Mencintai Diam Diam Ketua Geng

Mencintai Diam Diam Ketua Geng
bab09


__ADS_3

Biru tua seraya menghampiri meja aldi.


"Lihat!" ujar senior itu seraya menarik lembar jawaban aldi dengan kasar. aku melihat kejadian itu merasa khawatir.


"Kamu sudah selesai kenapa tidak keluar?" tanya senior dengan nama dada Brina.


"Aku masih mengecek ulang," jawab aldi dengan santai dan mellipat kedua tangannya.


"Cepat selesaikan," perintah senior itu.


"Dasar tengil," hardik senior wanita itu sebelum meninggalkan aldi.


Empat puluh lima menit berlalu. aku dan peserta lainnya mulai mengumpulkan lembar jawaban. aku terlihat sangat cemas.


"Hei, Bodoh. Gimana?" tegur aldi seraya mengalungkan tangannya di bahu gadis yang terbilang lebih pendek darinya.


"He, egi!" panggil aku saat melihat egi dari kejauhan dan mengabaikan aldi.


"akku. gimana?"


"Soalnya rumit sekali, gue nggak yakin jawabanku benar," keluh aku.


"Emang lo bodoh aja makanya soalya rumit, gue selesai lima belas menit lebih awal," sahut aldi.


"Gue nggak ngomong sama lo!"


"Kalian kenapa sih? Bertengkar mulu," keuh egi. "egi. Lo tahu. Dia tadi di tegur sama pengwasa, dia ketahuan mencontek," adu aku pada egi.


"Oh iya? Lo menyontek? Sifatmu tidak berubah," ucap egi terhadap aldi.


"Gue nggak nyontek!" elak aldi.


Disaat mereka sedang berbincang, tiba-tiba seseorang memanggil aku.

__ADS_1


"aku! Panggil salah satu peserta yang berlari pada aku.


"Eh iya, kenapa?" tanya aku pada gadis yang menggunakan blouse berwarna pink dan rok di bawah lutut itu.


"Ini," gadis itu memberikan bolpoin kepada aku.


"terima kasih," ucapnya.


"Sama-sama," sahut aku.


"Eh Sintia, aku kenalkan, ini aldi dan ini egi mereka temanku sejak smp." ucap memperkenalkan kedua temannya. aldi hanya nyengir acuh. Sedangkan egi memberikan yang ramah.


"Dia Sintia. teman baruku." aku.lanjut memperkenalkan gadis di sampingnya. Rambutnya yang terkuncir kuda itu menunjukkan wajah yang cantik. Terlebih ketika Sintia tersenyum membuat egi tertarik. Berbeda dengan aldi yang membuang muka memilih melihat aku di sampingnya. "Ayo kita pulang," ajak aldi seraya menarik aku.


"Eh, lepas!" aku melepas tangan aldi dan berbalik kearah Sintia


"Sin, Lo pulang bareng kita?" tanya aku.


"Enggak usah, gue masih ada urursan lain," tolak Sintia


egi memberikan senyum pada Sintia saat gadis itu pergi lebih dulu.


Hari yang melelahkan bagi peserta tes. Banyaknya peserta membuat tes di lakukan beberapa hari kedepan. Untuk hasil akan di ketahui satu sampai dua minggu kedepannya Sebelum berpisah, Bani mengajak temannya untuk makan bersama. Tapi Bani tidak mengatakan jika ini adalah pertemuan mereka yag terakhir. Melainkan untuk merayakan kelulusan.


"Tumben-tumbenan lo ajak kita keluar?" tanya nesa.


"Iya, kan gue nggak sekolah lagi. Jadi sisa uang skau gue selama ini bisa lah buat merayakan kelulusan kita," jawab Bani.


"Udahlah, Bani. Gue aja yang bayar," sahut aldi.


"Nggak usah, gue aja," ucap nesa.


"Susah kalau temen gue kaya semua. Pada nggak mau di teratir. Padahal uang gue juga nggak haram kok," kata bani.

