Menantu Tak Diinginkan

Menantu Tak Diinginkan
Bab 7 Terperangkap


__ADS_3

"Apa hasilnya?" Rosa merebut kertas dari tangan anaknya. Meski ia tahu pasti apa hasilnya, tapi tidak lengkap rasanya kalau tidak berpura-pura polos.


Candra ingin menghentikan mamanya melihat hasil laboratorium itu, tapi terlambat dan kalah cepat dari Rosa. Ia masih tak percaya dengan hasil itu, bisa saja istrinya difitnah, kan?


Lelaki itu merasa kenal sekali dengan Melinda, jadi tidak mungkin wanita yang sangat ia cintai tersebut melakukan hal serendah ini. Apalagi itu membubuhkan obat tidur dengan dosis tinggi. Beruntungnya setelah dicek, Cici tidak kenapa-napa, hanya tertidur biasa saja karena efek obat.


"Sudah Mama bilang, kan? Pasti istri kamu itu mencampurkan sesuatu di dalam makanan Cici. Dan hasilnya seperti yang kamu lihat sendiri, ada obat tidur dosis tinggi di sup Cici. Hanya ada di dalam sup Cici, karena di sup lain tidak ada." Rosa meminta hasil laboratorium pemeriksaan sup yang dimakan orang lain selain Cici.


Setelah amplop coklat itu berada di tangan Rosa, ia mengeluarkan beberapa lembar kertas putih. "Ini hasil lab sup yang lain. Kamu bisa lihat sendiri."


Candra melihat satu per satu hasil lab itu. Ia kaget sekaligus tak percaya kalau Melinda istri yang baik itu memberikan obat tidur di dalam sup Cici. Dan ia harus mencari kebenaran atas kasus ini. Pasti ada orang lain yang melakukannya dan melimpahkan semua kesalahan pada Melinda.


Setelah mengembalikan kertas itu kepada mamanya, Candra mengumpulkan semua pembantu di rumah ini. Ia menanyai mereka satu per satu.


"Saya tidak tahu, Tuan Muda. Saya bertugas di depan, bukan di dapur," jawab Mina ketika Candra bertanya kepadanya.


"Lalu siapa saja yang berada di dapur?" tanya Candra lagi.


Mina menyebutkan beberapa nama yang membantu Melinda memasak dan menyiapkan hidangan di dapur. Dan ketika Candra menayai mereka satu per satu, tidak ada yang mengaku.


Sungguh saat ini ia kebingungan setengah mati. Harus bagaimana ia menemukan orang yang memfitnah Melinda dan membuat Cici sampai setengah pingsan seperti sekarang.


Seluruh pembantu membubarkan diri. Candra memijat keningnya. "Harus bagaimana aku mencari cara untuk menunjukkan kalau bukan istriku yang mencampurkan obat tidur itu," gumamnya dengan putus asa.


Setelah menimang beberap saat, ia memilih untuk kembali bertanya kepada salah satu seorang pembantu yang berada di dapur bersama dengan Melinda. Kali ini ia tidak akan bertanya di depan banyak orang, tapi hanya mereka berdua saja.

__ADS_1


"Ada apa, Tuan Candra?" tanya asisten rumah tangga yang bernama Lilis itu.


"Duduk dulu." Candra menunjuk kursi yang ada di depannya.


Setelah Lilis duduk, Candra melanjutkan pertanyaannya. "Kamu bisa mengatakannya kepadaku tentang siapa yang mencampurkan obat tidur di dalam mangkuk sup Nona Cici," katanya langsung ke dalam inti permasalahan.


"Hah? Maksudnya?" Lilis bingung. "Tapi saya tidak tahu apa yang Tuan maksud." Sebenarnya ia paham, tapi ia harus bersandiwara demi keselamatan dirinya sendiri.


Sebelumnya, ia sudah dibreafing oleh Rosa jika kejadian seperti ini akan terjadi, dan ia memilih untuk menyembunyikan fakta yang ada.


"Jadi kamu sama sekali tidak tahu siapa yang memfitnah istriku?" tanya Candra lagi.


"Maaf, Tuan tapi kalau itu sebuah kenyataan bagaimana? Siapa tahu Nyonya Muda memang yang mencampurkan obat itu. Karena kalau saya lihat sepertinya tidak ada yang berani melakukan itu kecuali ada dendam pribadi."


