
"Ya!" sahut nabila yang masih ada di dapur.
"Sini, Ma!" mendengar kegaduhan di ruang tamau Susan segera menghampiri kedua anaknya.
"Ma, aku lolos, Ma!" seru aku.
"astaga! Anaku lolos. Kamu bakal jadi sarjana, jadi kerja di kantoran nanti," ucap nabila kegirangan.
nBila keluar rumah dengan girang. "aku MASUK KAMPUS TERKENAL! WOY ANAKKU BAKAL JADI SARJANA!" teriak nabila dengan gembira aku sangat malu mendengar ibunya bertingakah aneh. Wulan dan Risa yang mendengar itu juga ikut keluar.
"Bu nabila.selamat ya!" ucap risa.
"Terima kasih," sahut nabila yang masih menyisakan senyum lebar dibibirnya. "egi sama aldi gimana, Bu?" tanya nabila.
"egi lolos," jawab Rissa ibu dari egi.
"aldi juga," sahut Wulan.
Mereka bertiga sangat bahagia melihat anak mereka berhasil lolos masuk ke universitas ternama di Jakarta tersebut. meskipun kini nabila menjadi tambah beban karena biaya kuliah tidak semurah anak SD. aku.memilih tinggal di asrama karena jarak dari rumahnya ke kampus lumayan jauh. Dia tidak ingin menghabiskan uang utuk transportasi. Mendengar itu aldi juga ikut tinggal di Asama. Padahal segi ekonomi Vicentlah yang paling berada.
Untuk merayakan keberhasilan anak-anak mereka para orang tua membuat acra kecil-kecilan. aku merasa keberatan dengan rencana tersebut.
"Ma, nggak perlu acra seperti ini, kebutuhan kita masih banyakkan." aku mencoba memberi pengertian pada mamanya.
"Apa kata mereka jika kita tidak ikut, toh tidak kemana-manakan,” sahut nabila.
"Tapi-"
"SSSttt... ini urusan orang tua, tugasmu belajar jangan samapi acara ini sia-sia nantinya," potong Susan. aku tak lagi memiliki kesempatan untuk menolak.
Acara benar-benar berlangsung meriah. Tapi hati aku tidak senang dengan perayaan ini. Dia hanya ingin segera tidur di kamarnya sebelum beberapa hari lagi harus pergi ke asrama. Namun, melihat para orang tua bangga akan keberhasialan ini membuatnya enggan untuk pamit terlebih dahulu. Terutama Susan yang terlihat emosionalnya sangat tinggi. Wajar saja, Lili selama ini terkenal dengan lambannya dalam pelajaran. Tapi, dengan dia memasuki kampus yang sangat terkenal membuatnya bangga setengah mati. Tidak henti-hentinya dia menceritakan kepada tetangga. Andipun selalu bersikap seolah tidak terjadi apapun dengan ekonomi keluarganya.Setelah pengumuman itu andi semakin sering mengambil jatah lembur agar anaknya bisa sekolah dengan baik tanpa terganggu biaya sekolah. Terlebih sekolah Nanda juga termasuk sekolah yang bagus sehingga membutuhkan biaya yang cukup mahal setiap bulannya.
__ADS_1
Tibalah hari dimana aku dan yang lain harus segera pergi ke kampus untuk meletakan beberpa barangnya di asrama. aku menyiapkan beberapa barangnya di koper dan ransel besar. Nanda yang juga libur sekolah berada di rumah. Dia yang asik memainkan mobil remot nya menimbulkan suara kebisingan di kamar aku.
"Nanda. Jangan main disini," tegur aku pada Nanda karena beberpa kali mobilnya melewati kaki Lili hingga hampir terinjak.
"Kakak habis ini pergi dan kamar ini milikku," sahut Nanda seolah tidak takut dengan kakaknya.
"Terserah, tapi sekarang jangan ganggu aku," kata aku dengan nada mulai meninggi. Bukannya pergi Nanda malah mengambil minum dan duduk bersantai di dekat tumpukkan barang milik kakaknya.
"Nanda , Jangan disitu. Nanti bisa tumpah. Agak sana," pinta aku.Nandapun berdiri. Tiba-tiba.....
Byur....
