Menantu Tak Diinginkan

Menantu Tak Diinginkan
Bab 21 Pulang ke rumah Ayah


__ADS_3

"Mas kita mau kemana?" Melinda menatap Candra yang saat ini berkonsentrasi pada stang bundar dan jalanan di depannya.


"Aku hanya ingin membuatmu bahagia. Maaf karena selama pernikahan ini aku selalu membuatmu menderita," ucap Candra dengan senyum yang dipaksakan.


Melinda paham betul perasaan sang suami saat ini. Jujur saja hal ini sama sekali bukan yang ia harapkan. Meskipun dirinya terluka bahkan sampai saat ini luka itu belum mengering ia tetap tidak ingin sang suami meninggalkan sang ibu.


Melinda sangat tahu kasih sayang lelaki itu pada wanita yang sudah melahirkannya, tak akan pernah tergantikan dengan apapun.


"Mas, kita pulang saja. Kasian Mama ditinggal sendirian. Lagi pula kamu pasti akan merasa bersalah pergi seperti ini," bujuk Melinda.


Candra langsung menepikan mobil yang ia kendarai. Setelah itu ia langsung merubah posisi menatap sang istri. Tangan kekar itu terulur mengusap lembut pucuk kepala Melinda.


"Sayang, aku tau kamu adalah wanita baik. Untuk sekali ini saja bisakah kamu tidak memikirkan orang lain meskipun itu orang yang aku sayangi? Kamu sudah cukup menderita. Jangan membuatku semakin bersalah dengan sikap baikmu ini," papar Candra yang tak enak hati.


Melinda memegang lengan Candra, binar mata wanita itu menunjukkan tatapan sendu, "Mas, kamu tau apa yang membuatku kuat dan bertahan selama ini?"


Candra menggelengkan kepalanya.


"Karena, Mama. Meskipun ia bersikap tidak baik padaku, tapi kadang aku merasa dia begitu menyayangiku, apa lagi kasih sayang yang ditunjukkan Mama untukmu, aku pikir selama aku bisa bertahan aku akan mendapatkan kasih sayang itu," ujar Melinda.


"Sayang, hatimu sangat mulia. Maaf selama ini tidak pernah mempercayaimu." Tangan Candra yang tadi mengusap pucuk kepala Melinda kini pindah ke pipi sang istri mengelus lembut di sana.


Melihat sang suami sudah melunak Melinda ingin sekali lagi mencoba untuk meyakin sang suami agar mau kembali ke rumah.


"Jadi, Mas. Apa kamu mau kembali?"


Sayangnya apa yang diharapkan Melinda tak sesuai kenyataan, tangan Candra tertarik lalu tatapan lelaki itu juga tertuju ke depan.

__ADS_1


"Saat ini aku belum bisa memutuskan. Tapi aku akan memikirkan semuanya. Ow, ya, saat pertama kali menikah aku menjanjikan padamu untuk bersikap adil menginap di rumah Ayah satu minggu sekali. Tapi sampai saat ini aku tidak menepati janjiku itu. Jadi apa sekarang aku boleh menepatinya?" tanya Candra.


Mendengar ucapan sang suami yang menyingung sang ayah, kerinduan wanita itu kini tiba-tiba membuncah. Iya, sejak menikah ia sama sekali tidak pernah berkirim pesan bahkan ia juga tidak pernah tahu kabar sang ayah. Benar-benar Melinda merasa sangat bersalah, kenapa dia dengan mudah melupakan ayahnya—Santoso?


"Mas, ingin membawaku pulang?" tanya Melinda dengan polosnya.


"Iya, aku ingin menginap di rumah Ayah untuk sementara waktu sebelum aku memutuskan semuanya. Lagi pula aku tau kamu pasti merindukannya. Maaf sayang aku melupakan apa yang menjadi hal berarti dalam hidupmu," ungkap Candra.


Melinda menggeleng kuat, "Tidak apa-apa, Mas. Aku juga yang salah karena tidak pernah mengatakan apa yang aku inginkan. Aku juga sudah tega melupakan Ayah Santoso. Jika Mas ingin membawaku pulang aku tidak akan menolaknya lagi."


