
Bola mata wanita berusia 27 tahun itu berbinar. Dia sama sekali tidak menyangka jika mertuanya datang dan mau menerima dirinya. Tidak hanya itu Melinda cukup terharu saat pantat lebar sang mertua mau duduk di kursi bambu rumahnya.
Hal yang sejak dulu tidak pernah dilakukan oleh Rosa. Kini dengan polosnya Melinda benar-benar percaya jika sang mertua sudah berubah.
"Ma, Mama. Mau minum apa?" ucap Melinda antusias dengan keterbatasan keuangan ingin menjamu sang mertua meskipun hanya dengan air putih.
Rosa sejak tadi duduk dengan gusar, dalam benak wanita paru baya itu terus berpikir, apa bangku yang ia duduki kuat? Jika nanti dirinya jatuh bagaimana? Kadang dirinya menyesal kenapa tadi ia bisa ikut Candra ke rumah kumuh ini? Niat hati ingin merebut kembali hati sang anak kini justru dirinya kesusahan sendiri
"Ma, apa Mama tidak nyaman? Kalau ia aku bisa menggelar tikar dan kita bisa duduk di bawah. Oh, ya, Mama ingin minum apa?" Melinda kembali mengulang pertanyaan yang sama.
Rosa tidak menjawab pertanyaan Melinda. Ia fokus dengan sang anak yang kini berdiri berdampingan dengan Melinda.
"Ndra, kamu bisa bantu supir di depan. Sepertinya body depan mobil rusak parah."
"Iya, Ma. Aku akan membantunya, Mama mau minum apa? Melinda sejak tadi bertanya," sahut Candra.
"Oh, maaf Sayang. Mama fokus pada mobil Mama itu, kamu tau kan mobil itu tidak memiliki asuransi. Pasti biayanya besar. Em ... Kalau gitu air putih saja."
"Lalu apa Mama mau duduk di bawah saja jika tidak nyaman di bangku itu?" tawar Melinda kembali.
Namun, sayangnya Rosa tidak menjawab pertanyaan Melinda.
'Mama kok masih cuek denganku. Apa ia merencanakan sesuatu? Apa yang aku pikirkan salah jika ia sudah mau menerimaku?' batin Melinda bertanya-tanya.
__ADS_1
"Ma," panggil Candra.
"Ya. Eh ... Maaf Mel, Mama benar-benar tidak fokus. Oh, duduk di bawah ya? Rasanya tidak perlu, bangku ini kuat kan?"
"Iya Ma, kuat." Melinda yang tadi sempat berprasangka buruk karena tawarannya tidak ditanggapi, kini ia kembali tersenyum.
"Ya sudah Ndra kamu ke depan bantu supir Mama. Dan kamu Mel, cepat ambilkan Mama air, sudah kering tenggorokanku," perintah Rosa.
Ia sudah tidak sabar ingin melepaskan semua uneg-unegnya pada Melinda.
Candra mengangguk, lalu pergi ke depan sementara Melinda gegas mengambil air putih untuk diberikan pada sang mertua.
Di menit berikutnya setelah memastikan keadaan aman wanita yang tak lagi muda itu jalan beberapa langkah guna menghampiri Melinda.
"Kamu bahagia di sini?" tanya Rosa melirik kesana kemari melihat keadaan rumah yang sudah mleyot tak hanya itu atap pun terbuat dari bambu. Maka tak heran jika ia sering menghina Melinda sebagai menantu miskin.
"Aku tidak menanyakan hal pribadi padamu. Tapi, yang aku maksudkan apa kamu bahagia tinggal di sini dengan Candra, anakku?"
Melinda yang belum paham situasi tentu saja menjawab dengan penuh keyakinan, "Iya Ma aku bahagia, Mas Candra lelaki pengertian dan penuh kasih sayang. Aku sangat ingin dia selalu hidup bersamaku meskipun kami kekurangan."
