
Rosa melihat anaknya setiap waktu, karena sejak ia berbicara empat mata dengannya dan memintanya menikah dengan Cici, anak tunggalnya hari itu, Candra tidak pernah lagi keluar dari kamar, mengurung diri.
Ditatapnya Candra dari depan pintu kamar. Tidak ada cahaya di wajahnya. Rosa mengelus dada, ia berusaha tetap positif thinking, mungkin ini hanya sementara karena terkejut dengan kepergian Melinda.
Tetapi hati kecilnya menolak positif, semua kejadian ini, apa yang dialami Candra adalah hasil dari perbuatannya.
Ia menyesal, tapi enggan mengakui.
"Nak," panggil Rosa. Senyum lebar ditunjukkan untuk sang anak.
Candra hanya menoleh, kemudian kembali menatap ke langit-langit. Semakin hari tubuhnya semakin lemah, tidak ada tenaga sama sekali. Ia benar-benar tidak ingin hidup lagi jika tidak ada Melinda.
"Kamu gak mau keluar kamar?" tanyanya lagi. Makanan yang ia buat khusus untuk Candra diletakkan di meja. "Kamu gak makan kemarin, kan? Sekarang makan yuk!" Pada nyatanya, sudah berhari-hari Candra tidak kemasukan makanan sama sekali.
Sisa air di meja masih hampir penuh, itu tandanya Candra hanya meminum beberapa teguk saja. Masih dengan menahan sakit di hati Rosa, ia duduk di samping tempat Candra berbaring. Ditatapnya jambang yang mulai tumbuh di sekitar dagu anaknya, juga kumis yang mulai tumbuh dan tak dicukur seperti biasanya.
"Nak, mama sedih loh lihat kamu seperti ini." Rosa tak sadar meneteskan air mata. "Mama gak bisa lihat kamu selalu mengurung diri dan tak punya harapan hidup seperti ini."
Masih seperti sebelumnya, Candra tidak beraksi sama sekali. Tatapannya kosong dan semangatnya hilang tanpa jejak.
"Maafin Mama, ya, Nak." Rosa mengelus lengan Candra lembut, berharap anaknya itu mau berbicara dengannya meski hanya satu dua patah kata.
Tapi harapannya sia-sia, Candra sama sekali tidak meresponnya. Ia cukup senang jika Candra memerahnya, memakinya atau apalah itu, yang penting mau berbicara dengannya. Tapi tidak, Candra memilih bungkam dan menyembunyikan luka hatinya sendiri.
__ADS_1
"Nak, kamu satu-satunya alasan mama hidup, jadi tolong kalau sudah selesai sedihnya, kamu kembali lagi seperti Candra yang dulu, ya. Mama benar-benar minta maaf, karena mama, kamu jadi seperti ini. Karena mama, Melinda jadi pergi. Semua salah mama. Marah saja pada mama, kamu bisa mencaci maki mama, tapi tolong jangan diam saja."
Candra masih tetap diam dan tidak menoleh. Ia mendengarkan semua apa yang mamanya katakan, tapi tidak mau menimpali ucapan wanita yang melahirkannya tersebut.
Rasanya masih tidak percaya, Melinda yang ia kenal sabar dan tidak aneh-aneh bisa berbuat seperti itu, menyelingkuhi dirinya. Tapi ia pun masih tidak yakin kalau itu memang perbuatan Melinda, bisa jadi wanitanya itu dijebak. Dan sayangnya ia terburu emosi sampai mengusir dan menjatuhkan talak kepada Melinda.
"Nak, mama benar-benar minta maaf." Rosa memeluk Candra sebelum akhirnya ia berdiri dan keluar dari kamar Candra.
Di depan pintu, kembali lagi ia menoleh dan melihat Candra. Ia menghela napas panjang, lalu melanjutkan langkah. Sesal itu semakin besar ia rasakan.
Rosa hanya bisa meninggalkan lelaki itu sendiri di kamarnya lagi. Ia sudah berusaha untuk menghibur, bahkan mengajaknya bicara dari hati ke hati, tapi tetap saja tidak ada perubahan yang berarti.
