
aku melihat salah satu siswi memanggilnya.
"Ya!" sahut aku dengan mata yang sendu merasa insecure melihat gadis di depannya nampak semua berkilau, seragam yang putih, sepatu yang bersih bahkan tas yang sangat bagus.
"Aku nesa." kata gadis itu memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangnnya kepada aku.
"Aku aku.kamu pindahan dari mana? Kaku banget ngomongnya?" tanya nesa.
"dari Jakarta juga, tapi di pinggiran," jawab aku.
"Oh, semoga betah ya. Kemarin aku nggak sempat menyapamu," ucap nesa.
"tidak apa-apa," sahut aku.
"Oh iay, aku. Lo jangan kaku sama gue ya," ucap gadis itu lekas duduk di depan lili.
"Iya, aku_"
"Ssstttt!" nesa menghentikan ucapan Lili.
"Coba lo ngomong gue!" suruh nesa,
"g-gue," ucap aku mengikuti intruksi nesa.
"Nah, lo akan terbiasa sama penyebutan Lo-gue nanti." "Aneh, ya."
"Yak arena lo nggak terbiasa, oh iya, lo jangan ambil hati si ucapan aldi dia emang gitu."
"heem!"
"Selamat Pagi anak-anak!" sapa guru yang baru saja masuk.
"Ssst.. nanti istirahat bareng ya," bisik nesa sebelum kembali ke bangkunya.
aku tersenyum tipis. Hingga bel istirahat sudah berbunyi. aku hanya duduk di bangkunya. Anesha menghampiri aku di bangkunya.
"ku, ayo ke kantin," ajak nesa.
"nggak, aku di kelas aja." akumenolak ajakan nesa.
"Ayo!" nesa menarik paksa aku untuk pergi ke kantin. "gue teraktir," ucap nesa. aku dengan terpaksa mengikuti nesa.
"Lo tunggu sini," ucap nesa kepada aku.
aku melihat sekitar kantin yang sangat berbeda dengan sekolahnya dulu. Kantin ini di penuhi berbagai macam pilihan makanan. nesa membawa dua mangkuk bakso di meja depan aku.
"aku. lo ambilah sambar disana,” pinta nesa.
"Harus di bawa mangkoknya," imbuh nesa ketika melihat aku berdiri tanpa membawa mangkoknya.
__ADS_1
aku mengikuti intruksi nesa dan membawa mngkoknya untuk meminta sambal kepada penjual baksonya.
aldi yang melihat aku ada di kantin segera mempunyai ide usil. Dia berjalan menghampiri aku.
"HAH!" aldi membentak aku dari belakang membuat gadis itu terkejut hingga membuat kuah bakso akh tumpah mengenai tangan aldi. Beruntung tidak sampai terjatuh mangkok yang di pegang aku.
"kenapa sih ngagetin orang?" protes aku seraya meniup-niup tangannya yang juga terkena kuah bakso yang ia bawa.
"kenapa kalau gue ketemu elo jadinya sial?" tanya aldi dengan kesal.
"Elo yang mulai kan, di" nesa membela aku didepan aldi. Sedangkan semua orang menatapnya dengan aneh. aku pergi meninggalkan kantin dengan kesal.
"Bener-bener tu orang, nggak bisa pa ya sehari tanpa ganggu aku!" gumam aku yang kesal.nesa lekas membayar bakso yang tidak jadi di makan itu. dia megejar aku yang pergi ke kelas.
"nesa, maaf ya nggak jadi makan. Aku ganti ya uangnya," ucap aku seraya mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku seragamnya.
"Nggak usah, gue malah yang nggak enak karena nggak jadi teraktir elo," sahut nesa.
"Lain kali saja," ucap Lirih aku.
aku sudah muak dengan hari ini. Dia ingin segera pulang. Dan entah apa yang terjadi bel pulang sekolah berbunyi.
"Hah! Kita pulang?" tanya aku
kebingungan.
"Iya, kemarin ada info kalau kita pulang pagi," sahut nesa.
"hati-hati, Byebye..."
aku berjalan dengan letih menuju rumahnya. Panas matahari membuatnya kehilangan tenaga lebih. Dia harus menenteng tas yang talinya putus. Dia juga harus memondong buku-bukunya. Karena kesal aku melempar tasnya ke jalanan begitu saja.
