Memuja Bunda, Melupakan Ayah

Memuja Bunda, Melupakan Ayah
Terlalu banyak pelukan untuk hari ini


__ADS_3

Berlalu dua hari sejak ributnya Ayah dan Ibu,


kini Kinan berusaha menjalani apa yang selalu ia jalani sejak dulu seperti biasa.


Kinan berjalan menuju dapur, diambang pintu itu dia menatap punggung sang Ibu yang sedang sibuk menyiapkan makan siang.


Gadis kecil itu berjalan mendekat, langkahnya ia bawa menuju meja makan.


saat kursi yang ia tarik itu berderit, sang Ibu berbalik menatapnya.


Tatapan terkejut itu berubah tenang


”oh kaka, kira Ibu tadi siapa”ucap sang Ibu, kemudian berbalik dan kembali sibuk menumis sayur kangkung di wajan itu.


Lama terdiam, Kinan menggigit bibir bawahnya,kemudian ia berucap


“Bu”panggil Kinan pelan


”iya ka?”sahut sang Ibu tanpa berbalik, sambil terus mengaduk masakannya.


Kinan menghela nafasnya, tatapannya berubah tak tenang, seolah-olah ada yang menahan dirinya berucap.


”itu…Ayah kemana?”tanya Kinan, membuat sang Ibu menghentikan gerakannya sejenak, kemudian melanjutkannya lagi.


Terdiam beberapa saat, atmosfir dapur kala itu terasa hampa untuk pertama kalinya.


sang Ibu terdiam, kemudian mematikan kompor itu.


Dapat Kinan lihat sang Ibu mengusak wajahnya, kemudian berbalik dan berjalan kearahnya.


Kinan mendongak saat sang Ibu lagi-lagi merengkuhnya


”Ayah mulai sekarang kerja di luar kota, jadi Kinan bakal jarang ketemu”ucap sang Ibu sambil tersenyum tipis menatap wajah Kinan yang tak berekspresi.


”berarti Ayah udah berangkat?”tanya Kinan lagi, dibalas anggukan kecil dari sang Ibu


”Ayah berangkat kemarin malam, Ibu lihat kamu tidur nyenyak, jadi enggak Ibu bangunin”ucap Sang Ibu, kemudian mengusap pipi sang Putri.


Kinan mengangguk mengerti, kemudian ia pun berdiri dan berjalan menuju ruang tamu.


meninggalkan sang Ibu yang menatapnya dalam.


Di ruang tamu itu ada Aldo yang sedang berbaring di sofa panjang sambil menonton televisi


”kak, nanti sore temenin Aldo main yah”ucap sang adik yang masih fokus menonton kartun ditelevisi itu


”iya, nanti kakak temenin”jawab Kinan, kemudian ia duduk terdiam ikut menatap televisi itu.

__ADS_1


“Dek”seru Kinan, dan disahut deheman kecil dari sang adik.


lama tak ada suara lagi dari Kinan, Aldo pun berbalik sejenak menatap sang kakak yang duduk di belakangnya


”kakak manggil doang toh”ucap Aldo,kemudian kembali fokus pada kegiatannya.


Pikiran gadis kecil itu berkecamuk, dirinya berusaha memproses tentang apa yang sebenarnya terjadi. Karena ia tak percaya begitu saja bahwa sang Ayah bekerja diluar kota, entah mengapa ada rasa bohong dari ucapan sang ibu.


Lama ia berpikir, kemudian ia berdiri dan membawa langkahnya keluar rumah.


Kaki kecilnya berlari dengan kencang, membuat baju bagian belakangnya terpercik air becek karena hujan pagi tadi.


Dengan tergesa, ia pun akhirnya berhenti didepan sebuah rumah kayu bercat coklat. Kinan berjalan menuju pintu depan yang terbuka, dari tempatnya berdiri dapat ia lihat seorang wanita paruh baya sedang duduk sambil melipat pakaian.


Merasa ada yang memperhatikan, wanita paruh baya itu menoleh kearah pintu


”eh kinan, ayo masuk”ucapnya, dengan ragu Kinan melangkah masuk.


“Bi Ami”seru Kinan pelan,kemudian duduk disamping Wanita yang ia panggil ‘Bi Ami’ itu.


Bi Ami melanjutkan melipat pakaian itu,


tangannya yang telaten tetap bergerak, sembari menunggu Kinan berbicara.


