Mencintai Diam Diam Ketua Geng

Mencintai Diam Diam Ketua Geng
bab01


__ADS_3

Hai kenalin nama saya septa yang menyukai sahabat sendiri yang bernama egi saputra.dan sangat menyebalkan bertemu sama pria menyebalkan yang kita sebut ialah aldi saputra


...aku sampai di sebuah kompleks yang sangat ramai berbeda dengan kompleks pada umumnya. aku menjinjing kardus berat berisikan buku pelajaran dari sekolah sebelumnya. Banyak anak bermain di sekitar kompleks. Ibu aku yang sering di panggil ibu nabila sedang bercengkrama dengan tetangga barunya yang memiiki usaha makanan. Keluarga aku harus pindah lantaran sang ayah harus mengawasi sebuah pembangunan besar di Jakarta. Meskipun begitu keluarga aku bukanlah keluarga yang berada. Merka harus menghemat uang untuk beberapa keperluan yang dikiranya bisa di tunda untuk membelinya....


Pak yanto ayah dari septa sedang merapikan rumah kontrakan mereka yang masih berserakkan di bantu oleh nabila, aku dan Nanda. Nanda adalah adik satu-satunya aku. Dengan keraguan dan kerberanian yanga hanya setipis tisu, aku mencoba bicara dengan ibunya untuk memberinya sedikit uang untuk membeli peralatan sekolah.


"Ma!" panggil aku dengan ragu.


"Ya!" sahut nabila yang tak menoleh kearah aku.


"Ma, boleh minta uang dua ratus ribu nggak?' tanya aku dengan lirih. Mendengar pertanyaan itu seketika nabila menoleh kearah aku yang tertunduk takut.


"Dua ratus ribu? Untuk apa?" tanya nabila.


"Ma ini kan sekolah baru, tas aku sudah rusak. Buku aku juga harus ganti kan, Ma." Jelas aku.


"Mama habis belikan sepatu, Tas dan seragam untuk adikmu," tukas nabila dengan tegas.


"Aku gimana?" tanya aku masih dengan penuh harapan jika nabila memberinya uang.


"Sekolahmu tinggal satu tahun. Itu pun nggak akan genap satu tahun.' nabila membalikkan badan tidak peduli dengan aku yang menahan air mata.


"Tasmu, dan bukumu masih bisa di gunakan. Seragam juga tidak perlu beli. Nanti biar mama yang ngomong sama gurumu," imbuh nabila. aku tak kuasa menahan air mata yang sudah terpupuk di ujung matanya. Dia berlari kekamar barunya yang masih berantakan dengan


barang-barangnya.


Percakapan nabila dan akuternyata di dengar oleh yanto. yanto hanya menghela napas panjang merasa melihat anaknya berlari ke kamar dengan keadaan kecewa. yanto melanjutkan pekerjaan rumah untuk membereskan beberapa barang lagi. Dia melihat lampu di kamarnya tidak menyala.


"nabila! Aku beli lampu dulu. Mumpung masih siang!" teriak yanto kepada istrinya.


"Ya!" sahut nabila dari dapur.


yanto dengan motor bebeknya segera pergi membeli lampu. Karena dia belum mengetahui wilayah kompleksnya dia bertanya kepada seseorang. "Pak, dimana saya bisa beli kabel dan lampu?" tanya yanto kepada seorang pria yang tengah duduk membaca koran dnegan santai.


"Ah, pak yanto. Kamu lurus saja keluar dari kompleks ini. Setelah itu beremu jalan raya belok kanan. Disana ada banyak ruko, lihat aja sisi kiri jalan," jawab pria itu dengan Ramah.


"Terima kasih," sahut yanto diikuti dengan anggukan kepala.

__ADS_1


yanto segera menyalakan motor bebeknya dan mengikuti arahan dari itu. benar saja disana banyak sekali toko. Mulai penjual baju, Alat tulis kertas, lampu dan perabot hingga bahan material.


Sore telah tiba, nabila menyiapan beberapa makanan untuk jamuan para tetangga. Keluarga yanto mengudang tetangga sekitar untuk makan bersama. Dengan keadaan kesal aku membantu nabila tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Bahkan dia ingin segera acara yang di selenggarakan ibunya cepat berlalu.