"Eh!" celetuk aku saat melihat tasnya tertempel sebuah dobletip.
"Dobletip? Siapa yang menaruhnya?" tanya aku pada dirinya sendiri.
"NAnda!" seru aku saat terlintas wajah adiknya.
aku berjalan dengan cepat untuk bertemu adiknya. aku dengan berutal menemui adiknya yang sedang main mobil-mobilan.
Brak!
Nanda terkejut ketika melihat kakanya dengan kasar mendorong pintu kamarnya.
"Nanda. Kamu apakan ini tasku ?" tanya aku.
"eng-enggak tahu, aku nggak ngapa-ngapain kok," jawab nanda dengan gugup.
"Kamukan yang nyobek tasku, kamu kan yang buat ini," tuduh aku.
__ADS_1
"Enggak!" elak Nanda ketakutan dan henadak pergi dari kamarnya.
aku dengan sigap nenagkap adiknya. Dia segera menjewer kuping adiknya dengan keras.
"Aduh... sakit!" pekik kesakitan Nanda.
"Ngaku nggak?”
"Iya, kak. Maaf!"
"aku Apa yang kamu lakukan sama adikmu?" tegur nabila yang mendengar keributan dilamarnya.
"Ma, kakak mukul aku," adu Nanda seraya berlari pada ibunya.
"Apa kamu gila?" hardik nabila.
"Ma! Lihat!" aku menunjukkan tasnya yang sobek tak berbentuk kepada ibunya.
"itu masih bisa di perbaiki, jangan di buat ribut!" Susan terlihat tidak berpihak pada aku.
"Tas bisa di perbaiki, sepatu bisa
di perbaiki, seragam tidak perlu beli, tapi adik semua mendapatkannya. Lihat! Dia dapat sepatu baru, seragam baru, tas baru semua baru!" semua hal kenyataan itu seketika membuat aku sangat kecewa. akupergi meninggalkan rumah begitu saja.
"aku" panggil nabila. "aku." nabila masih mencoba mengehentikan putrinya.
aku berhenti di sebuah halte tak jauh dari kompleksnya. Dia tak lagi bisa menahan air matanya, aku mengais tersendu-sendu duduk bangku halte. Entah sudah brapa lama aku duduk dengan menangis hingga matahari mulai terbenam tak lagi menunjukan sinar hangatnya. Banyaknpasang mata yang menatapnya tapi aku tak peduli.
"aku!" panggil suara berat dari hadapannya yang entah kapan datangnya akupun tak tahu.
aku mendongak dan melihat sang ayah sudah berdiri didepannya.
"Ayah!"seru aku
"Ya! Kamu kenapa?" tanya andi pada putrinya. "Ayah, apa aku ini bukan anak ayah sama mama?” tanya aku dengan terisak.
"Hei! Kenapa kamu tanya itu?” tanya balik andi
"Mama tidak pernah membelaku saat bertengkar sama adik," ucap aku.
"Kalian kenapa lagi?"
"Tasku rusak dan itu Nathan yang melakukannya, tapi mama selalu membela adik," jelas aku
"Yah! Aku ini kurang engalah apa sama adik? Semua barang adik baru saat pindah sekolah, sedangka aku? Aku harus memakai seragam yang berbeda, tas yang rusak, sepatu yang usang." aku megeluhkan semua kepada ayahnya. "Ya sudah, kita pulang dulu. Mamamu pasti bingung," ajak andi. andi kini merasa ada beban berat setelah aku menceritakan semua yang dia alami.
aku mengekor di belakang aku dan duduk di jok belakang. Selama perjalanan pulang hanya diam tak mengatakan sepatah katapun.
Satu Bulan berlalu, aku di panggil oleh wali kelasnya. aku megira jika ini beerkaitan dengan uang sekolah. aku sudah siap mental jika memang ni berkaitan dengan pembayaran sekolah. Kali ini aku akan mengira jika dia harus menambahn mental utnuk mehan malau peruhal tunggakan sekolah.
__ADS_1
"Selamat siang, Pak." aku