
"Iya...," sahut aku dengan kesal karena nabila memang tidak hanya sekali mengatakan hal itu. dia juga seallu membandingkan dirinya dengan orang lain.
"jangan iya-iya, jangan buang-buang waktu dan biaya," ucap nabila lagi. Kali ini benar-benar membuat Down Lili. Lili beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya.
"He..... dasar anak nakal, kalau di kasih tahu selelu marah," hardik nabila.
"Kamu juga, jangan paksa anakmu. Dia juga punya kemampuan sendiri." Bela andi.
"Apa? Kemampuan apa? Dia mau ambil bisnis dan perhotelan, Kita orang susah, yah. Jangan berhayal terlalu tinggi. Bisa dapat kerja lebih baik saja syukur. Kalau dia ambil fakultas bisnis, mau jadi apa dia. Pebisnis? Bisnis butuh modal dan kita makan aja pas-pasan. Dia memilih kuliah saja kita harus bekerja lebih keras lagi untuk membiayainya." Suara lantang nabila semakin membuatnya patah semangat. Kehidupannya yang sangat pas-pasan membuatnya harus memikirkan ulang keputusannya.
Pukul 20.00 aku memilih keluar rumah untuk mencari suasana baru. Perasaanya sedang tidak baik-baik saja. selain karena menunggu hasil ujian dia juga harus memikirkan nasib keluarganya jika dia memilih kuliah.
aldi dan sgi yang sedang bermain PS melihat gadis itu berjalan menyusuri jalanan yang tidak terlalu ramai itu. Lantas kedua pemuda itu segera menaruh stik gamenya dan menyusul aku
"ta" panggil egi..
"Ya!" sahut aku seraya menoleh kebelakang dan mendapati dua temannya berlari kecil kearahnya.
"Lo mau kemana?” tanya aldiyang selalu memberikan pukulan ringan pada bahu aku.
"Ish! Bisa nggak sih jangan main plak plok! Sakit di” protes aku.
"Iya-iya, Maaf!" aldi merasa bersalah dan mengelus pelan bahu gadis didepannya yang telah memberikan pandangan tajam kearahnya.
"ta. lo belum jawab pertanyaan gue, Lo mau kemana?" tanya ulang egi.
"Gue mau cari angin, di rumah rasanya nggak karuan," jawab aku yang menjadi lesuh.
"Halah, paling lo bertengkar lagi sama Nanda," sahut aldi seraya memimpin jalan.
"Apan sih lo, sejak saat ini lo gue end!" ancam aku seraya melotot kearah aldi.
"HAH! Harusnya dulu lo tetap jadi anak culun dan lugu, yang nggak bisa ngomong lo-gue," ledek aldi.
"Oh, berarti lo pikir gue culun?
__ADS_1
Gue polos?"
"ya!"
"Udah-udah, kalian kenapa sih kalau ketemu selalu begini," lerai egi.
"Lo lihat kan egi dia selalu ngeledek gue," rengek aku seolah meminta pembelaan.
aldi yang melihat raut mukanya tidak semurung tadi merasa senang. Begitulah cara dia untuk menghibur aku.Dengan mengalihkan beban pikirannya sesaat. Mereka berjalan dan berhenti di sebuah taman yang tak jauh dari rumah mereka. Taman itu memiliki lapangan kecil yang biasa di gunakan warga sekitar untuk berolahraga. Termasuk aku yang sering berlari di tamantersebut.
aku duduk di antara aldi dan egi. hatinya berdebar ketika egi merangkulnya. "ta.lo ada masalah apa?" tanya egi. aku yang masih terpana dengan wajah egi yang hanya berjarak satu jengkal itu tak kunung menjawab pertanyaan tersebut.
TAKKK!
Sebuah sentilan mendarat pada dahi aku. "Aduh!" pekik aku kesakitan seraya memngelus dahinya yang membuatnya sadar dari lamunannya.
"Lo gila ya?" umpat aku kesal.
"Lagian lo, di tanya sama egi bukannya menjawab malah bengong," ucap aldi.
"Nggak, gue nggak mau duduk samping aldi." tolak aku lekas berdiri dan duduk di samping egi. Kini posisi egi ada di antara dua temannya yang seperti tikus dan kucing.