"Katanya nggak punya uang, tapi bisa beli jajanan segini banyak, membuat masakan bayak pilihan," gumam aku kesal menatap banyak makanan yang harus di sajikan.


"aku. rebus air untuk membuat kopi dan teh!" teriak nabila.


Tamu mulai berdatangan. Tanpa menyaut aku mengikuti perintah ibunya dengan lemas. aku membuat satu wadah penuh berisi Teh dan satu wadah penuh berisi Kopi. aku menjadi banyak melamun hingga dia tidak menyadari ketika ada seseorang di depannya.


"M-maaf-maaf!" ucap aku yang hampir menabrak pria didepannya.


"Nggak apa-apa, apa perlu bantuan?" bukannya marah pria itu malah menawarkan bantuan kepada akku. aku merasa salah tingkah dengan tatapan mata pria yang Bernama itu.


"Nggak, saya bisa sendiri kok," tolak aku. Pria itu memberikan senyum manisnya hingga membuat aku tersipu.


aku kembali membawa nampan berisikan kopi dan teh tersebut ke teras, tiba-tiba....


Bruk...


Byur...


"aldi. Kamu nggak apa-apa, Nak?" tanya wanita yang duduk di samping pria yang terkena tumpahan kopi panas itu.


"Panas, Ma." Pria itu terlihat menahan sakit pada tangannya.


"Bu Wulan mari kita bawa ke rumah sakit," ajak nabila kepada Wulan dan pria yang di ketahui bernama aldi tersebut.


"Nggak apa-apa, Bu. Biar kami plang dulu saja," tolak wulan dengan wajah yang tidak menunjukkan kemarahan sedikitpun.


aku mematung dan menunduk ketakutan ketika nabila menatapnya dengan tajam.


"Bu nabila .mari kita lanjutkan saja. tenang saja suami Bu Wulan dokter kok," ucap Risa ibu dari egi. aku kembali kemarnya dengan perasaan ketakutan. yanto segera menyusul aku untuk menenangkannya.


"aku..." panggil yanto dengan lembut.


"Yah, ini bukan salah aku sepenuhnya. Nanda tadi yang menabarak aku," ucap aku di tengah isak tangisnya.

__ADS_1


"Iya-iya, ayah tahu. Nanti kita minta maaf bersama ya," bisik yanto kepada anaknya.


"Iya, Yah."


Hingga selesai acara aku tidak keluar kamar. Dia mengurung diri meneratapi nasib sial nya hari ini. Rasa kesal yang belum reda, aku harus bertemu adiknya dalam satu kamat. Karena rumah ii hanya memiliki dua kamar sehingga aku terpaksa harus satu kamar dengan Nanda.


"Kak, di panggil ayah." Beri tahu Nanda kepada kakaknya.


"Jangan pegang barangku!" peringat aku kepada Adiknya.


aku kemudian menemui ayahnya yang tengah duduk di depan tivi.


"Ayah memanggilku?"


"Iya, kamu di ajak Mamamu menemui keluarga aldi."


"Aku aja, yah?"


"Iya! Siapa lagi. Kamu kan yang bikin masalah!" sahut nabila dengan ketus.


"tapi, Ma. Tadi karena Nanda menabarakku," elak aku.


"Adikmu masih kecil."


aku diam. Jika sudah mengatakan hal itu tidak akan menang berdebat dengan sang ibu. aku memilih untuk tidak melawannya lagi. nabila memimpin jalan untuk menuju rumah keluarga aldi yang hanya berjarak beberapa rumah saja.


Tok... tok...


nabila mengetuk pintu rumah keluarga yang lumayan berada tersebut. namun, tidak ada jawaban.


"Ma, mungkin mereka pergi berobat," bisik aku.


"Semua ini karena kamu!" Jegrekkk...


Pintu tiba-tiba terbuka. nabila mengatung hendak mengetuk pintu didepannya.


"Loh, Bu nabila." Wulan terkejut saat melihat tetangga barunya sudah ada didepan pintunya.

__ADS_1


"Iya, bu. Saya dan akumau menjenguk keadaan aldi," kata nabila.


"Oh, silahkan.”


__ADS_2