"Kalau dari kami, mana mungkin berani, Tuan. Yang ada pasti nanti dipecat. Lagipula selama ini aman-aman saja, kan? Sebelum Nyonya Muda datang ke rumah ini juga Nona Cici sering makan di sini dan tidak terjadi apa-apa."


Candra mengangguk paham. Ia mengucapkan terima kasih dan berjalan menunju ke kamarnya. Menegur Melinda tidak ada salahnya, agar nanti wanita itu tidak mengulangi perbuatannya.


Hatinya panas oleh rasa marah. Ia harus menegur Melinda agar tidak mengulangi perbuatan itu. Apalagi ini menyangkut nyawa seseorang. Beruntung hanya obat tidur yang dicampurkan di sup Cici, kalau racun tikus apa tidak mati langsung Cici sekarang. Dan sebelum Melinda melakukan hal yang lebih besar lagi, ia harus sedikit keras kepada wanita itu.


"Mas." Melinda menyambut kedatangan Candra di kamar, karena memang sejak tadi menantikan saat ini. Dipelukanya Candra mencari kenyamanan di dada sang suami. Ia menghirup aroma tubuh suaminya dan hatinya merasa sedikit tenang.


Candra mendorong tubuh Melinda. "Kamu ada masalah apa sama Cici? Kenapa tega mencampurkan obat tidur di dalam supnya?" Ia langsung menumpahkan kekesalannya. "Kamu marah sama Cici karena aku sering mengantarkan dia pulang? Atau kamu menganggap kalau Cici adalah penganggu?"


Melinda yang awalnya senang karena Candra ke kamar menjadi amat terkejut saat mendengar kalimat dari lelaki yang menikahinya itu. Ia menggelengkan kepala tak percaya. Kenapa Candra ikut menuduhnya?

__ADS_1


Apa Candra juga percaya kalau ia yang berniat mencelakai Cici? Padahal sejak dulu Candra tahu, bahkan untuk menepuk nyamuk yang mengigitnya saja ia tidak tega, lalu apa mungkin ia mencelakai Cici?


"Mas bukan aku," bela Melinda. Lagipula buat apa ia melakukan itu? Terlintas untuk memberikan obat tidur di sup Cici saja tidak pernah.


"Harusnya kamu bisa berpikir jernih sebelum melakukan itu," ujar Candra lagi.


"Ta-pi bukan aku, Mas. Aku sama sekali tidak ada niat mencelakai Cici, apalagi kepikiran mencampurkan obat tidur. Ini pasti fitnah, Mas. Kamu percaya aku, kan?" Melinda mengusap air matanya.


Ia sejak tadi menahan agar air di dalam matanya tidak tumpah, tapi apa mau dikata, akhirnya tak bisa lagi ditahannya karena sekarang satu-satunya orang yang ia percaya akan membelanya malah ikut menuduhnya.


Wanita bermata teduh itu merasa sendirian sekarang, jika tadi ia merasa masih ada orang yang menginginkan kehadirannya di rumah ini, sekarang ia merasa kalau apa yang dilakukannya akan sia-sia saja.


"Aku bukan membela Cici, tapi aku tidak menyangka kalau istriku melakukan hal serendah itu." Candra mengusap wajahnya frustasi.


"Maaf." Melinda luruh. Air mata semakin deras. keluar dari kelopaknya. Ia tidak tahu minta maaf untuk apa, tapi ia merasa hanya itu yang bisa dilakukan. Mau menyangkal dan menjelaskan sepanjang apa pun tak akan ada lagi guna. Candra sudah menganggapnya bersalah karena kasus obat tidur ini.


"Aku gak mau istri yang sangat aku cintai melakukan hal serendah ini. Aku tidak mengenalmu yang sejahat ini, Mel. Sungguh aku tidak mengenalmu yang seperti ini. Kamu bukan lagi Melinda yang selalu baik kepada semua orang."


"Mas–"


"Kamu berubah, Mel."


"Enggak, Mas. Aku masih Melinda kamu. Tidak ada yang berubah."


"Tapi kamu mencelakai Cici, Mel. Melindaku tidak akan pernah melakukan itu."

__ADS_1


__ADS_2