Mencintai Diam Diam Ketua Geng

Mencintai Diam Diam Ketua Geng
bab02


__ADS_3

nabila memberikan buah tangan kepada Wulan. “Ah apa ini, Bu. Repot-repot sekali."


"Ah tidak, Bu. Tadi anda dan keluarga tidak sempat ikut makan. Jadi, saya bawakan."


Kedua wanita itu pergi kedapur.


"aku. kamu masuk saja ke kamar aldi. yang itu..." Wulan menunjukkan kamar aldi.


aku dengan pelan membuka pintu di depannya. Terlihat pemuda sedang berbaring dengan lengan di perban.


"Astaga, kenapa separah itu," batin aku yang urung masuk ke kamar aldi. Mata aku bertemu dengan pandangan nabila yang ada di dapur, seketika aku membuka pintu itu dan masuk setelah mendapat kode dari ibunya.


"Heh! Nagapain?" sentak


aldi ketika mendapati ada orang asing di kamarnya.


"M-maaf. Aku hanya mau minta maaf kok," ucap aku yang baersandar di pintu kamar aldi. Pria itu tidak menyaut. Dia malah membalikkan tubuhnya membelakangi aku.


"Apa separah itu?" tanya aku


"Ya! Karena mu aku harus di operas!" jawab ketus aldi.


"Ha? Butuh biaya berapa? Kapan operasinya?" cecar aldi dengan polos.


"aldi !" seorang pria dengan kemeja rapi memasuki kamar aldi hingga membuat aldi yang ada di balik pintu tersentak.


"babeh!" ucap aldi yang tak kalah kaget mendengar suara sang ayah.


"Om, saya aku.Saya minta maaf karena mambuat aldi luka berat. Hingga harus di operasi." aku meminta maaf kepada pria paruh baya di depannya.


"jangan percaya, aku. Saya andi ayah aldi.Dia hanya menggertakmu. Itu luka biasa kasih salep saja sudah sembuh," sahut andi.


"Sudah, Biarkan saja dia. Ayo kita keluar," ajak pria itu.


aku mengikuti langkah kaki pria itu untuk menuju ruang tamu.


"Bu nabila. kamu beruntung sekali memiliki anak gadis yang cantik dan penurut seperti lili," puji andi.


"Bisa aja, Pak." nabila terlihat tersipu dengan pujian iya.


"Mari kita makan malam bersama," ajak Wulan.


"Tidak, Bu. Kami sudah makan." nabila menolak ajakn Wulan dan memberikan kode kepada aku untuk segera pamit.


"Iya tante, kami sudah makan. Saya juga harus menyiapkan buku untuk besok masuk sekolah," kata aku.


"oh iya, besok sudah mulai masuk sekolah ya," sahut andi.

__ADS_1


"Iya, kami pamit dulu. Maaf sekali lagi," pamit nabila.


"Tidak apa-apa, Bu." Wulan mulai mengantarkan tamunya untuk keluar rumahnya. Lili melihat kebaikan keluarga aldi membuatnya menyesal dan merasa bersalah.


Hari semakin malam. aku mulai menyiapkan segala sesuatu untuk esok hari. Sedangkan aldi mulai membuka beberapa menu makan malam yang di bawakan oleh aku dan ibunya.


"Pa, harusnya kita memita kompensasi kepada keluraga baru itu. masak sudah melukai anak orang malah di kasih sup, ikan bakar sama kue apa ini," protes aldi.


"aldi jangan banyak perotes, " sahut sang ibu.


"Ish, nggak napsu makan," ucap aldi kesal dan lekas kembali kemarnya setelah merasa tidak ada. pembelaan pada dirinya/


KEESOKAN HARINYA....


Kring......


aku berlari menuju gerbang sekolah yang hampir saja di tutup. aku terengah-engah ketika berhasil melewati gerbang itu. aku masih menggunakan baju seragamnya yang lama. Sehingga banyak orang yang mengetahui jika dia memang anak pindahan. aku segera memasuki ruang gruru.


"Selamat pagi," sapa aku.


"aku ya?" tebak guru yang sudah menunggunya sedari tadi.


"Iya, Bu."


"Mari ikut saya," ajak guru itu.


aku mengikuti langkah kaki guru itu dan memasuki sebuah ruangan yang sangat asing. aku begitu canggung untuk mulai melangkahkan kaki memasuki ruangan tersebut.


