
aldi juga bilang. Dan dia meminta gue untuk gabung, tapi nilai gue nggak bagus jadi waktu gue mending buat belajar, fokus naikin nilai dulu," sahut Lili yang mengerti arah pembicaraan egi.
"Iya aku tahu." egi nampak tidak kecewa dengan penjelasan aku. bahkan dia memberikan senyuman terbaiknya seraya berjalan bersama. karena memang rumah mereka berdampingan.
"ta duluan ya," ucap egi saat sampai di depan rumahnya. aku harus berpisah dan mengayunkan kakinya dengan berat beberapa meter kedepan karena jarak rumahnya dengan egi hanya terhalang satu rumah saja.Untuk kelas tiga memanglah banyak ujian praktik sehingga memiliki banyak waktu kosong. aku memanfaatkan waktu itu untuk belajar. Dia memiliki target untuk memasuki universitas dengan beasiswa. Akan tetapi melihat egi yang terlihat sangat ingin mengikuti perlombaan ini membuatnya sangat ingin membantunya. aku memberanikan dri untuk mendekati aku yang sedang berkumpul dengan teman satu gengnya termasuk aldi dan Bani.
"egi!" panggil aku. egi yang mendengar itu segera mendekati Lili yang berdiri tak jauh darinya.
"Kenapa, ta.?"
"Apa lo masih butuh anggota?" tanya aku.
"Ya, kenapa?"
"Gue mau gabung di tim kalian!"
"Serius?" egi meminta aku memperjelas ucapannya.
"Iya."
"Terus belajarmu?" tanya egi
"Sudahlah itu nanti saja," jawab aku
"Kenapa nih?" sahut aldi yang menghampiri mereka berdua.
"aku mau gabung sama kita," jelas egi . "Hahaha, yakin? Nanti malah
buat beban."
"Kemarin lo minta gua gabung, giliran gue banging lo gitu!"
"Apaan sih, di." egi menghentikan aldi sebelum semakin melebar pertengkaran mereka berdua.
"Kalau kita menang lo harus janji jangan ganggu gue lagi, kita berteman."pinta aku.
"Lo mau banget berteman sama gue," ledek aldi.
"aldi...." Sahut egi dan memberikan kode untuk tidak meledek aku lebih lanjut.
"Iya-iya, Deal!" egi mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan aku.
__ADS_1
"Deal!" ucap aku setelah menjabat tangan aldi.
Sejak saat itu aku mulai sering bersama dengan egi dan aldi di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Mereka berlatih bersama. Pertandiangan di mulai satu minggu kemudian. Lili sangat giat berlatih mengetahui timnya berhasil memasuki Final.
"Kita sudah berhasil masuk final, semoga kita bisa mempertahankan kemanangan kelas kita seriap tahun," kata aldi. Semua orang mengangguk setuju. Kemudian mereka kembali berlatih di lapangan yang tak jauh dari rumah mereka.
Hingga dua hari kemudian mereka mulai bertanding untuk Final. Mereka di temukan dengan adik kelasnya. 12mia 3. suara gemuruh memenuhi lapangan. Poster bertuliskan nama egi dan aldi bertebaran. Pendukung 11iis¹ atau kelas aku sangatlah banyak. Terlebih para siswi. Mereka menerikai egi dan aldi yang menjadi idola di sekolah SMA man selama dua tahun terakhir.
"egi!"
"aldi!"
"egi!"
"aldi"
Suara mereka mengisi seluruh lapangan.
"aku. Semangat!" teriak salah satu di antara penonton. nesa, hanya gadis itu yang membrikan semangat kepada aku.Dengan mengepalkan tenaganya aku tersenyum kearah nesa.
Plak...
Pukulan ringan dari Vincent mendarat pada bahu Lili. “jangan tebar pesona, nggak aka nada suka sama lo!" ucap aldi. yang
Mereka mulai memasuki garis arena. aldi memutar pergelangan tanganya untuk pemanasan. Bola volley diarahkan kepada aldi.
"Lo servis duluan!" suruh aldi.
"Gue?"
