Menantu Tak Diinginkan

Menantu Tak Diinginkan
Bab 9 Mulai membaik


__ADS_3

"Mas nanti lagi. Pinggangku mau rontok." Melinda menyilangkan tangannya di dada saat Candra mulai memancingnya lagi. Mereka sudah melakukannya dua kali, dan Candra seperti belum juga merasa puas.


"Ih kan kamu diem aja, aku pun yang gerak," bela Candra. "Sekali lagi, ya. Aku kangen banget sama kamu loh."


"Kumat kan lebay-nya. Padahal tiap hari ketemu. Nanti malam lagi, Mas." Melinda bangun dan mengambil daster yang ada di lantai. "Ah untung gak sobek, Mas Candra kasar banget sih tadi bukanya."


"Namanya juga udah kebelet, Dek." Candra ikut bangun dan meraih boxer di atas meja. Entah siapa yang tadi melemparnya sampai sana, yang jelas celana pendek itu nyangsang di atas piring bekas Melinda makan tadi.


Ia berjalan mengikuti langkah istrinya ke kamar mandi, tapi baru sampai di depan meja rias ditariknya tangan Melinda dan memeluk tubuh langsing itu. "Sayang banget sama kamu, Dek."


Melinda memejamkan mata. "Masa sih?"


"Serius sayang banget. Cinta malah. Mandi bareng yuk!"


Melinda menyikut perut suaminya. "Modus dasar."


Candra tertawa dan menyeret wanita itu masuk ke kamar mandi. Ia harus menuntaskan fantasinya yang lain bersama dengan Melinda.


Sementara sepasang suami istri sedang merengkuh surga dunia yang kesekian kalinya, Cici dan Rosa sudah tidak sabar menunggu kelanjutan hubungan pengantin baru tersebut. Mereka menantikan saat di mana Candra mengusir Melinda dari rumah ini dan juga hidupnya.


"Tante yakin ini berhasil?" tanya Cici.


Rosa mengangguk kuat-kuat. "Kamu gak lihat tadi Candra terlihat marah besar begitu? Pasti kali ini tidak ada ampun."


"Semoga saja. Asik, aku gak sabar menunggu perceraian mereka."


"Sama. Tante juga udah pengen menendang wanita miskin itu dari rumah ini."


Mereka duduk di meja makan untuk makan malam. Hanya tinggal menunggu Candra saja. Lebih tepatnya menunggu hasil rencana mereka sampai Cici rela menelan obat tidur.


Tapi kecewaan langsung terlihat jelas di wajah mereka saat Candra dan Melinda duduk di depan mereka dengan rambut keduanya basah. Orang dewasa pasti paham apa yang terjadi ketika sepasang pengantin baru keluar dengan rambut basah.

__ADS_1


'Sialan! Sia-sia aku menelan obat tidur,' batin Cici.


'Loh gimana cerita kok malah mereka tidur bareng sih? Bukannya harusnya ribut dan cerai, ya,' batin Rosa.


"Ma, mulai malam ini Melinda akan selalu makan bersama dengan kita di meja makan." Candra mengenggam tangan istrinya. "Biar di antara kita makin dekat satu sama lain juga."


Candra ingin mendekatkan istrinya dengan sang mama. Biar bagaimana juga mereka tinggal dalam satu atap yang sama, meski selalu mamanya mengatakan kalau Melinda adalah orang baru di keluarga ini.


"Tapi ... ya udah terserah kamu aja!" Rosa tidak bisa berpikir lebih panjang lagi, ia tak menyangka kalau Candra dan Melinda berbaikan, padahal tujuannya bukan ini.


Dalam otaknya mulai mencari rencana selanjutnya, rencana agar anaknya bisa lepas dari Melinda.


"Dan aku mohon sama Mama, Melinda jangan dikasih pekerjaan yang berat. Aku sudah pernah membantu Melinda mengerjakan pekerjaan rumah, hanya membantu saja capeknya minta ampun, apalagi sampai mengerjakan semua, pasti capek banget. Aku mau cepet punya anak, Ma. Aku gak mau istriku kecapekan."


"Mas–" Melinda merasa ini sudah keterlaluan. Ia yakin sekali kalau kalimat Candra akan semakin membuat mertuanya benci kepada dirinya.


"Kamu ngikut apa kata suami aja, ya, Dek. Demi kebaikan kita bersama." Candra mengenggam tangan Melinda.


