
Kakinya yang mengayuh sepeda.
KEESOKAN HARINYA....
aku menghampiri Vincent ke bangkunya. "aldi. panggilnya.
"hem!" sahutnya acuh tak acuh." kenapa?" tanyanya.
"Perjanjian kita<" jawab aku.
"perjanjian?" ulang aldi seraya menatap aku yang berdiri di depannya.
"Ya, perjanjian jika tim kita menang," ungkap aku.
"Oh, iya gue ingat, udah sana pergi. Ganggu gue aja," suruh aldi.
aku merasa jika suasana hati aldi sedang tidak baik-baik saja.
sehingga dia memilih untuk pergi. Setidaknya dia sudah menanyakan perihal perjanjian itu. namun, sikap usil dan slengekan aldi tidak bisa hilang begitu saja. dia masih mengerjai aku saat pulang sekolah. aldi menyembunyikan tas aku saat jam pelajaran habis. aku tidak menyadari jika tasnya telah di sembuyikan oleh aldi.
"Terima kasih anak-anak, pelajaran hari ini saya akhiri," ucap guru yang memberikan perljaran terakhir di hari itu. semua siswa meninggalkan kelas sesaat setelah guru matematika itu pergi.
"Loh! Mana tas ku?" gumam aku saat mendapati tasnya tak ada di bangkunya. aku lekas menatap Bani dan aldi yang bagkunya tak jauh dari bangkuku.
"Apa?" tanya bani yang merasa mendapatkan pandangan terimidasi.
"Tasku mana?" tanya aku.
"Itukan tasmu, kenapa tanya
gue?"
"Kalian berdua pasti pelakunya," tuduh aku.
aldi tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia meraih tasnya dan pergi meninggalkan kelas dan Lili yang masih kebingungan mencari tasnya.
"aldi.! teriak aku kesal pada aldi karena dia tahu jika aldi pelakunya.
"ta, gue bantu cari ya," kata nesa. "Gue bantu juga," sahut egi. Lagi-lagi aku mendapatkan bantuan dari egi yang membuatnya berbunga-bunga. Tiga bulan kedepan aku harus giat belajar. Di bantu oleh egi.lili semakin tidak sabar menunggu waktu belajar bersama. Kemajuan pada aku di rasakan oleh nabila. nabila melihat kedekatan putrinya dengan putra janda sebelah rumahnya yang bernama Risa itu berdampak baik. Hampir setiap sore mereka belajar bersama. Entah aku yang datang kerumah egi atau sebaliknya. Tak hanya kadang mereka belajar di taman tak jauh dari rumah mereka.
__ADS_1
aku semangat belajar karena dia ingin memasuki kelas 12 ips lagi. Tujuan semua siswa hampir sama. Namun untuk aku sangatlah sulit bersaing dengan ratusan calon mahasiswa kelas 11. Beruntung dia memiliki egi yang telaten mengajarinya. Target pertamanya lulu ujian . dengan nilai bagus sebelum mengejar bangku kuliah.
"Apa gue sebodoh itu," gumam aku.
"Kenapa?" tanya steve yang baru saja duduk di samping aku.
"Sepertinya kalian sudah leluasa dengan rumus matematika ini," jawab
"Mungkin waktu beda metode saja," sahut egi dengan sabar.
egi mulai menjelaskan setiap detail rumus dan cara mengerjakannya. Tapi bukannya fokus pada rumusnya. Dia malah fokus pada wajah tampan egi yang fokus dengan banyak tulisan.
"ta.lo jelas nggak sih?" tanya
egi
"je-jelas kok," jawab aku gugup ketika kepergok sedang menatapnya.
"kalau gitu coba kerjakan soal ini ," titah egi.
"So-soal?" ulang aku esengan gugup. Jujur saja dia tidak menngerti apapun yang di katakana egi. Dia hanya sibuk menatap setiap gerakan bibir dan wajah egi saat menjelaskannya.
"i-iya." aku mulai memeperhatikan soal itu meskipun dia juga tidak mengerti dari soal di depnanya. Banyak angka dan symbol matematika yang tidak dia mengerti kegunaannya.
