
"Nak, makan dulu yuk!" Rosa membuatkan mie goreng untuk Candra, ia juga mengantarkan ke kamar lelaki itu. Biasanya ia hanya sesekali saja menengok Candra dan lebih banyak memberikan waktu untuk Cici.
Setelah kemarin berhari-hari Cici yang berjuang untuk mendekat kepada Candra, kali ini Rosa yang berusaha untuk mendekati anaknya itu. Cici sudah bosan dan lelah sepertinya, hingga hari ini tidak datang.
Candra tidak bereaksi, ia diam dan hanya melihat mamanya saja. Rasanya mau membuka mulut itu malas sekali.
"Kamu mau sampai kapan seperti ini? Gak kasihan sama mama yang sudah tua ini? Mama juga butuh teman bicara lih, Nak." Ia mengambil satu sendok mie dan menyuapkan ke mulut Candra.
Candra menolak. "Aku gak lapar, Ma." Ia kembali melamun, melihat ke luar jendela dengan tatapan kosong.
Tidak ada harapan hidup lagi, buat apa ia hidup kalau orang yang akan menemaninya sampai tua sudah pergi? Tidak ada gunanya kan? Jadi lebih baik ia mati saja daripada sampai tua hidup kesepian.
Mungkin akan ada wanita yang mau menikah dengannya menggantikan Melinda, tapi apa hatinya bisa mencintai wanita itu seperti ia mencintai Melinda? Sepertinya tidak!
Candra menarik napas kemudian menutup jendela dan membaringkan tubuhnya di sofa kembali. Buat apa ia hidup kalau sumber kehidupannya sudah tidak ada?
"Nak, kamu marah sama mama?" Rosa mendekati Candra dan mengelus kepala anak lelakinya itu. "Kamu udah berhari-hari gak makan. Kamu boleh marah sama mama, benci sama mama karena melaporkan kejadian itu, tapi tolong jangan siksa tubuh kamu dengan mogok makan seperti ini."
Candra memejamkan matanya. Bulir bening keluarga dari kelopak yang tertutup.
"Mama tahu kamu sakit hati dan kecewa, tapi kalau kamu menyiksa tubuhmu seperti ini, Melinda dan Johan pasti malah akan senang karena kamu hancur."
Apa memang seperti itu? Apa Melinda akan senang melihatnya menderita setelah mengusir wanita itu? Kalau pun iya, Candra ikhlas hancur demi melihat Melinda bahagia.
Segila itu cintanya pada wanita ayu tersebut, jadi kalau ia harus mati menahan kerinduan dan kecewa yang mendalam, ia tak mengapa.
"Candra, kamu harus bangkit. Kamu bisa melalui ini semua." Rosa terus saja memberi semangat untuk anaknya.
Tidak ada jawaban. Candra masih memejamkan mata, meski bulir bening itu masih terus keluar dari ujungnya.
"Kamu boleh menangis sampai puas, peluk mama kalau kamu butuh sandaran, mama tidak akan meninggalkan kamu seperti Melinda."
__ADS_1
Candra membuka mata, ia memeluk mamanya dan menumpahkan tangisnya di sana.
Kalau lelaki sudah menangisi seorang wanita, bukankah itu tandanya ia sangat mencintai wanita itu?
Dan Candra pun demikian. Ia tidak akan bisa mencintai wanita lain sebesar mencintai Melinda.
"Sudahlah, semua sudah berlalu, yang harus kamu ingat, kamu harus bangkit dan melanjutkan hidupmu." Rosa menepuk punggung Candra yang memeluknya.
Melihat Candra kesakitan seperti ini ia tak tega sebenarnya. Tapi mau dikata apa lagi, nasi sudah menjadi bubur. Luka fisik akan bisa dilihat dan diobati tapi kalau luka hati, hanya orang yang sakit yang bisa merasakannya.
"Aku gak bisa hidup tanya Melinda, Ma. Aku gak mau hidup tanpa dia, kenapa dia harus menghianatiku?"