"I-Iya, Bu." aku berdiri di samping guru wanita yang mengantarnya irtu. Riuh kelas seketika hening ketika guru itu masuk.


"Selamat pagi anak-anak," sapa


guru itu.


"Pagi, Bu!" sahut mereka bersamaan.


"Selamat datang kembali di sekolah setelah libur yang amat panjang. Di hari pertama kalian masuk, selain di ruang kelas yang baru kalian juga punya teman yang baru, silahkan kenalkan dirimu.


ibu yang sedari tadi menunduk seketika mendongak ketika mendengar perintah untuk mengenalkan diri di hadapan tean barunya. Seua wajah yang asing membuatnya sedikit gugup. Mulutya terasa bungkam ketika mleihta semua mata menantapnya.


"Ayo!" suruh wanita itu.


"Se-selamat pagi, perkenalkan. Saya septa susanto. Senang bertemu kalian," kata aku. Saking gugupnya aku hanya mengatakan namanya, dia tidak mengatakan asal usulnya. Guru wanita itu tahu kegugupan murid


Barunya.


"Dia aku.saya harap kalian bisa membantunya untuk beradaptasi di sekolah kita," kata guru itu.

__ADS_1


"aku, duduk sana," suruh guru itu. aku berjalan melewati banyak teman barunya hingga dia melihat dua wajah yang sangat tidak asing. Ya mereka adalah aldi dan egi.


Hari pertama aku bersekolah di lewati dengan baik. Namun, tidak di hari berikutnya. aku yang lagi-lagi bangun kesiangan harus berlari untuk menuju kelasnya.


Brak...


"aduh!" pekik kesakita aku ketika tasnya tersangkut di pintu masuk kelasnya.


"hahahahahah......" semua orang tertawa ketika melihat aku terjatuh tepat di hadapan aldi the geng. aldi dan temannya, Bani tertawa terpingkal-pingkal melihat gadis itu Manahan sakit dan malu.


"Astaga! Ini tas sudah nggak layak pakai, Sobek sana sobek sini," ledek aldi seraya mengambil tas aku yang sobek di beberapa tempat.


"Lo ambil di tukang rombeng ya ?" tanya Bani seraya menenteng ta situ.


egi yang melihat itu segera membantu akum


"Sudah-sudah, ada guru mau masuk," ucap egi untuk menghentikan teman-temanya.


akh menahan malu di depan teman barunya. Dia tidak mengira jika tasnya sudah tidak layak pakai.


"Ayo!" egi mengulurkan tangannya kepada aku yang masih terduduk di depan pintu. aku terperangah melihat egi yang sangat perhatian.


"aku.apa lo ada yang sakit?" tanya egi. aku tak lekas menjawab dia masih terkunci menatap wajah pria di depannya.


"Eh sorry, maksudku kamu, pasti kamu belum terbiasa dengan ucapan Lo-gue." egi segera meralat panggilannya karena dirasa Lili belum terbiasa dengan panggilan tersebut.


"enggak-enggak," ucap aku yang tersadar dari kehaluannya.


"Kamu boleh manggil aku dengan senyamanmu, terserah. Jadilah dirimu sendiri," ucap aku seraya meraih tangan gi yang membantunya beridiri.


"terima kasih," ucap aku ketika berhasil berdiri.


"Nanti lo bakal terbiasa kok sama gaya bicara mereka," ucap egi seraya memasuki ruang kelas bersama.


"He'em." aku hanya berdehem. Kini aku tidak harus menahan malu karena seragamnya yang berbeda tai karena barangay yang sangat usang.


"Dunia kita sempit ya, rumah kita dekat, kita satu sekolahan, bahkan satu kelas," ucap egi.


"Iya," sahut aku.


"Bahkan aku mulai mengaggumi orang yang baru aku kenal." Batin aku seraya menatap egi yang menuju bangkunya.


Perasaannya mulai tumbuh liar di hatinya. Tidak pernah sebelumnya aku merasakan hal seperti itu. dia meremas tas di pelukkanya untuk mempelampiaskan perasaan yang tidak karuan itu.


"aku. lantas mendongak ketika mendengar seseorang memanggilnya.


...Buah semngka buah kendondong...

__ADS_1


...Kalo suka bilang dong...


...Minum susu rasa semngka ngode mulu jadian kagak...


__ADS_2