Memuja Bunda, Melupakan Ayah

Memuja Bunda, Melupakan Ayah
Wajahnya ia benamkan pada bantal


__ADS_3

“Kin, kamu enggak ikut main dulu?”


Kinan menggelengkan kepalanya saat Aisha bertanya padanya


“Aku mau langsung pulang aja”jawab Kinan, wajahnya ia buat seolah-olah ia capek sekolah seharian. Aisha pun tersenyum maklum


”yaudah deh, lagipula itu Ayah kamu sudah jemput”ucap Aisha,sambil menunjuk kearah belakang Kinan.


Gadis kecil itu terdiam membeku mendengar ucapan Aisha, Ayahnya yang sudah hampir satu minggu tidak ia jumpai, malah terdengar dalam ucapan anak ini.


Kinan berbalik, kemudian dapat ia lihat sang Ayah berdiri didepan gerbang sekolahnya.


tatapannya bergetar, jemarinya meremas tali tasnya.


Sesaat setelahnya, ia langsung berlari menuju sang Ayah.


”Ayah!”seru nya dari jauh, dapat dilihatnya senyuman sang Ayah yang merekah.


Hingga akhirnya sang Ayah merunduk dan menangkap tubuh Kinan yang berlari padanya


”Ayah kenapa engga pulang?”ucap Kinan pelan dengan wajah sedihnya.


Sang Ayah tersenyum ketir melihat ribuan emosi tersembunyi diwajah polos itu


”engga kok, ayah pasti pulang. Adek kamu gimana?”tanya sang Ayah, dan disanalah perbincangan keduanya bermula.


Tentang bagaimana hidup keduanya saling berjalan tanpa bersisian.


Larut akan waktu, sang Ayah yang mengiringinya sepanjang jalan pulang,


Kini menghentikan langkahnya tepat dibatas antara jalan dan pekarangan rumah.


Kinan yang berjalan lebih dulu pun berbalik menatap Ayahnya dengan bingung


”kok Ayah enggak masuk?”tanya Kinan,namun lagi-lagi Ayahnya hanya tersenyum.


“Ayah kesini cuma mau lihat kamu dulu sebelum pergi lagi”ucap sang Ayah, membuat Kinan kembali berjalan menujunya dengan gemetar.


dapat sang Ayah lihat wajah sang Putri memerah menahan tangis


”Ayah mau kemana lagi? Emangnya Ayah kerja dimana? Nanti pulang lagi enggak?”tanya Kinan bertubi-tubi dengan suaranya yang terdengar parau.


Sang Ayah mengalihkan pandangannya, enggan menatap Kinan yang mulai menangis


”kamu tenang aja, nanti Ayah pulang,kok”ucap sang Ayah sambil mengusap pelan kedua bahu Kinan yang gemetar.


Sesaat kemudian terdengar sebuah klakson mobil dari kejauhan, membuat keduanya menatap kearah mobil hitam di ujung jalan itu


”sudah ya, teman Ayah udah jemput. Ini uang buat kamu sama Aldo jajan yah”ucap sang Ayah sambil menyerahkan satu lembar uang seratus ribu kepada Kinan.


”janji ya pulang”ucap Kinan lagi,membuat senyuman ketir kembali terukir dibelah bibir sang Ayah


”iya,Kinan”jawab sang Ayah, kemudian ia berdiri dan berjalan menuju mobil hitam tadi.


meninggalkan Kinan yang berdiri melihatnya pergi dari jauh.

__ADS_1


Kinan mengadahkan tangannya saat ia lihat sang Ayah berdadah padanya dari dalam mobil, dan sesaat setelah mobil itu jauh dari pandangnya.


gadis kecil itu berlari menuju rumahnya,


didalam rumah yang sepi itu, ia menuju kamarnya.


wajahnya ia benamkan pada bantal, kemudian ia menangis sejadi-jadinya. Suara tipisnya berubah parau karena tenggorokkannya mengering.


Pahit.


air matanya pahit, sangat pahit.


hingga ia terus mengusaknya dari belah bibirnya, karena ini bukan tangisan merajuk, tapi tangisan dimana ia merasa lemah untuk dirinya dan hidupnya.


“Assalammualaikum”suara dari pintu depan itu membuat tangisannya menipis.


dapat ia dengar langkah kaki menuju dapur, itu ibu dan adiknya yang baru saja pulang.


“Kin,Kinan”panggil Ibunya,


Kinan mengusak wajahnya dengan tergesa,


jemarinya bergetar dan dengan langkah terburu ia berjalan menuju pintu kamarnya.