Rosa tersenyum miring. Bibir berwarna merah bata itu sudah siap terbuka dan meluncur kalimatnya. "Aku tidak menyangka beberapa hari yang lalu aku sempat berpikir, apa yang aku pikirkan tentangmu itu salah! Tapi sekarang aku semakin yakin jika kamu benar-benar pembawa sial dan perebut memilik orang!"
"Apa maksud, Mama?" tanya Melinda senyum tadi yang sempat merekah perlahan-lahan memudar begitu saja. Ia tahu saat ini situasi tak seperti beberapa menit yang lalu dimana sang mertua membuka tangan lebar-lebar untuknya.
__ADS_1
Melinda juga tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh sang mertua dengan tiba-tiba memberikan dirinya cap sebagai pembawa sial dan perebut milik orang.
"Apa kamu ingin bersikap pura-pura bodoh dan tidak tahu apa-apa?" tanya Rosa dengan nada sinis.
Melinda masih mematung di tempatnya, karena dia sama sekali tidak mengerti dan dia menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan sang mertua.
"Dengar, karena kamu anakku Candra jadi kuli panggul di pasar! Karena kamu juga barang milik Candra habis begitu saja, dan karena kamu juga Candra tidak mau kembali ke rumah!" ungkap Rosa sembari menuding Melinda dengan jari telunjuknya.
Melinda tidak bisa berkata-kata lagi memang apa yang dikatakan sang mertua benar adanya. Karena dirinya Candra hidup susah, tapi apa pantas dirinya disebut wanita pembawa sial? Bukankah setiap orang memiliki keistimewaan tersendiri?
"Ma, aku minta maaf karena sudah menyusahkan Mas Candra? Tapi Ma, sebagai seorang suami bukankah itu semua sudah tanggung jawab Mas Candra mencari nafkah untuk keluarga?" Melinda memberanikan diri untuk berucap.
Rosa menarik napas dalam-dalam jawaban sang menantu sukses membuat ia memanas. Wanita itu perlahan-lahan mengikis jaraknya dengan Melinda.
"Jadi menurutmu Candra layak mendapatkan perlakuan seperti itu? Ingat Mel, di keluarga Pagalo Candra itu anak emas. Dia pewaris tunggal. Apa kamu bilang tadi? Mencari nafkah? Heh, apa kamu tidak berguna, harusnya kamu yang kerja mencari uang untuk bisa membuat anakku tidak kelaparan. Bukan semua harta yang dibawa Candra kamu kuras habis?"
Tak sampai di sana saja Rosa pun kembali berkata, "Bahkan rumah ini sama sekali tidak layak untuk bisa ditempati. Kamu dan ayahmu benar-benar tak layak diperlakukan seperti majikan oleh anakku."
"Ma, aku tau itu. Tapi saat ia menjadi suami dia bukan lagi anak emas. Dia memiliki tanggung jawab karena sudah meminta anak orang. Ma, apa dulu suami Mama yang berstatus menantu juga diperlakukan seperti ini oleh orang tua Mama?" Melinda tak kuasa lagi untuk tidak membalas ucapan sang mertua.
Sudah cukup baginya selama ini menerima perlakuan sang mertua yang semena-mena. Dia memang wanita baik dan berhati lembut, tapi jika terus diinjak tentu saja akan melawan.
Rosa diam. Ucapan menantunya sangat keterlaluan. "Ka—kamu, berani sekali membawa-bawa nama suami saya yang sudah meninggal. Kamu memang keterlaluan Melinda. Apa tak cukup kamu membuat Candra berada di bawah kakimu dan kini kamu tanpa perasaan mengungkit suami saya. Keterlaluan kamu!"
__ADS_1
Melinda tak percaya jika sang mertua akan bereaksi seperti ini. Apa dia salah bertutur kata? Padahal niatnya tadi ia hanya ingin membuka mata sang mertua agar melihat sisi baik dari kalimat yang ia ucapkan jika anaknya—Candra kini sudah bertanggung jawab dan tidak menjadi anak manja lagi.
"Ada apa ini?"