Menantu Tak Diinginkan

Menantu Tak Diinginkan
Bab 14 Kesedihan Melinda


__ADS_3

Melinda tidak melangkah maju, pun tidak mundur. Ia terpaku di tempatnya. Di depan sana, mereka tampak lebih seperti keluarga daripada dirinya. Hatinya seperti diremat, tapi ia harus tetap bertahan bukan?


"Sini masuk, Mbak. Kebetulan aku mau pulang sebentar, jadi Mbak Melinda nanti yang menggantikan aku menjaga Mama, ya," pinta Cici.


Bukan ia tak tahu kalau saat ini Melinda sedang cemburu, tapi semua memang disengaja dan rencananya. Sudah separuh jalan dan Rosa pun sudah berkorban sampai harus tetap berada di ranjang seperti sekarang, semua demi membuat Melinda cemburu dan meninggalkan Candra, masa ia akan menyia-nyiakan begitu saja. Sayang sekali kalau iya.


Cici berdiri dari kursi dan mendekati Melinda. "Aku pulang dulu, ya, Mbak."


"Candra, antar Cici dulu. Biar mama sama Melinda!" perintah Rosa.


Candra mengangguk. "Baik, Ma."


Melinda masih berdiri di depan pintu saat Cici dan Candra melewatinya. Bahkan Candra sama sekali tidak melihat ke arahnya. Setelah apa yang mereka perjuangkan selama ini, apa kali ini akan menjadi akhir dari kisah mereka?


Entahlah, Melinda sendiri tak tahu. Yang jelas ia harus tetap bertahan meski itu menyakitkan.


Seperti dugaannya, begitu Candra pergi, mertuanya kembali ke mode semula, mengacuhkan Melinda. Bahkan ketika Melinda menawarkan apa-apa, wanita itu sama sekali tidak merespon.


Melinda meninggalkan kamar Rosa, ia berjalan ke sekitar rumah mengecek pekerjaan para asisten rumah tangga. Biar bagaimana juga, Melinda yang mempunyai tugas tersebut.


Langkahnya terhenti ketika ia seperti melihat sesorang yang dikenalnya berjalan lima meter di depannya. Tapi masa itu mertuanya?


Ia menoleh saat mendengar ada yang memanggil, setelah tahu siapa yang mencarinya, Melinda kembali melihat ke depan, di mana Rosa tadi berada. Tapi sudah tidak ada lagi.


"Nyonya ada yang dibutuhkan?" tanya Mina ketika melihat Melinda semperti mencari sesuatu.


"Em tidak ada." Melinda menjawab sambil tersenyum. Padahal ia seperti baru saja melihat Rosa yang berjalan di belakang rumah, tapi entah ia yang salah melihat atau bagaimana, yang jelas tadi mertuanya terlihat seperti sedang berjalan dari dalam rumah ke gazebo.


Ia ingin menghampiri ke sana, tapi mengurungkan niat dan memilih mengeceknya di kamar mertuanya saja. Kalau saat ini mertuanya di kamar, jadi tadi ia hanya salah lihat.

__ADS_1


Melinda ragu ingin membuka pintu kamar mertuanya, tapi ia ingin membuktikan sendiri tentang apa yang ia lihat barusan. Dengan perlahan dibukanya pintu tersebut.


Wanita itu bernapas lega, terlihat mertuanua sedang tertidur pulas di ranjang, itu berarti ia hanya salah lihat.


Hari-hari selanjutnya masih sama, Candra masih saja mediamkannya dan Cici masih saja menempel kepada suaminya. Sedangkan dirinya lebih seperti menantu yang tak dianggap di dalam keluarga Pagalo ini.


Ia duduk di depan televisi, melihat drama Korea setelah menyelesaikan pekerjaannya ketika Cici datang menghampiri dan duduk di sebelahnya.


"Mbak Rosa makasih, ya." Cici langsung memeluk Melinda.


Melinda yang kebingungan tidak menjawab, tapi ia mengeryitkan dahi ketika sekali lagi Cici mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Melinda penasaran. Pasalnya ia sama sekali tidak melakukan apa-apa untuk Cici, jadi untuk apa Cici mengatakan terima kasih?


"Untuk keikhlasan Mbak Mel. Aku seneng banget akhirnya bisa menjadi madu Mbak Melinda."


Uhuk.