”ada apa Kin? Kok enggak ngomong daritadi”ucap Bi Ami,karena sedari tadi gadis kecil disampingnya itu hanya memperhatikannya.


”mau nanya apa? Tanya aja sama bibi”sahut Bi Ami, kemudian terdengar helaan nafas kecil dari belah bibir keponakannya itu.


“Cerai itu apa?”tanya Kinan, membuat Bi Ami langsung menatapnya bingung,namun ia tetap menjawab


”ohh cerai itu kayak suami istri lalu mutusin buat pisah, gituloh”jawab Bi Ami


”pisah rumah gitu kah,Bi?”tanya Kinan lagi


”bisa gitu, tapi lebih tepatnya memutuskan hubungan. Kayak orang pacaran lalu putus”terang Bi Ami lagi,membuat Kinan terdiam mendengarnya.


”Kinan kenapa nanya itu? Tau darimana kata itu?”tanya Bi Ami kepada sang Keponakan.


Kinan menunduk, netranya menatap jemarinya yang saling bertaut gelisah


”dari Ayah sama Ibu”jawabnya pelan, membuat Bi Ami tertegun.


Dengan tatapan terkejut, ia menatap kearah Kinan yang masih menunduk.


Tanpa aba-aba Bi Ami memeluk tubuh Kinan, merengkuhnya erat seolah-olah sang Keponakan akan rumpang bila tidak dipeluk.


Kinan terdiam, semua orang selalu memeluknya setiap menjawab pertanyaannya

__ADS_1


”dari Ibu sampai Bibi, kenapa semua meluk Kinan terus?”ucap Kinan, namun sang Bibi hanya terus memeluknya tanpa menjawab.


Malang, anak yang malang.


Hanya itu yang dipikirkan oleh sang Bibi saat mendengar ucapan Kinan.


betapa sulitnya bagi anak itu kelak, entah dengan siapa ia akan tinggal, namun menghadapi dunia hanya dengan satu pundak mungkin akan sulit.


”Kinan yang kuat,ya”ucap Bi Ami, dengan bingung Kinan pun mengangguk mengiyakan.


Larut dengan keadaan, Bi Ami pun mengajak Kinan pulang, sepanjang jalan wanita paruh baya itu terus mengenggam lengan gadis kecil itu.


sampai pada pekarangan rumah,


Dapat keduanya lihat sang Ibu sedang menyapu dedaunan yang tersibak angin.


”Ikut aku sebentar”ucap Bi Ami kepada Ibunya Kinan, yang tak lain adalah adik kandungnya.


Ibu Kinan mengikuti langkah Bi Ami, meninggalkan Kinan yang berdiri terdiam di teras rumah.


”dek, ayo katanya mau main”seru Kinan pada Aldo yang masih menonton televisi.


Dan keduanya pun bermain dihalaman rumahnya.


Menit demi menit hingga hampir satu jam, tak ada tanda-tanda sang Bibi keluar.


Kinan yang penasaran akhirnya melangkah masuk kedalam rumah, sedangkan Aldo masih asyik bermain dengan segala hal yang ada pada halaman rumahnya.


Kaki kecil itu melangkah pelan, seperti deja vu sayup-sayup Kinan mendengar suara lirih dari arah kamar orang tuanya.


dari pintu yang terbuka sedikit itu, gadis kecil itu mengintip.


Dan disana, dapat ia lihat sang Ibu terduduk dilantai, menangis sesenggukan dipaha sang Bibi yang mengelus rambut pendek yang agak kusut itu.


Sesak, Kinan merasa sesak melihat sang Ibu menangis seperti itu, tampak sulit namun ia tahu sang ibu berusaha menahan emosinya.


Darisanalah dapat ia dengar bahwa adanya orang lain yang merebut penuntunnya.


Sang Ayah yang ia sayangi meruntuhkan dunia dan seisi miliknya yang kecil ini dengan mudah.


delapan tahun bersamanya tampaknya sangat mudah sang Ayah putuskan dalam sehari.


Kinan yang terkejut, tak sengaja menyentuh pintu kayu itu, membuatnya terbuka lebar dan berderit.


Bi Ami dan sang Ibu menatapnya dengan lemah, seolah berlaku terkejut pun sudah tak perlu.


Sang Ibu hendak memeluknya, namun Kinan menolak dan memilih pergi keluar menyusul sang adik.

__ADS_1


Terlalu banyak pelukan hari ini dan itu membuatnya sesak.


__ADS_2