
Sesampainya di rumah sakit, Candra membawa Melinda untuk bertemu dokter yang menangani mamanya. Ia ingin mendengar sendiri tentang kondisi sang mama setelah terpeleset lantai yang basah setelah dipel.
"Mas, Mama kenapa? Apa parah kondisi Mama?" tanya Melinda sambil melangkah mengimbangi Candra.
Candra masih diam. Ia tidak berniat menjawab, karena kalau sekali ada kalimat keluar dari bibirnya, emosinya pun pasti akan keluar. Meskipun Candra sangat mencintai Melinda, tapi ia saat ini tengah memposisikan diri sebagai seorang anak dan anak mana yang tidak akan marah jika sang ibu dibuat dicelakai?
"Aku minta maaf, Mas. Jangan diam aja." Melinda mengusap air matanya.
Sepanjang perjalanan mereka tidak mengobrol sama sekali, bahkan Melinda yang berkali-kali bertanya dan meminta maaf juga tidak dihiraukan oleh Candra.
Candra membuka ruangan dokter. Di atas pintu tertulis nama Dokter Gunawan. Sebenarnya dokter itu adalah dokter pribadi keluarga Pagalo, tapi karena saat ini sedang bertugas, makanya ia ada di rumah sakit.
"Selamat siang Pak Candra." Dokter Gunawan setelah mendapat info kalau Candra sudah datang segera menemui lelaki itu. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukan.
"Siang, Dok. Saya siap mendengar diagnosis Mama saya." Candra memposisikan duduknya agar nyaman ketika mereka berbincang.
Dokter mengangguk dan melihat Melinda, ia ingat jika diminta untuk mengatakan kepada anak dan menantunya tentang kondisi Rosa yang sedang disandiwarakan. Mau menolak? Sayang sekali ia butuh uang, dan Rosa memberinya banyak uang untuk kepalsuan diagnosis ini.
Persetan dengan sumpah dokter yang pernah ia ucapkan sebelum bertugas di rumah sakit, yang terpenting saat ini hanyalah uang dan uang untuk memuaskan gaya hidupnya.
Ia melihat hasil rongsen yang entah milik siapa, di situ memang diagnosis patah tulang, dan nama yang ada di hasil itu digantinya dengan nama Rosa.
"Wah kok bisa seperti ini, ya?" Dokter Gunawan mengeryitkan dahi.
Melinda meremas tangannya. Ia tidak tahu kalau akibat dari terpeleset bisa sefatal itu. "Mertua saya kenapa, Dok?" tanya Melinda.
"Ehem, maaf sebelumnya. Ini memang berat, tapi saya harap kalian bisa menerima kondisi Nyonya Rosa, beliau patah tulang di pinggang karena jatuh. Mungkin agak sedikit aneh, tapi itu biasa terjadi pada orang yang berusia lebih dari empat puluh tahun."
Ia mengangkat kepalanya, melihat Melinda yang sudah kebingungan dan takut. Sebenarnya ada sedikit rasa kasihan di hatinya, tapi ketika ingat dengan uang di amplop coklat yang diberikam Rosa, ia menepis rasa kasihan itu.
__ADS_1
Seperti dugaan Melinda, ternyata memang fatal sekali akibat dari terpeleset itu. Ah andai waktu bisa diputar lagi.
"Lalu berapa lama Mama saya sampai pulih lagi, Dok?" tanya Candra sambil melirik istrinya. Ia tak menyangka kalau Melinda bisa setega itu kepada mamanya. Padahal selama ini Melinda sudah dianggap anak sendiri oleh mamanya.
"Sekitar tiga bulan. Dan selain itu Nyonya Rosa harus mendapat perawatan khusus. Tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa ada yang merawat dan stay di dekatnya. Karena kalau salah gerak bisa-bisa semakin lama nanti sembuhnya."
"Tapi bisa disembuhkan kan, Dok?" tanya Melinda sambil menahan tangis.
"Bisa, hanya butuh waktu yang tak sebentar."
Melinda mengangguk. "Apa terpeleset bisa mengakibatkan patah tulang, Dok? Saya kira tulang itu kuat dan sulit untuk patah, bahkan orang ditendang saja jarang yang patah tulang."
"Jadi kamu menuduh kalau hasil diagnosis itu salah? Mamaku berbohong begitu?" Candra berdecak kesal. "Mamaku gak sepicik itu, Melinda."
