
Raka memandang jauh ke depan, melihat kendaraan-kendaraan yang bergerak lambat di depannya. Ia duduk di kursi belakang taksi dengan wajah yang penuh ketakutan. Ia tahu bahwa pulang ke Jakarta sendirian bisa sangat berbahaya, terutama bagi anak seusianya. Tetapi ia tak punya pilihan. Ia harus pulang, karena sudah 4 hari ia di bandung dan tidak izin kepada orang tuanya dan dia sudah meninggalkan sekolah cukup lama.
Ia memikirkan Maya, gadis yang ia temui di Bandung. Wajah Maya terus terlintas di benaknya, membuat hatinya berdebar-debar. Ia merasa nyaman bersama Maya, seperti ada cahaya yang menerangi hatinya yang gelap.
Tidak terasa sudah sampai depan terminal , setelah Raka membayar taxi ia berjalan masukinya .
Raka melangkah dengan cepat di antara kerumunan orang yang sibuk di terminal.tangannya ia memegang tas kecil yang berisi semua barang-barang pentingnya. Ia menatap sekeliling dengan waspada, mencari tanda-tanda keberadaan orang-orang jahat. Ia pernah diajarkan oleh teman nya di game untuk selalu waspada di lingkungan yang tidak dikenal.
Namun di tengah kerumunan, Raka merasa terusik dengan perasaannya yang gelisah. Ia terus memikirkan Maya, gadis yang telah membuka cahaya dalam hidupnya. Ia bertanya-tanya apakah Maya sedang baik-baik saja, apakah ia juga merindukan Raka seperti yang dirasakan oleh Raka.
"Semoga aku bisa bertemu lagi dengan Maya," gumam Raka dalam hati.
Ia merasa lega ketika sampai di stasiun bus. Di sana, ia berusaha mencari bus yang akan membawanya ke Jakarta. Setelah beberapa lama mencari, ia menemukan bus yang tepat. Ia membeli tiket dan menaiki bus tersebut.
Di dalam bus, Raka duduk di kursi yang nyaman. Ia merasa sedikit lega karena sudah berhasil sampai ke stasiun bus. Namun, ia tetap harus waspada, karena perjalanan ke Jakarta masih panjang. Ia menghela nafas panjang dan memejamkan mata. Ia memikirkan Maya lagi, berharap bisa bertemu dengannya lagi suatu hari nanti.
Dia merasa cemas dan takut, tetapi mencoba untuk tetap tenang.
Di sepanjang perjalanan, Raka memikirkan tentang Maya dan bagaimana dia akan merindukannya. Dia tidak sabar untuk bertemu lagi dan berharap bisa segera kembali ke Bandung.
Namun, Raka juga menyadari bahwa dia harus memikirkan keamanannya sendiri. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menjadi lebih berhati-hati dan waspada ketika berada di lingkungan yang tidak dikenal.
__ADS_1
Akhirnya, bis tiba di terminal dan Raka turun dengan selamat. Dia merasa lega dan bersyukur kembali tidak ada kehilangan benda satu pun , lalu dia mencari ojek untuk pulang kerumah nya , aku tidak tau apa akan terjadi nanti karena mungkin saja orangtua ku akan memarahi ku .dan bahkan mungkin saja dia akan memukul diriku
Tidak terasa perjalanan dari teriminal ke rumah, dia melangkah dan mencoba masuk ke rumah.
Ibu Raka duduk di sofa ruang tamu dengan wajah cemas, memperhatikan setiap gerakan Raka yang lewat di hadapannya. "Raka, dari mana saja kamu pergi ? ini sudah 4 hari kamu tidak pulang kerumah ibu sangat cemas, apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan nada lembut.
Namun, Raka tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dia hanya menundukkan kepala dan pergi menuju kamarnya tanpa sepatah kata pun. Ibunya melihat Raka berjalan pergi dan merasa semakin khawatir.
Sampai di kamar, Raka melemparkan tasnya di samping tempat tidurnya dan merenung sejenak. Dia terus memikirkan Maya dan perasaan aneh yang dia rasakan di dekat gadis itu. Namun, Raka tidak mengerti perasaannya sendiri. Ia merasa bingung, ia masih kecil dan masih banyak hal yang belum ia mengerti.
Ketika ibunya masuk ke kamarnya, Raka langsung bangun dari di tempat tidurnya. "Maaf, Ibu. Aku hanya menginap di rumah teman dan melakukan perjalanan ke kebun binatang dengan teman-teman," jawabnya sambil menguap
Tetapi tiba tiba Raka merasakan getaran kekerasan dari tamparan ayahnya yang tiba tiba masuk karena mendengar bahwa raka sudah pulang , membuatnya terjatuh di lantai. Air mata mengalir di pipinya, tidak hanya karena sakit fisik, tetapi juga karena sakit hati dan ketakutan. Ia tahu ayahnya marah karena khawatir dengannya, tetapi tidak tahu bagaimana untuk membuatnya mengerti bahwa ia hanya ingin melihat dunia di luar sana dan bertemu dengan teman-teman baru.