"Ya!" sahut ketu aldi. "Semangat," bisik egi tepat di telinga aku.Seketika hal itu membuatnya tersipu.
Priiiit....
Peluit berbunyi aku segera melakukan servis yang sangat indah. Akan tetapi lawan dari kelas lain tidaklah mudah di kalahkan begiu saja. aku hampir kewalahan menghadapi serangan mereka. aku dan yang lain juga tidaak megira jika lawannya begitu tangguh.
Priiiiittt....
Peluit panjang berbunyi di ikuti dengan gemuruh suara penonton. Angka score terlihat jika kelas 11iis¹tertinggal dengan adik kelas 12mia ³Selisih angka yang hanya lima point membuat mereka geram. Sorot mata aldi kepada akumembuat aku ketakutan.
"Harusnya memang gue nggak ikut tim kalian," ucap aku seraya menundukkan kepala menghindari sorot mata aldi.
__ADS_1
"Sudahlah, yang penting kita harus kerja sama." Sahut egi.
"toh lo main juga bagus kok," ucap Bani
"Iya." egi setuju dengan ucapan Bani.
"Masalahnya kita kalah sama kakak kelas, Kita ini juara bertahan sejak kelas satu loh, terus kita di kalahin begitu saja, Malu bos! Harga diri jita mana?"
"Kalau gitu gue ganti cadangan aja," sahut aku yang mulai merasa bersalah. "Nggak! Nggak ada yang ganti. Apapun hasilnya kita adalah tim,” tolak egi yang tidak setuju dengan permintaan aku.
"Gue takut kalau jadi beban di tim kalian," ucap aku seraya melirik aku yang terlihat kesal.
"Kalian minum dulu aja, jangan debat mulu," ucap nesa seraya memberikan minum kepada aku dan tim.
"Telat lo!" hardik aldi.
"ya udah lo jangan minum," kata nesa seraya menarik kembali minum yang telah di berikan dari tangan aldi.
Waktu istirahat yang di berikan hanya sepuluh menit. Dan sudah terdengar suara dari pengeras suara. "Kepada kedua tim mohon segera memasuki lapangan kembali." Perintah dari suara itu membuat kedua tim bangkit dan segera memasuki lapangan. Sorak-sora supporter meramaikan lapangan. Banyak yang membawa poster nama egi dan aldi pria yang dua tahun terakhir menjadi idaman di SMA man.
Priiittt...
Suara peluit menandakan permainan akan di mulai. Lili menghela napas panjang sebelum memasuki lapangan. Servis pertama di lakukan oleh tim lawan. “ Semangat, ta" gumam aku memberikan semangat pada dirinya sendiri.
aku mulai menghalau setiap bola yang menghampirinya.
"Hah!" teriak aku saat dia menghalau bola namun kehilangan keseimbangan.
Priiit!
Peluit berbunyi. Tim lili mendapatkan poin. Hal itu mengundang sorak gembira supporter. aku yang masih terduduk di lantai tiba-tiba di hadapkan denhan uluran tangan dari egi dan aldi. Ia menatap bergantian tangan kedua pria itu. namun dia memutuskan untuk meraih tangan aldi.
"Hati-hati!" ucap Steve seraya merangkul gadis kecil itu. Anesh dari bangku penonton melihat gelagat aneh aku setiap berada di dekat egi "aku kenapa?" tanya nesa dalam hati seraya menyipitkan matanya.
"Pertadingan sangat sengi penonton, Kelas 11iis¹ yang tertinggal kini mulai mengejar," suara pembawa acara yang meramaikan suasana.
"ta Pukul yang keras!" perintah aldi.
"iya!" sahut aku dengan napas ternegah-engah. Karena permainan babak kedua ini sangat panjang.
"Li, Lo nggak apa-apa?" tanya Bani yang melihat wajah aku begitu pucat.
__ADS_1
"Enggak, gue lelah aja. Mereka mainnya lama," jawab Lili. "Lo bertahan, satu kali lagi masuk kita menang," bisik Bani seraya memberikan tepukan semangat kepada aku.
"Heem!" aku mengangguk dan kembali pada posisinya seraya