Hari demi hari berlalu, kini dua minggu sudah Candra seperti itu, dan selama itu pula Rosa selalu menghibur juga meminta maaf pada anaknya tersebut.
Ia memang salah dalam hal ini, karena ide ini berawal darinya. Tidak disangka, kalau ternyata itu membuat Candra kehilangan jiwa. Tubuh Candra memang masih ada di dunia, tapi jiwanya entah di mana.
"Nak, kamu makan dikit, ya." Rosa mengulurkan sepotong roti.
Candra menggelengkan kepala lemah. "Aku gak lapar."
Rosa menarik napas. "Tubuhmu semakin kurus. Sampai kapan kamu mau seperti ini?"
"Buat apa aku hidup, Ma? Sudah tidak ada lagi semangatku hidup karena satu-satunya orang yang mengerti aku sudah pergi." Candra mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam.
__ADS_1
Karena tidak ada makanan dan minuman yang masuk ke tubuh Candra, Rosa terpaksa harus memanggil dokter agar Candra diinfus. Ia tidak bisa melihat Candra semakin hari semakin lemah.
"Kamu mau apa bilang sama mama, Nak!" Rosa mengelus lengan Candra. "Kamu mau pernikahan dengan Cici batal?" tanyanya lagi.
Candra yang berbaring di ranjang tidak menjawab. Ia memilih untuk tidur di kamar tamu, sedangkan kamarnya dibiarkan kosong. Candra masih belum bisa menghapus bayangan Melinda di bawah selimut yang sama dengan Johan.
"Kamu harus sembuh, Nak. Kamu gak boleh seperti ini terus." Rosa mengusap air matanya. Ia mencari cara agar anaknya bisa kembali seperti dulu, meski ia harus dibenci seumur hidup. Tak jadi masalah jika ia dibenci oleh Candra, asalkan anaknya bisa kembali seperti dulu. Daripada lama-lama Candra tidak mau makan, tidak punya semangat hidup, dan akhirnya meninggal dengan membawa kesedihan juga penyesalan, lebih baik baginya menahan egonya.
"Mama akan jujur sekarang, mama yang merencanakan semua ini. Mama dan Cici yang menjebak mereka berdua hingga bisa berada di kamar. Mama minta maaf, Candra!" Rosa memeluk anaknya dan menangis tergugu.
Hatinya tertusuk semakin dalam. Seharusnya sejak lama ia melakukan ini. Seharusnya dari tiga minggu lalu ia jujur, agar Candra tidak sampai seperti ini.
Candra mendengar semua yang dikatakan mama, kejujuran mamanya dan juga fitnah kepada Melinda. Ia ingin marah, ingin memaki tapi tenaga sudah tidak ada lagi. Ia hanya bisa meneteskan air mata. Semakin lama semakin deras.
Bukan hanya Rosa yang menyesal, Candra pun juga.
Kalau saja ia bisa menahan diri untuk mencari sumber masalahnya dan tidak bertindak gegabah, mungkin sekarang Melinda masih ada di sampingnya. Tapi ia ikut menuduh, bahkan mengusir wanita berhati malaikat itu.
Candra menangis tanpa suara, bersama dengan Rosa yang terus saja mengatakan permintaan maafnya.
"Mama akan menebus semua kesalahan mama. Maafkan mama, Candra. Maaf!"
Ia mengusap air matanya, juga air mata Candra. Setelah itu mulai menyusun rencana untuk mengembalikan anaknya seperti dulu. Lagipula Cici seperti tidak peduli dengan Candra karena sekarang jarang sekali gadis itu menanyakan kondisi Candra, yang dipikiran Cici hanya segera menikah. Jadi dengan alasan sibuk menyiapkan pernikahan seorang diri, Cici enggan mengurusi Candra.
__ADS_1
Setiap hari memang datang, tapi bukan untuk melihat kondisi perkembangan Candra, melainkan menginfokan rencana pernikahan sampai mana dan semua hal tentang pernikahan itu, padahal selama itu pula Candra tidak merespon sama sekali.
"Mama akan mencari dan membawa Melinda kembali ke rumah ini lagi. Mama janji sama kamu, Nak!" Ia tersenyum dan mengusap kening anaknya. "Tapi kamu janji harus semangat dan kembali sehat, ya."