
Kinan menatap ibunya dari sela pintu,
dapat ia lihat wajah ranum menua ibunya berbicara dengan Tante Naya di Ruang tamu.
“Kak, Ibu ngapain?”
Kinan berbalik, ditatapnya sang Adik yang duduk dipinggiran ranjang.
“Enggak tau-“
Belum selesai ia berucap, Kinan terkejut saat pintu yang ia tahan terdorong karena dibuka dari luar.
Ia termundur, kemudian netra nya beradu tatap dengan sang Ibu
”kamu ngapain Kin?”tanya Ibunya, kemudian ia merunduk mensejajarkan dirinya dengan Kinan.
Ibu mengulurkan tangannya kearah Aldo, membuat si kecil itu berjalan menghampiri ibunya. Dengan kedua tangannya, Kinan dan Aldo direngkuh sang Ibu dengan erat.
Dapat Kinan rasakan elusan lembut jari sang ibu mengusak rambutnya.
Kinan diam, membiarkan sang Ibu menebar kasihnya untuk sebentar.
“Besok ibu cari kontrakan, nanti kita ngontrak aja dulu ya”ucap Ibu pelan, dan dijawab Kinan dengan anggukan walau ia tak terlalu paham maksud sang Ibu.
Ibunya melepas pelukannya, kemudian di tatapnya Kinan dan Aldo bergantian, dengan netra yang menatap nanar, Ibu kembali merasa sakit dan sesak pada hatinya, ia merasa kasihan pada kedua anaknya yang menderita karena nya.
Ibu tersenyum kecil, namun dapat Kinan lihat senyum itu tampak pahit
”ibu kenapa?”tanya Kinan pelan, sedangkan Aldo hanya diam disampingnya
”enggak apa-apa, ibu cuman lagi capek aja”ucap Ibu pelan, sangat pelan, seakan-akan nafasnya menyekat tenggorokkannya.
Kinan yang merasa tak nyaman harus bertanya lagi pun memilih diam
”yasudah, kalian tidur aja sekarang, besok kamu sekolah kah Kin”ucap Ibu, kemudian diiringnya kedua anaknya menuju tempat tidur.
Kinan merebahkan dirinya,
Membelakangi tubuh sang ibu,
kemudian mengusahakan dirinya yang resah untuk tidur.
Menit demi menit,
sayup-sayup Kinan mendengar suara sesenggukan yang tertahan, dari belakang ia merasakan seperti ada yang bergetar, namun ia enggan untuk berbalik, dan tetap memaksakan dirinya untuk menjemput alam mimpi.
Sedangkan disisi lain,
sang ibu berusaha menahan isakkannya,
sembari menumpahkan lemahnya ia pada dunia, tetap saja ibu berusaha kuat untuk kedua dunianya.
.
“Aku baru dibeliin ini sama Bunda”
__ADS_1
Kinan diam meperhatikan kedua temannya yang berbicara didepannya.
Gadis itu melirik kearah kotak pensil berwarna merah muda dengan gambar animasi yang feminin di tangan temannya.
“Ihh kamu manggil, mamah kamu Bunda yah?lucu banget”sahut yang berada sebangku dengan teman Kinan itu.
Kinan hanya diam,
ada rasa dimana ia merasa cemburu dengan apa yang didapat oleh temannya itu.
Gadis itu kembali menggerakkan pensilnya, melanjutkan lagi tulisannya yang terjeda sesaat.
Diamnya itu menutupi isi penuh pikirannya,
Panggil Bunda, Ingin kotak pensil.
Dua hal itu terus berputar dikepalanya,
pada akhirnya, hatinya berkata nanti saja di rumah ia memutuskan.
Berlarut untuk waktu yang kesekian,
Kinan pun mengakhiri kegiatan menuntut ilmunya, dengan langkah tergesa, ia terus mempercepat langkahnya, karena ia sudah tidak tahan untuk mengatakan apa yang ia sudah putuskan pada ibunya.
Krekkk
Bunyi pagar besi yang terbuka itu memcecah sunyi, hingga berlanjut Kinan yang berlalu menuju kamarnya.
Disaat ia membuka pintu,
perasaannya yang sebelumnya berbinar penuh harap, kini tergantikan oleh rasa perih.
