
Menyapa guru yang memanggilnya.
"septa susanto, silahkan duduk," pinta guru itu.
"kenapa pak? Apa ada masalah?" tanyanya dengan ragu.
"Bapak lihat perkembanganmu di sekolah ini selama sebulan sangat lamban, apa ada yang megganggumu ?" tanya Guru bernama fahir itu.
"Nilai?"
"Ya, nilaimu sangat jauh dari rata-rata, mungkin pembelajaran di sekolahmu sebelumnua berbeda," jelasnya. aku hanya menunduk. Dia menyadari jika dia memang tidak begitu mengerti pelajaran di sekolah ini. Metode yang di ajarkan jauh lebih sulit.
"aku , sepertinya kamu harus mengikuti les untuk mengejar ketertinggalanmu selama ini. Karena sebentar lagi kelulusan, jika nilaimu seperti ini jangankan ikut ujian perguruan tinggi,kelulusan saja bisa di ragukan," ucap fahir pada aku.
"Baik, pak."
aku keluar dari ruang guru menjadi sendu. nesa yang melihat itu segera menghampirinya.
"Li, lo kenapa?" tanya nesa.
"Ah enggak, Cuma perkara nilai ku yang jelek," jawab aku dengan santai berusaha tidak menunjukkan kesedihannya sedikitpun.
"nesa, les disini bayar berapa?" tanya aku .
"Kenapa?" tanya nesa
penasaran. "Aku di minta guru untuk ikut les," jelas aku.
"300 kayaknya," jawab nesa dengan ragu karena dia tidak tahu pasti angka sebenarnya. Mendengar itu lili malah semakin bingung.
"Lo mau les?"
"Enggak deh."
"Aku bantu kamu belajar kalau mau," sahut seseorang dari belakang mereka.
"egi." seru aku dan nesa bersamaan."
"Maaf, ta.Tadi nggak sengaja aku dengar kamu di tegur sama guru," ungkap egi.
"egi, kamu nggak perlu ikut biacara dengan Bahasa aku-kamu. Ngomong aja kayak kamu ngomong sama nesa dan teman lainnya," ucap aku yang masih mendengar Steve menggunakan kata kamu dan aku.
"Oke-oke, asal lo mau iku belajar sama gue?" kata egi
"kamu nggak keberatan?" tanya aku
"Nggak kok."
"tenang ta dia selalu ranking satu di sekolah ini," bisik nesa
__ADS_1
"Apaan sih lo!"
"ku. sekali sekali lo pakai Bahasa lo-gue biar kesannya nggak canggung dan kaku," ucap egi.
akuyang mendengar permintaan pria yang dia suka diam-diam merasa tersipu. "gue coba." Ucap lirih aku.
"NAH!!!!" seru egi dan nesa yang gembira mendegar lili menggunkan Bahasa gaul.
aku kini tanpa terasa menjadi satu geng dengan nesa.egi. aldi dan Bani.Bahkan mereka sering menjadi satu kelompok. akumulai berlajar dengan egi. Setiap jam kosong ataupun istirahat aku dan egi selalu mengerjakan bebeapa soal latihan. aku mulai terbiasa dengan Bahasa gaul mereka. Tetap saja aku dan aldiseperti tikus dan kucing jika bertemu.
"Otak dongol mau belajar kayak apapun juga tetap dongol," ledek aldi.
"Udah jangan di dengar,” bisik egi. "fokus sama ujian smeseter untuk melihat perkembanganmu," imbuh egi.
"Ban! Lempar bolanya!" Bani dan aldi membuat kegaduhan untuk mengganggu Lili. Lili merasa di lindungi oleh egi. "konsentrasi," bisik egi sekali lagi untuk membuat gadis di sampingya kembali semangat.
Melihat gangguannya tidak menggoyahkan konsentrasi aku.aldi kembali membuat ulah dengan bernyanyi dan bermain gitar.
"Baru ku sadari-"
"aldi" panggil salah satu guru yang melintas dan mendengar kegaduhan di kelas itu dan seperti biasa biangnya selalu aldi dan bani. "Apa perlu aku memberi tahu papamu?" ancam guru itu.
aku dan egi cekikikan melihat aldi mendapatkan teguran.