"egi " panggil aku dengan pelan.
"Ya, kenapa?"
"sebenarnya gue nggak paham," ucap aku dengan lirih.
"Nggak paham?" ulang egi.
"Iya... hehehe..."
"astaga! Lo kenapa sih, ta?" tanya egi
"Nggak, nggak kenapa-napa. Ulangi lagi ya," pinta aku .
"oke, tapi lo harus janji simak dengan baik." Steve menyetujuinya. Ku juga mengguk setuju dengan syarat egi.
__ADS_1
Mereka memulainya dari awal. aku encoba fokus pada suara dang tangan egi . Dia tidak ingin melihat wajah egu yang akan membuyarkan tekat dan konsentrasinya. Lili mulai mengerti setiap detail yang di tulis dan di katakana oleh Steve. Hari semakin gelap. egi berpamitan pada Susan untuk kembali pulang.
"Tante, saya pamit pulang dulu," pamit egi pada nabilayang tengah menonton televise bersama nanda dan andi.
"Iya-Iya, nak egi. Terima kasih ya," sahut nabila yang beranjak menghampiri egi.
"Sama-sama tante," ucap egi seraya meninggalkan rumah aku.kebersamaan itu sudah berjalan tiga bulan. Mereka sudah di hadapkan oleh ujian kelulusan. nesa selalu membrikan semangat kepada aku sebelum mengerjakan lembar soal.
"aku , semangat ya," bisik nesa
"Lo juga," sahut Lili. Kemudian dia menoleh kearah Banj dan egi . Pandangan mereka bertemu hingga membuat sneyum di antara mereka. Namun, berbeda dengan aldi yang terlihat masih menyembunyikan wajahnya di antara lengannya yang di tekuk di atas meja.
"Dasar pemalas!" umpat aku.
Waktu dua jam untuk mengerjakan lima puluh soal sangatlah cukup. :aku masih harus bekerja keras untuk menjawab jawaban itu. beberapa anak terlihat sudah santai saat waktu hampir habis. Namun, aku berhasil mengerjakan secara utuh. Tinggal menunggu hasilnya saja nanti. Selama satu minggu kedepan aku harus menhadapi hari-hari menegangkan. Setiap pulang sekolah kini aldi dan bani ikut bergabung dengan aku dan egi untuk belajar bersama. Begitu pula dengan bani.Namun, banidan aldi malah asik bermain game.
"Vin, lo nggak bisa diam ya?" tegur nesa yang merasa jengkel pada aldi.
"Kenapa?" tanya aldi.yang merasa tidak bersalah.
"Lo berisik, di.ban.
"Lo nggak mau belajar juga?" tanya Steve.
"enggak, gue udah pinter," jawab Vincent percaya diri.
"Lo Ban?" kini beralih pada Bani
"Habis gua kelas 12 gua, jadi yang penting gue dapat naik kelas untuk nilai urusan belakang," sahut bani.
"Loh, lo nggak mau naik ke kelas 12?tanya nesa.
"Nggak, sudah waktunya gue bantu ibu gue cari uang, masih ada dua adik gue yang masih sekolah SMP dan SMA' jawab bani. "Kalian enak uang berlebih, sedangkan gue harus berbagi makanan, uang bahkan biaya sekolah dengan adik-adik gue. Ibu gue Cuma ibu tunggal,' ungkap bani.aku mendengar itu diam sesaat. Posisi yang di alami Bani juga di rasakan aku. Untuk paha ayam saja dia harus berebut dengan adiknya. Bahkan jika ingin membeli sesuatu harus mengalah jika Nanda. sang adik sedang ingin juga hendak membayar uang sekolah.
***
Hari-hari mendebarkan mulai dirasakan semua siswa kelas 11.Terutama aku.aku berharap dengan nilai yang mencukupi berhasil mengikuti kelas 12 nanti.
"ta, kalau kamu mau ke kelas 12 jangan lupa ambil belajar saja, lihat anak pak Burhan tetangga lama kita yang sukses kerja di kantoran," ucap nabila pada anaknya yang sedang asik menonton televise dengan adiknya.
__ADS_1