Air dalam satu botol seketika habis mengenai buku dan beberapa baju milik aku. "Nanda!" teriak aku penuh amarah.
"A-aku tidak sengaja, kak." Nanda mulai ketakutan dan hendak melarikan diri.
"Mau kemana kamu? Sini!" aku mendekati adiknya dan menarik tangan Nanda dengan kasar. Bahkan saking emosinya akh mencubit dan menjewer terliga anak 10 tahun itu.
"Sakit, Kak!" teriak Nanda. kesakitan. Mendengar suara gaduh dalam kamar anaknya, nabila segera menuju kamar itu.
"aku.." teriak nabila saat melihat anak perempuannya sedang mememukul adiknya dengan berutal. nabila segera menyelematkan Nanda dan menyembunyikan di belakang tubuhnya.
"ta, apa kamu gila? Lihat adikmu. Dia kesakitan,” tegur nabila.
"Ma! Lihat. Nanda membuat basah buku dan bajuku," ujar aku seraya menunjuk sisa genangan air dan buku yang basah.
"Itu bisa kering, kenapa kamu bikin repot sih? Mama sudah pusing sama kelakuanmu yang nggak pernah mau mengalah sama adikmu," sahut nabila yang tetap tidak pernah berpihak pada aku.
"Kapan kebisingan ini akan berhenti. Aku muak dengan keadaan rumah yang selalu di penuhi pertengkaran kalian," keluh nabilaseraya menenangkan Nanda."Apa mama ingin aku segera pergi?" tanya aku.
"Ya, biar aku hidup tenang," jawab nabila tanpa berfikir. aku yang mendengar itu seketika menutup kopernya dan memasukkan buku yang masih basah kedalam tas. Tanpa berpamitan Lili menarik kasar koper tersebut dan meningalkan kamar.
__ADS_1
"ta. Mau kemana? Tunggu ayahmu pulang," panggil nabila. Tapi aku tidak menoleh seikitpun. Kakinya melangkah dengan cepat bersama air mata yang berderai deras membasahi pipinya.
"Dasar anak nakal!" umpat nabila.aku bahkan melupakan beberapa barangnya di kamar. aku melewati depan rumah egi yang masih bersiap. Begitupula aldi yang masih di bantu oleh ibunya untuk menyiapkan barang-barangnya. Namun, aldi melihat itu segera berlari menghampiri aku.
"Lo mau kemana?" tanyanya yang berusaha menghentikan langkah gadis itu.
"ta. lo diam aja. Ada apa?" cecar aldi karena tidak berhasil mendapatkan jawaban dari aku.
egi yang telah siap juga menarik kopernya hendak meninggalkan rumah. Pandagannya tertuju pada dua sahabatnya yang telah berjalan lebih dulu.
"di.ta.! panggil egi. Seketika langkah aku berhenti saat mendengar suara egi. egi segera berlari menuju kedua sahabatnya.
"Ma, aku pergi dulu. Bye-bye," pamit egi pada ibunya seraya belari kecil kea rah aku.
"Kalian kenapa berangkat tanpa menungguku?" tanya egi.
"gue belom bawa koper, ini koper dia," sahut aldi.
"Kenapa? Ku lo nangis kenapa?" tanya egi. Bukannya menjawab akh malah berjalan lagi.
"kenapa dia?" tanya egi dengan nada berbisik. aldi yang tidak tahu menahu sebab aku menangis hanya mengangkat kedua bahunya.
"Steve, lo ajak dia ke halte. Gue ambil tas sama koper dulu,” kata aldi pada egi. egi dengan cepat menyetujui permintaan aldi.Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Steve ada di belakang aku.
Sesampainya di halte Steve menahan aku untuk menaiki bus karena menunggu aldi.Untung saja itu egi yang memintanya tingga. Coba saja jika aldi yang memintanya akan berbeda cerita. Cukup lama mereka menunggu hampir dua puluh menit akhirnya aldi datang.
"Akhirnya lo datang," ucap egi.
"Iya, itu bisnya datang. Ayo naik," sahut aldi. Sangat kebetulan bus datang bersamaan dengan Bus.
Namun. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut aku. Bahkan saat di bispu aku hanya
__ADS_1