
"Maaf, Ma. Tadi aku jemput ayah dulu biar sekalian ke rumah." Melinda mengelus lengan ayahnya lembut.
"Bu Rosa, kenapa Anda tidak cerita sama saya kalau anak-anak ada masalah?" tanya lelaki tua itu.
Rosa menunduk. Ia tidak berani menangkat wajahnya.
"Untung Melinda menjelaskan, kalau tidak saya tidak akan tahu kalau rumah tangga mereka sendang renggang sampai jatuhnya talak."
"Maaf, Pak." Rosa berlutut di kaki ayahnya Melinda. "Saya yang salah."
"Loh, ini kenapa?" Kini gantian lelaki itu yang kebingungan. "Aduh jangan begini, Bu. Saya gak apa-apa, kok. Saya tahu kalau Bu Rosa hanya mau melindungi dan menyatukan pernikahan mereka."
Rosa semakin dalam tangisnya. Bahkan Melinda tidak mengatakan kalau ia yang menyebabkan semua ini. Betapa mulianya wanita itu. Rosa sangat menyesal sudah menyia-nyiakan Melinda selama ini.
Mereka berangkat ke rumah Keluarga Pagalo bersama-sama. Sepanjang perjalanan, Rosa selalu memegang tangan menantunya.
Begitu sampai di halaman rumah Keluarga Pagalo, Melinda turun dari mobil dan langsung berlari mencari Candra. Ia sudah diberi tahu kalau sekarang Candra tidur di kamar tamu.
"Mas Candra!" Melinda langsung memeluk lelaki yang terbaring di ranjang itu. Tubuhnya kurus kering, hanya tinggal tulang saja. "Maafin aku, Mas."
Candra yang mendengar suara Melinda langsung membuka mata. "Sayang." Ia memeluk istrinya. "Maafin Mas."
Dua orang menangis saling melepaskan rindu. Di depan pintu, Rosa juga berkali-kali mengusap air matanya. Ia tidak tahan melihat dua orang yang kembali bersama itu.
Melinda melepaskan pelukannya, ia bersujud di kaki Candra dan meminta maaf. "Maafin semua kesalahanku, Mas. Maaf kalau aku tidak sempurna menjadi seorang istri."
Candra yang sudah tiga minggu lemas dan akhir-akhir ini tidak bisa bangun, begitu melihat Melinda langsung seperti terisi penuh kekuatannya. Ia duduk, kemudian memeluk kembali istrinya.
"Kamu gak salah, Mas yang salah. Mas tidak dibutakan oleh emosi."
"Melinda juga salah, Mas. Harusnya aku lebih menjaga jarak dari Johan."
Rosa mengajak ayahnya Melinda pergi, biar sepasang suami istri itu menyelesaikan kesalahpahaman ini.
Setelah semua menemui titik jelas, Candra mau lagi makan dan juga membersihkan diri. Nanti malam ia akan melakukan ijab ulang di depan keluarganya.
Laki-laki yang terbaring lemas setelah sekian lama itu bisa duduk dan berjalan malam harinya. Semua karena kekuatan cinta di antara mereka. Acara pun berjalan lancar, dan kini Melinda juga Candra kembali menjadi sepasang suami istri yang sah.
Rosa tidak lagi melihat Melinda sebelah mata seperti sebelumnya. Ia menjadi lebih penyayang dan perhatian dengan Melinda, semua untuk menebus kesalahannya di masa lalu.
"Huek!" Melinda bangun dari tidur di pagi hari saat merasa mual pada perutnya. Ia berlari ke kamar mandi, kemudian mengeluarkan semua isi perutnya meski hanya air saja di dalamnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Candra yang melihat istrinya muntah-muntah. Ia lebih kuat sekarang, setelah Melinda kembali ke rumah ini.
"Gak tahu, Mas. Ini kayaknya aku masuk angin deh. AC-nya terlalu dingin."
"Masa sih. Perasaan kita biasa pakai suhu segitu." Candra memijat tengkuk istrinya. "Aku ambilkan minyak angin, ya."
Melinda mengangguk dan kembali ke ranjang. Ia memijat keningnya yang juga pusing pagi ini.
"Kamu kenapa, Mel?" Rosa masuk ke kamar dengan membawa teh hangat dan minyak angin. "Kata Candra masuk angin? Mau mama kerikin?"
"Gak tahu ini, Ma." Ia kembali mual ketika bau minyak angin masuk ke hidungnya.
"Duh kenapa dengan istriku, Ma?" Candra yang takut tidak bisa menyembunyikan raut wajah khawatirnya.
"Eh coba kamu tanya Melinda, kapan dia bulanan?"
Candra diam sejenak. "Maksudnya ... Melinda hamil?"