"Wekkkkk!" ledek aku seraya menjulurkan lidahnya.
aku pulang sekolah dengan bersenandung ria. Dia merasa bahagia dengan les yang derikan egi. Kebahgaiannya masih bertambah ketika melihat bungkusan besar ada di atas kasurnya.
"Tas," gumam aku ketika mengeluarkan sebuah tas berwarna biru dari kantong tersebut.
"Sepatu!" seru aku yang mulai tidak terkendali di tambah dengan banyaknya alat sekolah lainnya dan seragam baru.
"Mama!" panggil aku dengan kegirangan.
"Kenapa?" nabila segera berlari menuju kamar anaknya.
"Ma? Ini untuk siapa?" tanya aku
"Siapa yang bersekolah di SMA BHAKTI?"
"Aku!"
"Berarti untukmu," jelas nabila.
aku sangat bahagia kahirnya mendapatkan hal yang sama dengan adiknya. aku kini semakin semangat belajar. Hingga tanpa terasa aku sudah pindah di sekolahan itu hampir enam bulan. aku harus menghadapi ujian semester pertama.
"Semangat," ucap egi untuk memberikan semangat kepada aku di hari pertama mereka ujian bahkan dia memberikan finger heart kepadaaku. Lantas ha itu membuat semakin mengartikan semua ini lebih dari teman.
"Heh bodoh! Kenapa lo senyum-senyum ngak jelas?" tegur aldi ketika melihat aku tersenyum di malu dengan pipi merahnya.
__ADS_1
"Merusak nabila hati aja," sahut aku.
Sesaat kemudian guru mulai membagikan lembat soal dan jawaban. Kelas terasa hening. aldi juga anak yang pintar dia selalu memnempati tiga besar. Akan tetapi tingkahnya yang nakal membuatnya sering mendapatkan hukuman.
Satu minggu belalu. Ujian juga sudah usai. aku mulai merasa gundah menunggu pengumuman hasil ujian. Untuk mengisi waktu kosong setelah ujian, Sekolah memberikan perlombaan antar kelas. aku sangat pandai dengan olahraga lali dan volley. Namun aku enggan untuk daftar.
"Kita kekurangan anggota untuk ikut lomba volley dan lari," ucap egi.
"iya, kenapa juga si anak itu keluar," sahut aldi. Ada anak lelaki yang selalu ikut perlombaan setiap tahun di kelasnya. Tapi kenaikan kelas kemarin dia juga pindah, dan kini di gantikan oleh aku yang tidak pernah akur dengan aldi.
"Kenapa lo nggak coba ajak si dia?" usul Bani seraya memberikan kode kearah aku.
"Dia? Bisa apa dia? Orang soal matematika aja nggak bisa nyelesaikan," sahut aldi.
"Apa salahnya, coba aja. Toh wkatu olahraga dia bagus kan nilainya." Bani mendesak aldi. aldi tak lagi memiliki alasan menolak. aldi mulai mendekati meja aku yang penuh dengan setumpuk buku.
"Apa?" aku memasang wajah dengan ketus.
"Lo sibuk?" tanya aldi.
"Lo bisa lihat kan?" "hem, lo nggak daftar lomba?" tanya aldi.
"Nggak," jawab ketus aku.
"Lo mau ikut kelompok gue?" tanya aldi.
"Nggak!" jawab aku cepat.
"Kenapa?"
"Lo bisa pergi nggak?"
"Sombong amat lo setelah bisa Bahasa gaul," ucap aldi kecewa.
"Tergantung lawan bicara," sahut Lili. Vincent kembali ke mejanya.
"Gimana?" tanya Bani.
"Kita cari yang lain aja. Bawaannya emosi setiap lihat dia," jawab aldi.
Saat pulang sekolah, aku melihat egi ada di gerbang sekolah. Terlihat dia menunggu seseorang. aku merapikan ambutnya sejenak sebekum akhirnya menegur egi.
"egi. lo ngapain?" tanya aku
"oh, gue nungguin elo," jawab egi.
"kenapa?" tanya akum
"Untuk beberapa pecan ini gue nggak bisa belajar bareng sama lo, jadi aku kasih buku ini," ucap egi seraya memberikan sebuah
__ADS_1