
Melinda luruh ke lantai. Suaminya sendiri tidak percaya kepadanya, lalu harus kepada siapa ia akan mengadu sekarang? Ditatapnya sang suami yang duduk di tepi ranjang. Tampak tertekan, sama seperti dirinya.
Selama hidupnya, belum pernah Melinda difitnah seperti ini. Ia selalu berusaha menjadi orang baik dan menjauhi masalah, tapi kali ini ia merasa terpuruk karena keadaan yang tak diharapkan.
"Maaf, Mas." Melinda manekuri lantai, ia tidak tahu kata apalagi yang bisa diucapkan kepada Candra. Mungkin memang kata maaf berarti dia bersalah, tapi hanya itu yang bisa Melinda katakan.
Ia mulai mengingat perubahan sikap mertuanya akhir-akhir ini. Apa mungkin semua ini karena wanita itu? Mertuanya yang memfitnah dirinya? Tapi kenapa harus Cici?
Melinda ingin mengatakan kalau mungkin saja Rosa yang memfitnah dirinya, tapi pasti Candra tidak akan percaya. Ia sudah melakukannya beberapa kali, mengadukan sikap mama mertuanya pada Candra, tapi hasilnya Candra masih lebih percaya kepada mamanya.
'Aku benar-benar tidak menyangka kalau mertuaku melakukan hal serendah ini untuk menyingkirkanku. Tapi apa benar dia yang memberikan obat tidur itu di sup Cici? Apa sebaiknya aku bilang saja pada Mas Candra tentang kecurigaanku? Tapi kalau dia jadi lebih marah bagaimana?' batin Melinda.
Ia menarik napas, kemudian menghembuskan pelan. Mencoba menguatkan hatinya sendiri.
"Sekarang Mama sangat marah ketika tahu kamu yang membuat Cici setengah pingsan, dan pastinya tidak akan mau memaafkan kamu begitu saja," ujar Candra masih menyalahkan istrinya. Dia tetap percaya dengan apa yang dikatakan oleh mamanya dan juga Lilis.
"Lalu aku harus bagaimana, Mas? Aku tidak mau sesuatu terjadi pada Cici." Melinda menatap Candra, meminta dukungan dan jalan keluar untuk masalah ini.
"Kamu pikir aja sendiri harus bagimana." Candra meninggalkan Melinda sendiri di kamar mereka. Tentu saja tujuannya adalah kamar di mana Cici berada. Ia harus memastikan kalau gadis itu baik-baik saja.
Setelah ditinggalkan suaminya, Melinda bangun dari duduknya. Ia mencari jalan keluar atas masalahnya kali ini.
"Apa aku kembali saja ke rumah? Biar semua selesai. Bukankah Mama Rosa tidak menyukai kehadiranku di sini?" Melinda bergumam pelan.
Ia berpikir lagi, kalau nanti kembali ke rumahnya, pasti akan membuat ayahnya kecewa, karena pernikahannya baru beranjak dua minggu, tapi kalau tetap bertahan di sini, apa ia sanggup?
__ADS_1
Tangannya menepuk dada, menghilangkan sesak yang ada di hati. "Kenapa semua jadi seperti ini?" keluhnya.
Pagi harinya, Melinda sudah bisa berpikir lebih jernih, setelah mencuci wajahnya dan mendengar kabar dari Mina kalau Cici sudah sadar. Melinda berencana untuk meminta maaf pada Cici. Minta maaf terlebih dahulu bukan berarti kalah, kan?
Melinda masih mengerjakan semua pekerjaan rumah. Ia juga menyelesaikan lebih cepat dari biasanya untuk meraih hati Candra kembali.
"Nyonya Muda gak makan dulu? Sepertinya Nona Cici sudah lebih mendingan itu sekarang." Mina mengantarkan sarapan untuk Melinda. Ia merasa kasihan karena Melinda tidak pernah diajak makan bersama anggota keluarga yang lain di meja makan.
"Makasih, Bi. Nanti aku akan ke sana melihat kondiri Cici." Ia segera menyantap makanannya.
"Ya sudah, saya kembali ke dapur lagi, ya, Nya. Nanti kalau sudah selesai taruh di sini saja piringnya, biar saya yang ambil."
Melinda mengangguk dan lanjut menghabiskan sarapannya. Setelahnya ia mandi dan berdandan sedikit. Wanita itu keluar dari kamar, melangkahkan kaki ke kamar Cici untuk melihat gadis itu.