Setelah berhari-hari, baru kali ini Candra mengatakan kalimat yang begutb panjang. Biasanya lelaki itu hanya diam dan menjawab singkat saja. Mungkin ini ungkapan hati yang selama ini ia pendam.
"Kamu yang sabar, ya. Mama yakin pasti ada hikmah dibalik ini semua."
"Candra mau istirahat, Ma." Lelaki itu melepaskan pelukannya dan melihat ker arah lain untuk mengusap air matanya.
Candra melirik mie di meja lalu mengangguk.
Rosa mengambil piring dengan bahagia, akhirnya Candra mau mengisi perutnya setelah berhari-hari hanya minum saja. Tubuh anaknya itu sampai kurus dan tak terawat sama sekali.
"Ini mama suapin, kamu buka mulut!"
Candra membuka mulutnya dan menerima suapan dari mamanya. Ia hanya makan dua sendok, tidak lebih. Setelahnya menolak ketika mamanya menyuapkan mie untuk ketiga kalinya.
"Enggak, Ma. Aku udah kenyang." Candra mengelengkan kepala.
Rosa meletakkan piring di meja. Lumayan dia sendok. Ia duduk di samping Candra dan memijat tangan anaknya.
"Mama ada masukan biar kamu melupakan Melinda. Mau gak denger masukan mama?"
__ADS_1
Candra diam saja, ia sudah tahu apa yang akan mamanya katakan. Pasti diminta mencari orang lain untuk menggantikan Melinda.
"Nak, kamu pasti tahu kalau Cici sejak lama suka sama kamu, gimana kalau kalian bersama aja?" tanyanya meminta persetujuan.
Candra tetap diam tidak menjawab, dan memang tidak berniat menjawab. Terserah apa yang mau dilakukan mamanya, baginya hidupnya sekarang sudah tidak ada artinya. Jiwanya mati, semenjak Melinda meninggalkan rumah ini.
"Besok minggu depan kamu menikah dengan Cici, ya. Mama sebenarnya gak mau terlalu buru-buru, tapi kasihan kamunya gak ada yang ngurus kalau mama pergi. Gak enak juga sama tetangga kalau Cici sering di rumah berdua sama kamu padahal kalian belum sah."
Candra tak peduli dengan itu semua. Ia akan melakukan apa pun yang diminta mamanya.
"Gak usah acara mewah, yang penting sah aja dulu. Karena kamu belum resmi bercerai dari Melinda, nikah siri juga tak masalah, yang penting kalian ada ikatan yang sah."
Rosa menunggu tanggapan dari Candra, tapi sampai lima menit ia menunggu, Candra masih diam dan tidak menoleh sekalipun. Ia menghela napas, merasa kalau percakapan ini hanya sepihak saja.
"Nak, gimana? Mama ngomong loh sama kamu." Rosa menepuk lembut bahu anaknya, berharap mendapat respon yang bagus dari Candra.
"Terserah." Candra tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya itu saja.
"Ya sudah, mama yang atur besok, ya." Rosa keluar dari kamar Candra dan menoleh ketika sampai di pintu.
Sebagai seorang ibu, ia merasa sakit sekali melihat Candra tidak mempunyai semangat hidup seperti sekarang. Ia harus mengembalikan Candra seperti sebelumnya, di mana senyum dan tawa Candra setiap hari menghiasi rumah ini.
Ia menghela napas panjang, berdoa semoga ini menjadi langkah awal untuk mengembalikan senyum Candra.
"Kamu harus bahagia, Nak!" ujar Rosa lirih. "Kalaupun tidak dengan Melinda, harus dengan Cici."
Candra mendengar kalimat mamanya, meski diucapkan lirih. Ia kembali menetaskan air mata, mengingat kebersamaan dengan Melinda yang manis.
"Aku hanya bisa bahagia kalau hidup dengan Melinda, Ma," balas Candra dengan lirih pula. Tapi mamanya sudah pergi dari kamarnya.
"Menikah dengan Cici?" Candra tersenyum sinis. "Aku yakin ini semua pasti ada hubungannya dengan Cici. Termasuk kepergian Melinda," lanjutnya dengan menatap langit-langit kamar.
__ADS_1