Menemukan Cahaya Di Dunia Yang Gelap

Menemukan Cahaya Di Dunia Yang Gelap
Hari pertama sekolah , Raid kedua raka bersama guild


__ADS_3

Raka merasakan getaran di saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Ia mematikan alarm paginya dan melihat pesan dari Maya. Hatinya berdebar-debar ketika membaca pesan itu. "Selamat pagi, Raka. Sudah sembuh?" tanya Maya.


Raka tersenyum dan dengan cepat membalas pesannya. "Iya, sudah sembuh. Terima kasih, Maya." Balasan dari Maya membuat hatinya semakin berbunga-bunga. "Senang mendengarnya. Sampai ketemu di sekolah ya, Raka."


Setelah mandi dan berpakaian, Raka turun ke ruang makan dan bergabung dengan keluarganya. Ibu Raka memberikan bekal untuknya dan meminta agar Raka mengambilnya sebelum pulang sekolah nanti. Raka mengangguk dan memeluk ibunya. "Terima kasih, Bu."


Raka berjalan menuju sekolah dengan semangat yang membara. Hari ini adalah hari pertama sekolah setelah liburan panjang dan dia sangat bersemangat untuk bertemu dengan teman-teman lamanya. Ketika sampai di sekolah, Raka terkejut melihat betapa banyaknya wajah-wajah baru yang tidak ia kenal.


Bel masuk sekolah berbunyi dengan keras, menandakan hari pertama sekolah telah dimulai. Raka merasa deg-degan, namun ia juga merasa senang untuk bertemu dengan teman-teman barunya. Ia berjalan dengan hati-hati ke dalam kelas, dan di sana ia melihat banyak siswa-siswi yang baru. Raka merasa agak canggung, tapi ia terus mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia berharap bisa menjalin persahabatan dengan semua teman-teman barunya dan bersama-sama belajar dengan giat.


suasana sekolah terasa begitu sibuk dan Raka merasakan waktu terasa berlalu dengan sangat cepat. Belum sempat ia menyesuaikan diri di kelas barunya, sudah tiba saatnya untuk istirahat. Raka merasa lapar dan memutuskan untuk membeli makanan di kantin. Dengan langkah ringan, ia berjalan menuju kantin dan merasakan hembusan angin segar yang menyapu rambutnya. Terdengar derap langkah anak-anak yang berlarian di sekitarnya, suara tawa dan canda riang mengisi udara. Seperti kebiasaan yang sudah dilakukannya selama bertahun-tahun, Raka memesan makanan favoritnya dan menikmati santapannya sambil memandangi sekeliling sekolah yang ramai.


Raka menikmati makanannya dengan penuh khusyuk, mencicipi setiap rasa yang ada di dalamnya. Namun, tak lama setelah selesai makan, terdengarlah bel sekolah yang menggema di seluruh penjuru gedung. Raka merasa sedikit terburu-buru, ia ingin segera menuju kelasnya agar tidak terlambat. Tapi sebelum itu, ia tak bisa menahan diri untuk tidak memeriksa selulernya terlebih dahulu. Tak ada pesan penting yang masuk, kecuali satu pesan dari Maya, orang spesial dalam hidupnya. Dengan hati-hati, Raka mengetik balasan pada pesan tersebut, memberitahukan bahwa hari ini ia tidak bisa bermain game karena ada urusan keluarga. Dengan rasa tidak enak yang terus menghantuinya, Raka memutuskan untuk memberikan alasan palsu kepada Maya tentang ketidakhadirannya dalam game hari ini.


Setelah itu, ia bergerak dengan cepat menuju kelasnya dengan rasa lega, membiarkan dirinya terhanyut dalam keramaian siswa yang sedang bergegas menuju kelas masing-masing.


Raka tiba di kelas dengan nafas yang terengah-engah, dia langsung menuju tempat duduknya dan menyiapkan diri untuk pelajaran agama hari ini.


Raka menunggu dengan sabar hingga akhirnya guru agama memasuki ruangan dan pelajaran pun dimulai.

__ADS_1


Raka mengikuti pelajaran agama dengan sungguh-sungguh, dan kali ini dia merasa sangat menikmati setiap kata yang diucapkan oleh guru. Pelajaran agama yang sebelumnya seringkali terasa membosankan, hari ini menjadi begitu menyenangkan. Raka merasa seperti sedang terbang di atas awan, tak terasa waktu begitu cepat berlalu dan suara bel pulang pun terdengar.