Raka bangkit dari lantai dan mengunci pintu kamarnya dari dalam. Ia merasa marah dan sedih pada saat yang sama. Bagaimana ia bisa membuka hati ayahnya dan membuatnya mengerti? Setelah beberapa saat menangis, ia merasa kelelahan dan tertidur dalam pelukan bantal.
Keesokan paginya, Raka terbangun dengan mata sembab.ia memutuskan untuk tidak berbicara dengan siapa pun , dan mempersiapkan diri untuk sekolah
Raka kembali ke sekolah setelah absen selama beberapa hari. Para teman sekelasnya menanyakan keberadaannya, tetapi dia hanya menjawab dengan senyum tipis dan bilang bahwa dia tidak enak badan.
Kemudian, saat pelajaran berlangsung, guru Raka juga bertanya mengapa ia tidak masuk selama beberapa hari. Raka merasa lebih gugup lagi karena ia tidak ingin dihukum atau membuat ayahnya marah lagi. Ia mengulangi alasan bahwa ia sakit dan tidak dapat datang ke sekolah. Guru mengangguk dan meminta Raka untuk mengambil buku tugas yang sudah dibagikan selama ia tidak hadir.
__ADS_1
Raka merasa sedikit lega karena berhasil meyakinkan guru dan teman-temannya dengan kebohongan tersebut, tetapi hatinya tidak tenang. Ia merasa bersalah dan takut akan akibat dari kebohongan yang ia lontarkan. Namun, ia tidak tahu harus berbuat apa untuk memperbaiki situasi yang telah terjadi. Raka merenung dalam-dalam, mencoba mencari jalan keluar dari situasi rumit yang ia hadapi.
Setelah pulang sekolah, Raka langsung menuju ke warnet favoritnya untuk bermain game. Ia sudah memikirkan game yang ingin dimainkan sepanjang hari di sekolah, dan sekarang saatnya ia mewujudkan keinginannya itu. Setelah membayar uang sewa, Raka langsung duduk di depan komputer dan membuka game yang sudah lama ia tunggu.
Namun, setelah beberapa menit bermain, Raka tidak bisa konsentrasi. Pikirannya selalu melayang pada Maya, perempuan yang ia temui di Bandung. Raka ingin sekali menghubunginya, tapi ia tidak punya nomor telepon Maya, hanya akun Facebook dan Messenger. Ia berharap Maya juga punya akun itu.
Raka membuka Messenger dan mencari akun Maya. Ia mengirim pesan kepadanya, "Hai, apa kabar? Sudah lama tidak berbicara."
Namun, setelah beberapa menit, Maya tidak merespons. Raka mulai khawatir. Ia berpikir mungkin Maya tidak tertarik padanya atau bahkan sudah lupa padanya. Raka merasa sedih dan kecewa, tapi ia tetap mencoba mengirim pesan lagi.
Beberapa saat kemudian, sebuah notifikasi muncul di layar komputer. Raka melihat dan ternyata itu adalah balasan dari Maya. Hatinya berdebar-debar saat membaca pesan itu, "Hai, Raka. Maaf aku tidak bisa balas pesanmu tadi. Ada urusan penting di rumah. Bagaimana kabarmu?"
Raka merasa senang dan lega karena akhirnya Maya membalas pesannya. Ia langsung mengetik balasan, "Baik-baik saja. Aku sedang bermain game di warnet. Kamu sedang apa?"
Maya merespons cepat, "Aku sedang menyelesaikan tugas sekolah. Terima kasih sudah menghubungi aku. Aku senang mendengar kabarmu."
Raka merasa senang karena bisa berbicara dengan Maya lagi. Ia memutuskan untuk menyelesaikan game-nya dan pulang ke rumah. Hari ini ia sudah lelah dan harus bangun pagi besok. Tapi ia tidak sabar untuk bertemu dengan Maya lagi. Ia berharap bisa mengajaknya jalan-jalan atau makan bersama saat Maya datang ke Jakarta lagi.
Setelah selesai bermain game, Raka meninggalkan warnet dan pulang ke rumah. Ia bahkan tidak terlalu memikirkan pertanyaan teman-temannya di sekolah kenapa ia tidak masuk. Ia hanya berharap bisa segera tidur dan bermimpi tentang Maya
Keesokan paginya, Raka Ia memutuskan untuk mencoba mengobrol dengan ayahnya lagi. Namun, ketika ia membuka pintu kamarnya, ia melihat bahwa ayahnya sudah pergi bekerja. Ia merasa kecewa dan kesepian, tapi juga merasa lebih tegar. Ia tahu bahwa ia harus mencari cara untuk membuat orang tua nya mengerti bahwa ia hanya ingin menjelajahi dunia, tanpa harus khawatir tentang keselamatan.
__ADS_1