"Ya udah, lo sekarang cerita biar kita bisa bantu," pinta egi.
aku diam sejenak. "Gue nggak jadi kuliah kayaknya," ungkap aku. Seketika kedua temannya terperajat saling enatap beberapa saat.
"Kenapa?" tanya aldi yang terlihat khawatir.
"Emmm, setelah gue pikr-pikir kasihan ayah, dia kerja sendiri. Sekolah Nathan aja udahmahal banget. Apa lagi tambah gue yang kuliah," jelas aku
"Lo bisa kejar beasiswa," sahut aldi "Lo kalau ngeledek jangan sekarang, gue nggak mood."
"Gue nggak ngeledek," sahut aldi.
"Kalau nggak ngeledek apa namanya? Gue nggak sepintar kalian dan yang daftar di Universitas Buana ratusan orang yang lebih pntar dari gue," kata aku.
__ADS_1
"Ya makanya elo belajar."
"Gue udah beajar kan, emang selama ini gue main kasti? Gue belajar. Tapi memang guenya yang tidak se pintar kalian."
"Udah-udah, astaga! Gue pusing dengar kalian gini mulu."
"ta.lo nggak boleh menyerah. Lo pasti bisa," ucap egi pada aku. "Dan lo!" kini Steve berbalik pada aldi yang ada di belakangnya. "Lo stop ngeledek aku.kita harus bantu dia," imbuhnya. aku mendengar itu merasa di bela oleh egi. Kini dia semakin yakin jika egi jugan memiliki perasaan yang sama.
"Terima kasih," sauht aku dengan wajah yang memerah.
"Oke, sekarang lo tidur, kedepannya kita pikirkan bareng," suruh egi. aku mengangguk setuju.
Satu minggu berlalu, aku mendapatkan nilai ujiannya yang di atas rata-rata. Dan di saat bersamaan aku dan siswa yang lain akan mengikuti tes untuk masih universitas Buana. aku berangkat menggunakan Bis bersama aldi dan egi.Sedangkan nesa di anatar ayahnya mengguakan mobil. Mereka bertemu di kampus. Lili terlihat sangat pucat beberapa kali dia meremas jarinya untuk menenagkan diri.
"Heh Bodoh! Lo jangan gugup," tegur aldi..
"di.lo bisa nggak berhenti manggil gue bodoh," pintanya..
"Karena emang lo bodoh," ujar aldi.
"Gue tahu dan nggak perlu lo perjelas." aku melipat kedua tangannya di dada.
"Lo kenapa gampang sekali marah sih,” tegur aldi yang mencoba mencairkan suasana.
"Perhatian! untuk nomor ujian 1 00-200 segera memasuki ruang ujian," suara dari pengeras suara seketika membuat semua orang melihat nmor ujian mereka. Lili yang mendapatkan nomor ujian 120, Vincent 145 dan180 untuk egi.
Mereka bertiga memulai masuk ruangan dengan nomor yang tertera di depan kaca. aku dann egi berpisah karena kelas mereka berbeda. Sedangkan aldi berada dalam satu kelas dengan akj.
"ta! Semangat!" seru aldi memberikan semangat kepada aku.
"Lo juga semangat," sahut aku.
Banyak senior dan dosen yang memantau ujian tersebut. namuan ada satu seior yang memperhatikan Lili sejak pertama memasuki ruangan. Terlihat jelas jika pria itu tertarik dengan aku.Tes berlangsung selama empat puluh lima menit. aku sedang mengerjakan soal dengan serius. Untuk sebagian orang sangat mudah. Ada beberapa anak yang sudah keluar dan memberikan kertas jawabannya. aldi pun telah selesai mengerjakan soal itu dalam waktu 30 menit. Namun, untuk menunggu aku selesai dia pura-pura,asih mengerjakan karena aku terlihat sangat gugup ketika melihat peserta yang lain telah mengumpulkan lembar jawabannya.
"ta kerjakan dengan baik," bisik aldi. Yang duduk berjarak lima meja di belakang aku. Bukannya aku yang dengar malah pengawas yang mendengarnya.
__ADS_1
"Heh! Kamu. Kenapa?" tanya senior dengan almamater berwarna