"Enggak tahu, makanya tanya dulu. Bentar mama minta supir siapkan mobil. Kamu bawa ke bidan, ya."
Canda menyusul Melinda ke kamar mandi. Ia memegang istrinya yang lemas karena sejak tadi mual-mual dan muntah. "Kita ke bidan, ya, Dek." Diambilnya jaket dan dipakaikan ke tubuh Melinda.
"Mau ngapain, Mas? Aku hanya masuk angin kok."
Melinda mencoba mengingat. Ia bahkan lupa kapan terakhir dapat tamu bulanan. Kalau tidak salah ingat ketika dirinya masih di rumah ayahnya.
"Mas, aku lama gak dapat tamu." Melinda menatap suaminya.
"Ayo kita ke bidan buat ngecek." Candra yang mendengar berita itu langsung semangat. Ia melupakan tubuhnya yang baru pulih, digendongnya sang istri sampai ke mobil dengan senyum merekah lebar.
"Ma, ayo ikut!" Melinda melambaikan tangan ke arah Rosa yang hanya melihat dari depan pintu.
Rosa merasa cangung dan belum sepenuhnya bisa memaafkan dirinya. Ia takut kalau Melinda tidak mau dekat dengannya. Tapi melihat sang menantu yang mengajaknya ikut memeriksakan ke bidan, hati Rosa meleleh melow.
Ia malah menangis sambil menutup pintu. "Hatimu terbuat dari apa sih, Nak?" Dipeluknya sang menantu yang menunggunya di mobil. "Kamu baik banget."
"Mama kenapa nangis? Udah ah jangan nangis." Melinda mengusap air mata Rosa.
Mereka pergi ke bidan dengan harapan yang penuh. Semoga saja ada Pagalo Junior di dalam perut Melinda.
Dan harapan itu terkabul.
__ADS_1
"Selamat, Bu Melinda hamil dua belas minggu. Ini harus di-USG sebenarnya, tapi karena di sini tidak ada alat USG lebih baik kalian langsung ke rumah sakit saja." Bidan memberikan satu buat buku KIA berwarna pink kepada Melinda.
Candra sujud syukur. Dibalik semua penderitaannya kemarin, rasa rindunya yang tertunda, rasa sakit dan fitnah ternyata Allah sudah menyiapkan kejutan yang sangat besar untuk keluarganya.
Rosa pun tak kalau bahagia, ia langsung memeluk Melinda dan mengucapkan terima kasih yang banyak sampai wanita yang hamil muda itu kesulitan bernapas karena terlalu erat dipeluk.
"Ma udah, kasihan istriku enggap." Candra terkekeh sambil menarik tubuh mamanya. "Kita langsung ke rumah sakit yuk, mau lihat cucu mama gak?"
Rosa mengangguk kuat-kuat. "Pengen banget. Terima kasih kalian. Terima kasih, Nak." Ia kembali memeluk Melinda.
Semenjak kehamilan Melinda, Rosa menjadi over protektif. Ia juga semakin perhatian dan selalu membuatkan sarapan untuk sang menantu.
"Nak, mau makan apa nanti siang?" tanya Rosa pada Melinda saat ia mengantarkan bubur kacang hijau untuk sarapan.
"Pengen makan mie, Ma. Tapi sama Mas Candra gak boleh." Melinda merajuk.
"Loh kenapa gak boleh? Ya udah, nunggu suami kamu pergi dulu nanti mama buatin. Oke!"
Melinda mengangguk. "Oke, Ma. Cepat usir Mas Candra, Ma!"
"Heh, kalian mau ngusir aku?" Candra keluar dari kamar mandi dengan wajah masam. "Gak boleh makan mie, pokoknya selama hamil, Melinda gak boleh makan mie. Gak bagus buat bayi." Candra mengelus perut istrinya.
"Ma ...."
"Candra, istri kamu lagi ngidam. Masa kamu gak kasihan." Rosa membela Melinda.
"Emang ada ngidam mie?"
"Loh namanya ngidam itu bisa pengen apa aja. Kalau gak diturutin nanti anak kamu lahir ngeces loh."
Candra mencibir. "Mana ada seperti itu."
"Ada. Pokoknya nanti mama buatin mie-nya Mel, biarin mama yang pasang badan kalau Candra marah."
Melinda tertawa puas. "Hore, bisa makan mie."
"Gak boleh! Kamu tetap gak boleh makan mie!" Candra tetap pada pendapatnya.
"Ma, Mas Candra nih!" Melinda menangis dan merajuk pada Rosa.
Melihat menantu kesayangannya menangis, Rosa mendelik pada anaknya. "Kamu jangan pulang kalau cuma mau bikin Melinda nangis. Pergi sana!"
__ADS_1
"Ma, kok Mama malah bela Melinda sih, kan anak Mama itu aku!" protes Candra dengan wajah ngenes.