Agak ragu sebenarnya ia, tapi kalau tidak melakukan ini, pasti masalah tidak akan selesai. Jadi Melinda memantapkan hatinya dan mengetuk kamar Cici lalu masuk.
Melinda menggelengkan kepala. "Enggak, Ma. Aku hanya mau minta maaf pada Cici." Ia melirik Candra yang berada di samping Cici.
"Jadi kamu mengakui kalau kamu yang memberikan obat tidur itu?" tanya Rosa langsung.
Melinda ingin menggelengkan kepala, tapi ia urungkan dan memilih untuk mengangguk. "Maaf."
Dalam hatinya, Rosa tertawa puas. Pasti setelah ini Candra akan menbenci Melinda karena kejadian ini. Dan rencana untuk memberikan pelajaran dan menendang wanita miskin itu dari rumah ini bisa dibilang berhasil.
"Jadi orang harus sadar diri, kamu pasti cemburu kan melihat Candra dekat dengan Cici? Tapi kamu harus tahu, mereka sudah seperti saudara sendiri. Jadi gak perlu cemburu pada Cici," ujar Rosa berpura-pura memberi pengertian, beda dengan apa yang pernah dikatakan sebelumnya jika Cici dan Candra adalah pasangan.
__ADS_1
"Iya, Ma. Aku minta maaf." Melinda menunduk.
Candra yang melihat ketulusan Melinda merasa senang, akhirnya istrinya bisa mengakui kesalahannya. Ia lebih suka seperti ini. Karena meminta maaf lebih dulu bukan berarti kalah.
"Enggak apa-apa kok, Mbak. Maaf kalau sering membuat Mbak Melinda kesal karena Mas Candra mengantarku ke sana sini, karena sejak kecil memang kita sering berdua kemana-mana," jelas Cici sambil tersenyum.
"Jadi kamu memaafkanku?" tanya Melinda lagi.
"Tentu saja." Cici melakukan itu agar Candra melihat kalau ia orang baik, sebenarnya Cici sejak kemarin tidak sepulas itu tidurnya. Ia mendengar ketika semua orang ribut menyalahkan Melinda, tapi demi tujuannya, ia harus ikut berating bersama dengan calon mama mertuanya.
Melinda mengucapkan terima kasih kepada Cici atas pemberian maafnya. Ia hanya ingin semua baik-baik saja, meski itu sangat merendahkan harga dirinya.
"Lain kali jangan diulangi!" Rosa berkata sambil melirik Candra. Ia melihat anaknya itu mengepalkan tangan. "Kamu harus bisa menjaga nama suamimu dan juga Keluarga Pagalo."
"Iya, Ma." Melinda kembali mengangguk pasrah.
"Untung kamu memberikan obat tidur padaku, kalau ke makanan orang, pasti kamu sudah dilaporkan ke polisi sekarang." Cici melanjutkan perkataan Rosa.
"Iya, Mbak. Maaf, karena aku tidak berpikir panjang." Melinda melihat Candra. "Maaf, Mas, aku tidak bisa menjaga nama baik kamu."
Candra mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Ia menahan sekuat tenaga untuk tidak menerkam Melinda di sini. Tangannya mengepal, agar gairah yang mendadak muncul ketika melihat Melinda tidak terlihat di mata orang lain.
Sudah berhari-hari ia tidak menyentuh wanita itu, jadi wajar kalau rasanya ia hampir mati menahannnya. Tapi karena menunggu Melinda sedikit lebih santai dari pekerjaan rumahnya, ia mencoba bersabar. Sampai akhirnya kemarin ada kejadian yang membuat gairah yang selama ini ia pendam hilang seketika. Tapi pagi menjelang siang ini, rasa ingin meraih surga dunia itu kembali hadir saat menatap Melinda dalam balutan daster kuning bermotif bunga matahari.
"Ikut aku ke kamar!" Candra bangun dari duduknya dan menarik tangan Melinda keluar dari ruangan itu. Ia tak tahan lagi sekarang.
__ADS_1
Cici dan Rosa tertawa puas setelah melihat Candra yang terlihat marah kepada Melinda. "Akhirnya kita berhasil, Ma." Cici menyenggol lengan Rosa. "Aku jamin, mereka pasti cerai kali ini."