Ada perasaan yang tak ia pahami, tapi dadanya sesak karena hal itu,
yaitu saat ia melihat sang Ibu mengemas pakaian mereka lagi.
Benar,lagi.
Ibu menoleh kearahnya dengan bingung
”kenapa Kin? Ada yang mau kamu bilang?”
ucap Ibu, seolah tahu dengan apa yang ada pada putrinya.
Kinan menggeleng pelan, sembari senyum tipisnya bertampil pada netra sang ibu.
Gadis kecil itu melangkah mendekat, membuat ibu yang sedari tadi sibuk mengemas pakaian mereka pun kembali menyambutnya.
“Ada apa nih anak ibu? Pasti ada yang di mau kan?”canda ibu, senyum beliau yang merekah membuat Kinan tak tahan untuk ikut tersenyum.
“Enggak kok hehe”kekeh Kinan, membuat sang ibu semakin menatapnya selidik penuh canda.
”yang bener???kalo ga bilang, ibu gelitik nih”ucap Ibu, jemarinya bergerak menggelitik perut kecil Kinan.
membut seisi kamar itu riuh dengan suara gelak tawa
__ADS_1
”hahaha iya-iya, Kinan mau bilang nih”ucap Kinan, membuat ibu menatapnya dengan penasaran akan apa yang diminta putri kecilnya ini.
“Kinan boleh panggil Ibu dengan kata Bunda aja ga?”ucap Kinan, wajah polosnya menyertai pandangan sang ibu.
diam sejenak, kemudian Senyuman ibu menyambut Kinan
“Boleh dong, gitu doang masa gaboleh sih”ucap Ibu, kemudian mencubit hidung Kinan pelan
“Yasudah, kamu mandi sana, udah bau keringat”ucap Ibu sambil menutup hidungnya
”ihhhh ibu, eh Bunda!”ucap Kinan kemudian berlari menuju kamar mandi.
meninggalkan sang Ibu yang terkekeh.
Dan mulai hari itu,
Ibu terganti menjadi Bunda,
kata yang dianggap lucu oleh anak-anak yang belum terlumur dosa.
.
“Barang kamu enggak ada yang ketinggalankan?”tanya Bunda kepada Kinan yang masih memeriksa isi tasnya
”udah semua bun”ucap Kinan, sambil terus-menerus memastikan barang-barangnya masih lengkap.
Bunda berjalan kearahnya, kemudian melihat seisi tasnya dengan seksama
”buku-buku pelajaran kamu sudah kan?”tanya Bunda, kemudian Kinan menebarkan pandangannya keseisi tasnya dan mengangguk mengiyakan.
Bunda yang merasa sudah lengkap pun langsung mengangkat tas Kinan, kemudian membawanya ke teras
”kita naik apa bun?”tanya Kinan, Aldo yang berdiri disampingnya hanya diam memperhatikan.
“Nunggu taksi”ucap Bunda, sambil netranya melirik-lirik kearah jalan.
Kinan melirik kearah pintu kamar tante Naya,
yang sedari tadi hanya di dalam kamar tak memperdulikan keberadaan mereka.
“Nah itu datang”ucap Bunda, kemudian jemarinya meraih tas-tas yang penuh dengan pakaian itu,
Mengabaikan rasa berat yang memupuk di daun-daun jarinya.
Kinan menggiring adiknya menuju taksi, namun sesaat kemudian ia menghentikan langkahnya,
merasa ada yang memperhatikan, Kinan pun berbalik, kemudian dapat ia lihat Tante Naya berdiri di ambang pintu,
dengan tatapan dingin, tante Naya langsung menutup pintu rumah itu.
Bunyi gemerisik pintu dikunci itu membuat Bunda ikut terdiam menatap kearah rumah Tante Naya,
dapat Kinan lihat bibir Bundanya bertekuk kecewa, namun kemudian senyuman terbuat saat Bunda menatap kearahnya
”engga apa-apa, ayo masuk”ucap Bunda kepada Kinan yang mengangguk mengerti.
__ADS_1
Kini, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka, ke rumah yang kini hanya ada mereka bertiga, yang ketiganya sama-sama berjuang menghadapi dunia dan seisi penuhnya.