__ADS_1


"Oke-oke, kali ini Bani yang bayar." nesa akhirnya setuju dengan ajakan Bani


Meskipun hanya membeli paket lengkap dengan empat nasi, ayam bakar, sambel dan lalapan dengan minuman esteh saja mereka sangat bahagia. Mereka tidak perlu menjadi orang lain di depan sahabatnya itu. tidak ada yang janggal dengan sikap Bani. Hingga selesai makanpun Bani masih bersikap normal.


"Gue pulang dulu ya, adik-adik gue nunggu ayam bakar ini," pamit Bani. "oke-oke, thanks ya." Mereka melambaikan tangan perpisahan. Mata Bani mulai bergetar menahan air mata di ujung matanya.


aku dan yang lain berpindah di taman kompleks. Namun tangan aldi tiba-tiba merogoh saku dan mendapatkan sebuah kertas yang dia juga tidak merasa memilikinya.


"Lah, kertas apa ini," gumamnya seraya mengeluarkan kertas itu.


"Ganteng-ganteng jorok.


Sampah masuk kantong," ledek aku yang melihat celah keburukan aldi .


Vincent tidak terpancing. Dia segera membuka surat itu dan merasa tidak asing dengan"aldi, kalau lo temuin kertas ini berarti gue udah berangkat ke bandara. Gue hari ini harus pergi ke singapura untuk bekerja. Disana gue ikut paman jadi kalian tidak perlu khawatir. Maafkan gue yang ahrus berpamitan dengan cara ini. Gue nggak sanggup jika harus mengatakan ini secara langsung. Terima ksih waktu untuk merayakan perpisahan kita ini. Tolong beri tahu yang lain permintaan maaf gue ini. Sampaikan juga terima ksih gue sama nesa yang selalu membanyu gue dalam memberi barang saat di sekolah. Sampaikan termia ksih gue sama Steve yang selalu sabar dengan tigkah gue. Untuk aku.... perkenalan kita memang singkat. Tapi tingkahnya yang polos dan lucu membuat gue senag berteman dengan dia. Kalian akan selalu gue tulisan tangan tersebut.


Ingat. Gue nggak sanggup menulis terlalu banyak, terima kasih atas tiga tahun ini. Suatu hari gue akan kembali dengan kalian. Gue harap kalian masih bisa menerima gue, Bani.


"Bani. pergii?" suara aku terdengar serak.


"Kenapa Bani tega ninggalin kita setelah memberikan kenangan indah kayak tadi," sahut nesa yang ikut menyeka air matanya.


"Bahkan sebelum pergi dia masih ingat kita," sahut egi.egi dan aldi ingin ikut mennagis tapi rasa gengsinya muncul. Sehingga hanya terlihat mata mereka memerah dan berkaca-kaca saja.


Mereka pulang dengan langkah kaki yang lemas. aldipun sesampinya di kamar langsung mengurung diri. Dia yang lebih sering melakukan banyak hal konyol sehingga tidak mudah untuk aldi melepaskan Bani begitu saja. bani pun yang sudah ada di dalam pesawat menatap kosong kearah awan. Matanya nanar ketika mengingat dirinya ketahuan bolos sekoah dengan aldi, di hukumm bareng, bahkan selalu di berikan barang baru oleh nesapun dan aldi ingat semua hal itu. saat dia tidak bisa mengerjakan sesuatu egi selalu sabar mengajarinya.


Dua minggu berlalu. Pengumuman lolos telah telah diumumkan melalui website. Vincent dan kedua orang tuanya melihat website yang telah di bagikan oleh pihak sekolah bersama-sama dan seperti yang di harapkan aldi lolos dengan nilai yang jauh di atas rata-rata. Begitupula egi, dia juga lolos dengan nilai mendekati sempurna. Sedangkan aku masih menunggu laman web itu terbuka. aku menutup matanya.


"Kak!" panggil Nanda seraya menarik baju aku.


"Apa sih, nan Diam dulu. Kaka lagi cemas," sahut aku kesal.


"Itu, ada tulisan Lo.. lo...s," ucap nandadengan mengeja. Seketika Ku membuka kedua tangannya dan melihat layar ponselnya yang dia sandarkan di meja.

__ADS_1


"Ma! Mama!" panggil aku dengan kegirangan. Matanya nanar menahan air mata kebahagiaan.


__ADS_2