"Mama bilang kalau kami akan segera menikah."


Melinda menoleh cepat. "Mas Candra gak pernah menceraikan aku. Kami baik-baik saja, jadi mana mungkin dia akan menikahi wanita lain."


Cici tertawa kecil. "Nyatanya tadi mama bilang kalau sebentar lagi aku akan menjadi menantunya. Jadi Mbak Melinda gak tahu kalau Mas Candra akan menikahi aku?"


Melinda menggelengkan kepala. Ia masih meyakinkan diri sendiri kalau ini hanya sebuah bunga tidur. Iya, ia akan terbangun di pagi hari dengan keadaan yang lebih baik lagi. Dan Candra pasti tidak akan menceraikannya.


"Aku gak masalah sih kalau Mbak Melinda gak menyetujui pernikahan kami, yang penting Mas Candra cinta sama aku. Kami bisa menikah siri kok." Cici menganggukkan kepala yakin.


Melinda ingin menanyakan apa maksud Cici dan mertuanya kepada Candra, tapi di mana lelaki itu? Dari kemarin bahkan semalam wajahnya tidak nampak sama sekali. Ia tidak bisa digantung begitu saja seperti ini.

__ADS_1


Rasa penasarannya semakin besar ketika Cici bercerita kalau mereka sudah melakukan fitting baju pengantin. Kapan dan di mana? Kenapa ia sama sekali tidak tahu kalau mereka sudah merencanakan pernikahan?


"Ya udah, aku mau kembali ke kamar mama lagi. Sekali lagi terima kasih, Mbak Melinda. Kita akan menjaga Mas Candra bersama-sama sebentar lagi." Ia berdiri dan melihat Melinda yang masih terpukul.


Melinda menapat kepergian Cici dengan nanar. Kenapa harus jadi seperti ini sih akhirnya? Apa tidak bisa menjadi bail-baik saja seperti yang sebelumnya? Apa pernikahannya akan berakhir begitu saja?


Wanita itu berdiri, tertatih ia berjalan menuju ke kamar. Sepanjang jalan, ingatan tentang Candra yang berjanji akan menjaganya sampai mati berkelebat, apa itu hanya rayuan buaya sesaat saja? Karena pada nyatanya ia akhirnya kecewa.


"Mas, apa kesalahanku sebesar itu? Hingga kamu mau menggantikan aku dengan wanita lain?" Melinda berpegangan meja karena tubuhnya lemas, seolah tidak bisa lagi menopang semua rasa kesakitan dan kecewanya.


Setelah semua kesabarannya selama ini, apa akhirnya akan menjadi seperti ini?


Melinda menunggu Candra pulang, ia harus memastikan kalau apa yang didengarnya dari Cici bukanlah sesuatu kebenaran.


Satu jam, dua jam, Candra tidak juga kembali. Ia pun akhir-akhir ini tidak tahu tentang aktifitas Candra. Ketika mereka bertemu, tidak ada kata yang terlontar, jadi hanya sebatas lalu lalang saja, meski Melinda masih menjalankan tugasnya sebagai istri Candra.


Pagi harinya, Melinda keluar dari kamar dan mmencari keberadaan Candra. Ia tidak menemukan lelaki itu dimana-mana.


"Maaf, apa kamu tahu di mana Mas Candra?" tanya Melinda papa Cici.


Cici yang baru memotong kuku mendongakkan wajah. "Loh emang Mbak Melinda gak dipamitin? Mas Candra kan ke luar kota lima hari. Masa gak tahu?"


Melinda menggelengkan kepala.


"Jadi aku sama mama aja yang dipamitin, ya?"


Melinda membalikkan badan dan kembali masuk ke kamar. Ia mengecek koper Candra dan juga baju lelaki itu. Benar saja, sebagian baju Candra tidak ada. Itu berarti suaminya memang ke luar kota. Tapi kenapa sama sekali tidak pamit kepadanya? Minimal bilang.


Apa tidak ada artinya lagi ia di dalam hidup Candra? Hingga hanya Cici yang dipamitin dan dirinya tidak? Atau Candra sudah bosan dengannya?

__ADS_1


Melinda sudah menghabiskan banyak air mata selama berminggu-minggu, dan hasilnya ia akan dimadu juga semakin tak dianggap di dalam keluarga ini. Sia-sia saja!


__ADS_2