Kenapa keadaan berbanding terbalik dengan yang ia harapkan sih!


Cici ingin sekali Candra menceraikan Melinda, tapi semua usahanya selama ini seolah tak berguna sama sekali, malah Candra semakin dekat dengan Melinda.


"Dia kan hanya di rumah, jadi apa salahnya mengerjakan perkerjaan rumah tangga? Toh besok kalau kalian punya rumah sendiri dia juga akan mengerjakan pekerjaan itu kan? Anggap saja latihan." Cici bersuara, tapi ia segera diam setelah melihat Rosa melotot ke arahnya.


"Ya udah gak apa-apa, biar Mina dan yang lainnya nanti yang mengerjakan semuanya. Melinda santai saja dan fokus mengurus suami, ya." Ditatapnya sang menantu dengan lembut.


Sayangnya Candra tidak terlalu memperhatikan perubahan sikap mamanya dari yang sinis menjadi baik. Ia terlalu senang, hingga yang terpikirkan saat ini hanyalah menguatkan istrinya agar betah di rumah ini.


Makan malam pertama yang Melinda ikuti selama menjadi menantu di keluarga Pagalo. Ia cukup bersyukur sampai detik ini, karena setiap masalah bisa ia hadapi dan akhirnya semakin menguatkan ikatan cinta di antara dirinya dan Candra.


Setelah makan malam, mereka kembali masuk ke kamar. Candra bahkan menolak ketika Rosa menyuruhnya mengantarkan Cici pulang. Padahal biasanya Candra tidak bisa menolak permintaan mamanya, tapi karena teringat dengan janji Melinda yang ingin memberinya satu ronde lagi.

__ADS_1


"Mas," panggil Melinda.


Candra yang sedang melepas kemeja menoleh. "Ya Sayang."


"Em," ragu Melinda ingin mengatakan sesuatu.


"Kenapa? Kamu mau nambah lagi?" tanya Candra sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Astaga. Mas Candra gak bosen apa? Gak capek?" Melinda mendecih. "Dasar cowok, pikirannya itu mulu."


"Namanya juga pengantin baru, pasti semua juga sama kek aku."


Melinda mendekati Candra. "Mas, kalau aku hanya diam dan gak ngelakuin apa-apa pasti ngebosenin, jadi kalau aku ikut ngerjain pekerjaan rumah seperti biasanya gimana? Gak semua, cuma bantu aja sambil mantau."


Ia menatap Candra, melihat reaksi lelaki itu atas permintaannya. Kalau hanya diam saja ia semakin tidak enak, apalagi mendengar sendiri dari mertuanya kalau ia tidak akan pernah diterima di keluarga ini. Jadi kalau ia diam tanpa melakukan apa-apa, nanti pasti mertuanya semakin tak suka kepadanya.


"Tapi nanti kamu capek pasti kalau ngerjain pekerjaan rumah seperti biasa. Kamu di sini sebagai istriku, bukan pembantu, jadi biarkan pembantu yang melakukan itu semua, Dek."


Melinda mengelus lengan Candra. "Nanti semua pekerjaan yang kulakukan sia-sia, Mas. Padahal aku sudah menata taman, bunga yang kutanam aja belum tumbuh semua."


"Tapi jangan capek-capek, ya. Aku gak mau kamu kelelahan nantinya."


"Enggak, Mas. Aku janji gak bakal capek-capek."


Candra mengangguk setuju. Ia juga tidak akan membiarkan Melinda melakukan pekerjaan yang berat. Kalau hanya mengawasi sepertinya tidak terlalu membebankan, jadi ia akan meminta kepada semua pekerja di rumahnya agar tidak membiarkan Melinda melakukan pekerjaan yang akan membuat wanita itu kelelahan.


Ia masuk ke kamar mandi untuk keramas lagi, dan hari ini sudah tiga kali ia mencuci rambutnya. Meski kepala terasa pening, tapi rasanya bahagia saat melihat Melinda pasrah di bawah tubuhnya.


Melinda mengambilkan handuk untuk suaminya, saat ia mengulurkan kain itu, dengan cepat Candra menariknya masuk sekalian.


"Mas Candra, ini udah malam. Aku baru aja keramas loh, masa mau keramas lagi," tolaknya.

__ADS_1


"Gak apa-apa, nanti biar aku yang ngeramasin kamu." Candra melepas kemeja yang melekat di tubuh Melinda. "Kita buatkan mama cucu lagi."


__ADS_2