.


Ringan,


hari ini langkahnya terasa ringan,


entah apa itu, tapi rasanya beban yang ia rasakan hampir tak terasa.


Setidaknya untuk hari ini saja tak apa ia berbahagia, walau ia akan kembali bertaruh dengan hari esok.


setidaknya hari ini terlewati dengan nyaman.


Senyaman ia memandang rekahan senyum sang ibu. Yang mana itu adalah hal yang paling ia suka pandang setiap harinya.


“Ibu”panggil Kinan, dan dapat ia lihat sang ibu menyahut nya dengan senyuman

__ADS_1


”engga apa-apa hehe”sahutnya lagi sambil menggelengkan kepalanya.


lama ketiganya berjalan, akhirnya mereka pun sampai pada rumah itu.


rumah berlindung mereka selama ini,


tempat ternyaman setelah pelukan orang tersayang.


Kinan merebahkan tubuhnya pada sofa,


sedangkan sang ibu menggiring sang adik menuju kamar mandi.


netranya menatap langit-langit ruang tamu itu.


Biasanya sang Ayah akan duduk disini sambil menonton berita di televisi.


namun, jangankan kehadirannya,


pakaian sang ayah pun sudah tak ada lagi didalam lemari.


Yang tersisa hanyalah jaketnya yang tergantung di dapur,


masih beraroma tubuh sang Ayah,


setidaknya ada hal yang membuatnya dapat mengobati rasa rindunya.


Karena ia pun tak tahu pasti kapan sang Ayah akan pulang, bisa jadi besok,lusa,atau bertahun-tahun yang akan datang.


“Kinan, cuci kaki kamu dulu”


gadis kecil itu terperanjat kaget mendengar seruan ibu dari kamar mandi, ia yang kini terduduk pun bergerak menuju kamar mandi.


Dan disana dapat ia lihat sang ibu memandikan adiknya,


biasanya sang ayah akan memegang tubuh sang adik, lalu ibu akan membersihkan tubuhnya.


Namun sekarang, aldo mau tak mau menumpukan kedua tangannya pada bahu sang ibu, membuat pakaian itu sedikit basah karenanya.


kinan mengela nafasnya, lagi-lagi ia merindukan sosok sang Ayah yang sudah berhari-hari tak ia jumpai.


namun, ia lebih bersyukur karena adiknya kini tidak lagi menangis mencari keberadaan sang kepala keluarga itu.


Kinan kembali keruang tamu, dari ambang antara ruang tengah dan ruang tamu itu, dapat ia lihat bingkai foto mereka sekeluarga berfoto bersama.


Setidaknya ada yang tersisa.


ucapnya dalam hati.


Bagaimanapun, hidup ini terus berjalan.


dan ia akan tetap menjalani hari esok,lusa dan seterusnya.


jadi, berlarut-larut dengan rasa sedihnya akan jadi sama saja.


pada akhirnya ia tetap harus melangkah maju,


menghadapi apa yang akan datang selanjutnya.


Kinan hanya berharap, semoga saja ia dapat menjadi dewasa, agar ia bisa cepat-cepat melakukan semua yang bisa ia lakukan untuk membantu ibunya.


Rasanya ia tersayat melihat bulir keringat mengaliri dari dahi menuju pelipis sang ibu,

__ADS_1


ia lakukan untuk sesuap nasi dan biaya sekolahnya.


Sepertinya, ribuan terima kasih juga kurang untuk ia tuturkan.


__ADS_2