"Bu-bukan seperti itu, Mas. Hanya saja agak gak masuk akal kalau terpeleset langsung patah tulang. Tapi aku gak menuduh Mama berbohong, enggak sama sekali." Ia ketakutan karena Candra tidak berpikir logis, padahal ia hanya ingin suaminya tidak menelan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh dokter dan mamanya.
"Itu sama saja, Melinda. Secara tidak langsung kamu menuduh mamaku berbohong."
"Sudahlah. Aku malas berdebat sama kamu." Candra memijat keningnya.
Ia menghela napas panjang. Candra harus memikirkan bagaimana cara mendapatkan orang yang bisa merawat mamanya. Ia tahu pasti kalau mamanya tidak bisa dekat dan mau dengan sembarangan orang.
Setelah berdiskusi sebentar terkait kondisi mamanya, Candra izin undur diri. Ia meninggalkan Melinda begitu saja tanpa menunggu penjelasan wanita itu. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah ruang rawat mamanya.
Di belakang Candra, Melinda mengikuti langkah suaminya. Ia bingung harus bersikap bagimana, karena memang kecelakaan ini bukan disengaja.
"Mas jangan diam saja. Aku hanya mau minta maaf, aku gak bermaksud mencelakai mama, Mas," ujar Melinda sambil terus berusaha memegang tangan suaminya, tapi selalu ditepis oleh Candra.
Ia tidak tahu harus bagaimana agar bisa mendapat maaf dari suaminya, ia memang tidak ada maksud untuk membuat mertuanya celaka, tapi ia juga tidak tahu harus dengan cara apa lagi meyakinkan Candra agar percaya kepadanya.
__ADS_1
Sesampainya di ruang rawat Rosa, Candra langsung menghampiri mamanya. Cici yang tadi berada di sini sudah pulang karena ada urusan, sedangkan saat Candra datang, Rosa hanya sendirian.
"Loh Melinda ikut, Can? Kok kamu ajak sih, harusnya biar istirahat saja di rumah. Kasihan kalau kecapekan nanti semakin lama bisa hamilnya." Rosa menatap lembut menantunya.
Ia melihat sisa air mata di wajah Melinda, pasti tadi Candra sudah memarahi perempuan itu, hingga jelas sekali ketika mereka masuk ke sini saling diam dan tidak semesra biasanya.
Candra ingin sekali memarahi Melinda, mamanya bisa menerima kekurangan dari diri Melinda apa adanya seperti ini, kenapa masih saja Melinda tidak mau berdamai dengan mamanya?
Ia cinta mati dengan Melinda, tapi ia juga tidak bisa mengesampingkan mamanya begitu saja.
"Ma, jangan banyak berpikir dulu. Mama pasti akan sembuh seperti sedia kala kok." Candra mengelus lembut lengan wanita yang melahirkannya itu.
"Mama enggak apa-apa, Candra. Kamu gak usah khawatir. Melinda gak kamu marahin kan? Melinda kenapa diam saja? Sini, Nak!" Ia melambaikan tangan dan menyuruh Melinda untuk mendekat.
Melinda ingin sekali mengatakan sifat mertuanya kepada Candra, tapi apa nanti ia akan mendapat kepercayaan? Atau malah sebaliknya?
Rosa sangat pintar berakting di depan semua orang. Melinda pun tak sepenuhnya yakin kalau mertuanya patah tulang. Masa hanya terpeleset bisa patah tulang sih.
"Ma, maafin Melinda." Melinda menunduk di samping ranjang rumah sakit mertuanya. "Harusnya tadi aku langsung ngeringin lantainya."
"Bukan salah kamu. Udah gak usah dipikirkan." Ia tersenyum dan menepuk lembut tangan Melinda.
Lihat? Betapa sangat pintar sekali orang tua itu berakting seolah-olah korban, padahal dia pelaku utama dalam hal ini.
"Mama perlu perawatan khusus, nanti biar Candra carikan orang untuk mengurusi Mama, ya." Candra menghindari Melinda, ia memutari ranjang dan berdiri di sisi satunya.
"Loh kenapa harus nyari orang? Mama bisa sendiri kok, Can."
"Dokter menyarankan untuk mama agar dirawat secara khusus. Jadi nanti biar Candra yang nengatur semuanya, tugas Mama hanya satu, yaitu sembuh!"
__ADS_1
'Aku akan langsung sembuh kalau kamu bercerai,' ujar Rosa dalam hati.