Setelah bel pulang berbunyi, Raka perlahan-lahan keluar dari kelasnya yang sunyi. Dalam perjalanan pulang, Raka membuka hp-nya dan membuka aplikasi messenger untuk menghubungi Vhionitha.


"Hey Vhio, kamu sudah siap untuk raid bos nanti?" tanyanya dengan semangat.


Vhionitha, yang sedang asyik bermain game, langsung membalas dengan antusias, "Tentu saja, aku sudah menyiapkan semua karakter dan perlengkapannya. Kita pasti bisa menang!" Raka tersenyum gembira mendengar jawaban tersebut dan semakin bersemangat untuk bermain bersama dengan teman-temannya.


Setelah mendengar kabar itu, Raka merasakan getaran kegembiraan yang mengalir dalam tubuhnya. Ia lalu berlari dengan cepat, melewati lorong-lorong sekolah yang sepi, menuju warnet terdekat. Tak lama kemudian, Raka tiba di warnet dan dengan cepat membuka salah satu komputer yang tersedia di sana. Dengan tangan yang gemetar, ia membuka game yang ditunggu-tunggu dan merasakan kebahagiaan yang meluap-luap saat berhasil masuk ke dalam permainan.


Raka memainkan karakter mage-nya dengan sangat lincah, mengeluarkan sihir-sihir yang memukau. Bos raid yang seharusnya sulit dan memakan waktu berjam-jam, dengan kehadiran Raka justru menjadi mudah dan cepat. Semua anggota guild takjub dengan kemampuan Raka dan merasa sangat beruntung bisa memiliki anggota sehebat dia.


Sesaat setelah melangkahkan kakinya di ambang pintu, Raka dihadang dengan tatapan tajam sang ibu. "Kamu pulang telat lagi, di mana saja kamu sebenarnya?" tanya sang ibu dengan nada curiga.


Raka menelan ludah, berusaha menenangkan diri agar tak ketahuan bohong. "Maaf, Ma. Tadi aku mengerjakan tugas kelompok di rumah teman, jadi agak lama," jawab Raka dengan santai.


Walaupun tak sepenuhnya percaya, sang ibu akhirnya membiarkan Raka masuk ke dalam rumah. Raka pun berlari ke kamarnya, menghela nafas lega. "Berhasil juga," gumamnya sambil tersenyum puas.


Dia melangkah menuju kamar mandi sambil memikirkan tentang kegiatan di sekolah tadi. Setelah selesai mandi, ia mengenakan baju tidur dan bersiap-siap untuk makan malam.

__ADS_1


"Raka , sudah mandi ya ? Makan malam dulu sini nak." Suara ibunya memanggil dari ruang makan.


"Ya, sebentar." Raka menjawab sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Raka merasa sedikit kesal, tapi dia tak bisa menolak panggilan ibunya. Dia melangkah pelan ke meja makan dan memulai makan malam yang sudah disediakan oleh ibunya. Tapi sepanjang makan malam, pikirannya masih teralihkan pada permainan game yang baru saja dia mainkan.


Raka menghela napas panjang setelah selesai makan malam. "Ibu, bolehkah aku tidur dulu? Besok aku harus membersihkan sekolah sebelum anak-anak yang lain datang," ujarnya dengan sopan.


Ibu Raka mengangguk. "Tentu saja, Nak. Jangan terlalu larut tidur ya. Besok kamu harus bangun pagi."


Raka menepuk-nepuk pipinya sendiri, mencoba agar tidak terlihat begitu lesu. "Iya, Ibu. Aku akan tidur tepat waktu."


Dengan lelah, Raka menutup mata dan membiarkan dirinya merasakan kehangatan tempat tidurnya yang nyaman.


Dengan mata yang masih terpejam, Raka mencoba meraba-raba alarm yang terus berbunyi di samping kasur. Dalam keadaan yang masih setengah sadar, ia meraih smartphone-nya dan menekan tombol snooze. Namun, setelah beberapa detik, alarm itu kembali berbunyi, menyadarkan Raka bahwa ia harus segera bangun.


Matahari yang bersinar terang menyinari wajahnya ketika Raka membuka jendela kamarnya. Ia memandangi pemandangan di luar dan merasakan semangat yang membara dalam dirinya. Hari ini adalah hari yang istimewa, karena ia akan membersihkan sekolah sebelum anak-anak yang lain datang.


Dengan semangat yang membara, Raka mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membersihkan setiap sudut sekolah dengan sempurna, sehingga para siswa bisa belajar dengan nyaman dan tenang.

__ADS_1


__ADS_2