Candra tersenyum mendengar ucapan Melinda, ia pikir Melinda akan menolak dan bersikeras untuk tetap menginginkan dirinya kembali ke rumah Pagalo. Hal ini juga yang membuat Candra kini menghilangkan apa yang dikatakan Cici tentang Melinda yang katanya kena sindrom jadi orang kaya dadakan.


"Kita berangkat," ucap Candra penuh semangat.


Candra membelah jalanan dengan kecepatan sendang menuju kota Bogor, dimana rumah yang sejak dulu ditempati Melinda dan sang ayah. Sesekali lelaki itu melirik ke arah sang istri yang sudah terlelap setelah bercerita panjang lebar tentang masa lalu mereka saat berpacaran.


Perjalanan panjang akhirnya sampai ke finis juga. Saat ini mobil Candra sudah berhenti tempat di halaman rumah Melinda. Sepi, dan halaman begitu kotor dengan daun yang sudah mengering tersebar di lantai membuat dahi Candra mengkerut. Ia langsung membangunkan sang istri.


"Sayang sudah sampai," ucap Candra menepuk-nepuk paha Melinda agar sang istri bangun.


"Sepertinya kamu sangat lelah. Aku akan menggendong tubuhmu masuk ke dalam." Candra tersenyum sambil menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah ayu sang istri.


Setelah puas memandang sang istri yang tak pernah membuat ia bosan. Kini Candra turun dari mobil lalu membuka pintu mobil guna mengangkat sang istri. Namun, belum juga ia berhasil mengangkat tubuh sang istri, ia melihat kelompok mata dengan bulu lentik menerjab-nerjab tak lama kemudian terbuka sempurna.


"Kita sudah sampai Mas? Kenapa gak membangunkan aku?" tanya Melinda merasa bersalah.


Seandainya Melinda tau jika sejak tadi ia sudah dibangunkan tapi tak kunjung memberikan respon pasti semakin merasa bersalah, "Aku sengaja enggak membangunkan dirimu karena ingin menggendong tubuhmu seperti pengantin baru."

__ADS_1


Melinda terkekeh, "Kamu ini ada-ada saja Mas. Kita itu bukan pengantin baru lagi."


"Biarin aja, mau baru mau lama, yang pasti aku akan selalu jatuh cinta padamu setiap hari, setiap waktu, setiap menit bahkan setiap detik."


Wajah Melinda merona mendengar gombalan yang baru saja keluar dari mulut sang suami. Ia berharap ucapan itu tidak hanya sekedar angin lalu saja, jujur dalam sebuah pernikahan dibutuhkan jatuh cinta setiap hari agar hubungan suami istri itu akan tetap terjalin.


"Aku sangat mencintaimu, Mas."


"Aku lebih sangat mencintaimu," sahut Candra.


Melinda tak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak bersikap malu-malu kucing.


"Ayo, turun jangan sampai aku menerkam dirimu di sini. Kamu tau kan sudah lama aku tidak mendapatkan jatah." Candra menggoda Melinda.


Melinda langsung melihat sekeliling, bakalan malu dia jika ada yang mendengar ucapan Candra barusan, ia pun langsung melayangkan satu cubitan di perut sang suami.


"Sakit Sayang. Kalau nyubit jangan di situ lebih kebawah dikit."


"Mas, malu ih ...." Melinda langsung melepaskan cubitannya dan kini ia dibantu Candra turun dari mobil.


"Kenapa rumah ayah kotor sekali?" tanya Melinda yang langsung mendapatkan jawaban dari Candra dengan mengangkat kedua bahunya.


Perasaan Melinda menjadi cemas, apa sudah terjadi sesuatu dengan sang ayah? Tak ingin banyak berpikir lagi, ia gegas menuju pintu lalu melayangkan ketukan berulang kali sembari memanggil nama sang Ayah, "Ayah, ini Melinda. Meli pulang Yah."


Berulang kali Melinda berteriak, tapi sayang tak ada jawaban. Candra yang melihat kecemasan dari raut wajah sang istri langsung menghampiri, "Kita lewat pintu samping saja siapa tau tidak terkunci."


Melinda langsung mengangguk mereka langsung berlarian menuju pintu samping. Sesuai dugaan pintu itu tidak terkunci, Candra dan Melinda langsung masuk.

__ADS_1


"Ayah!"


__ADS_2