Ia membuka pintu itu pelan, kemudian membiarkan sedikit wajahnya yang muncul diambang pintu


”eh Ibu udah pulang”seru Kinan dengan suara yang ia paksakan.


“Iya, kamu belum makan kan? Tunggu bentar yah, ibu mandi dulu baru masak”ucap sang ibu sambil menaruh barang-barang yang ia bawa dari kebun.


Tapi, Kinan tahu itu bohong.


bagaimanapun juga, Ibu harus mencari uang untuk bertahan hidup sekarang.


”Kinan juga baru sampai rumah, kalo gitu Kinan ganti seragam dulu ya bu”ucap Kinan kemudian menutup kembali pintu kamarnya.


berat,sungguh berat.


baru seminggu saja, sudah sangat sulit untuk ia taklukan.


Entah bagaimana bertahun-tahun yang akandatang.


mungkin kalau kata orang-orang, ini yang namanya didewasakan oleh keadaan.


Kinan tertawa dalam hatinya.


karena terasa aneh saja baginya untuk sudah mengerti semua hal ini dalam waktu yang sesingkat ini.


Seolah-olah ia diminta untuk mengerti tentang semua yang terjadi, bahwa akan sulit baginya kalau tidak menerima begitu saja.


Berlalu beberapa saat, Kinan pun keluar dari kamarnya.


dilihatnya sang Ibu sedang duduk di meja makan sambil jemarinya membersihkan daun singkong.


“Kinan bantu ya bu”ucap Kinan, kemudian duduk di samping Ibunya.

__ADS_1


Tik tik tik


Bunyi patahan daun singkong itu menjadi pemecah sunyi diantara keduanya, Kinan sesekali melirik kearah ibunya yang tampak tenang.


Merasa diperhatikan sang ibu pun membuka suara


”kenapa Kinan? Ada yang mau kamu omongin sama Ibu?”ucap sang Ibu sambil tersenyum tipis sekilas kearah Kinan yang masih diam, kemudian kembali melanjutkan membersihkan daun singkong itu.


Kinan berpikir, apakah Ibu sudah lupa dengan yang terjadi atau ibu memang begini.


Lama ia berpikir, Kinan pun mulai berbicara


“Tadi Kinan ketemu Ayah”ucap Kinan, sang Ibu tersentak sejenak, jemarinya tak bergerak dan terdiam sesaat.


Dapat Kinan lihat netra sang Ibu bergerak gelisah, seakan ada yang ditahannya.


”K-kinan ket-temu Ayah dimana?”tanya sang Ibu yang kini menatapnya dengan tatapan ketir.


“Disekolah,lalu dianterin Ayah pulang”ucap Kinan, membuat sang Ibu turun dari kursi itu.


dengan bertumpu lutut,sang Ibu berusaha menyamakan tingginya dengan Kinan yang masih duduk di kursi.


“Jawab ibu, lalu Ayah kamu kemana?”tanya sang Ibu agak menekan kalimatnya, tanpa sadar jemarinya meremas lengan Kinan.


“B-bu tangan Kin-“


“Jawab ibu, Kinan”sela Ibu, membuat Kinan merasa sulit karena remasan itu terasa perih baginya


“Bu, sakit”ringis Kinan dengan bulir air mata yang mulai muncul pada kedua matanya.


Sang Ibu tetap menatapnya dengan nyalang, dapat Kinan lihat kedua mata itu memerah menahan tangis dan amarah


”Bu, sakit bu! Ibu!” Ringis Kinan sambil menangis meringis berusaha lepas dari genggaman sang Ibu.


“KINAN, JAWAB KINAN!”


”Bu, Sakittt lepasiinn buu”


”KINAN! JAWAB IBU!”


”Bu!!”sahut Kinan lagi dengan tangisannya yang kini menghambur meluap-luap.


Hal itu pun membuat Ibunya tersadar,


genggaman itu terlepas begitu saja, membuat sang Ibu termundur hingga terduduk pada lantai dengan terkejut.


Dengan mata merahnya, ia tatap jemarinya, kemudian ia perhatikan lengan Kinan yang berbekas merah.


Ibu bergerak cekatan mendekat kearah Kinan yang masih menangis dengan keras,


direngkuhnya tubuh kecil itu dan dihamburkannya ciuman pada lengan yang sedang perih itu.


”maafin ibu,Kinan. Maafin ibu”ucap sang Ibu berulang kali pada Kinan, berulang kali bagaikan sebuah pengampunan.


“Maafin ibu,maafin ibu”terus dan terus kata itu terucap dalam dapur kecil itu,

__ADS_1


Tanpa henti, tanpa henti dan tanpa henti.


__ADS_2