Menemukan Cahaya Di Dunia Yang Gelap

Menemukan Cahaya Di Dunia Yang Gelap
Kenyataan yang pahit , Awan hitam menyelimuti raka


__ADS_3

Raka terdiam sejenak saat mendengar cerita Pitha tentang orang tua Maya yang bercerai dan pindah ke NTT. Hatinya merasa hancur mendengar kabar tersebut. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Maya yang harus meninggalkan teman-temannya dan kehidupan yang sudah ia jalani selama ini.


"Kenapa mereka harus bercerai?" tanya Raka dengan suara gemetar.


Pitha menggelengkan kepala sedih, "Aku juga tidak tahu. Tapi setidaknya sekarang kau tahu apa yang terjadi dengan Maya."


Raka mengangguk perlahan, "Terima kasih sudah memberitahuku, Pitha. Aku merasa lega karena akhirnya aku tahu apa yang terjadi."


Raka mengangkat kepalanya dan memandang Pitha dengan mata berbinar, "Iya, aku akan mencari jalan untuk bertemu dengan Maya lagi. Aku tidak akan menyerah begitu saja."


Pitha mengangguk, "Ayo, kita pergi makan malam bersama. Mungkin ini bisa sedikit menghilangkan kesedihanmu."


Raka mengikuti Pitha keluar dari warnet dengan senyum kecil di wajahnya. Meskipun hatinya masih sedih, ia merasa bersyukur karena memiliki teman seperti Pitha yang selalu ada untuknya.


Pitha dan Raka menikmati nasi goreng yang dijual di depan warnet, aroma rempah-rempahnya menggoda selera mereka. Setelah perut kenyang, mereka langsung menuju warnet untuk bermain game.


Setelah memasuki warnet, Pitha segera memberitahu Raka bahwa jika ia merasa sedih, ia bisa mencoba bermain game yang sama seperti yang ia mainkan.


Pitha menjelaskan bahwa ini adalah game online yang bergenre music, dan kita harus mengikuti perintah yang sesuai di layar .


Raka memandangi layar komputer dengan seksama. "Jadi kita harus menekan tombol-tombol pada keyboard sesuai dengan arah yang muncul di layar?" tanya Raka.

__ADS_1


"Ya, tepat sekali," jawab Pitha. "Game ini bergenre musik dan memang dirancang untuk dimainkan dengan keyboard. Aku yakin kamu pasti bisa mengikuti alur game ini dengan mudah."


Raka mengangguk, memutuskan untuk mencoba game tersebut. Dengan keseriusan yang memancar dari matanya, ia menekan tombol-tombol pada keyboard dengan tepat sesuai dengan arah yang muncul di layar. Alunan musik yang menghentak-hentak dan gerakan yang semakin cepat membuat hati Raka semakin berdebar-debar.


"Sungguh menarik!" serunya ketika ia menyelesaikan lagu pertama yang telah ia pilih .


"Aku tak pernah tahu bahwa bermain game bisa membuat hatiku merasa seceria ini."


Pitha tersenyum melihat kegembiraan Raka. "Aku sudah bilang kan kalau bermain game bisa membuat pikiran kita tenang dan hati kita senang? Semua masalah dan kesedihanmu sekarang terasa jauh di sini, bukan?"


Raka mengangguk setuju. Ia melanjutkan permainannya dengan semangat yang lebih tinggi, bahkan lupa dengan kesedihan dan masalahnya yang ada di dunia nyata.


Dengan mata yang sembab, Raka menarik nafas dalam-dalam. Setelah bermain joged-joged tersebut, Raka merasa pikirannya menjadi lebih tenang. "Terima kasih sudah mengajakku bermain game itu, Pitha," ucapnya dengan senyum kecil.


Setelah berpamitan dengan Pitha, Raka berjalan keluar dari warnet.


Dengan mata yang hampir tertutup kantuk, Raka menyadari bahwa ia harus segera berangkat untuk mencari bis pulang ke Jakarta. Ia takut orangtuanya sudah mencari ke mana-mana karena kekhawatiran yang berlebihan


Raka terkulai lelah di dalam bis, menatap jendela dengan wajah yang lesu. Setelah membayar tiket, ia segera melepas ransel dan terduduk di kursi, menutup matanya. Ia merasakan kelelahan yang menghampirinya, setelah semalam suntuk berjalan mencari tahu tentang Maya. Sekarang ia sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta, meskipun di dalam hatinya masih ada keraguan dan ketidakpastian.


tapi tubuhnya sudah terlalu lelah untuk tetap terjaga. Tanpa sadar, ia akhirnya tertidur pulas di dalam bis, dengan hati yang masih dipenuhi oleh rasa cemas dan khawatir.

__ADS_1


Saat Raka terbangun dari tidurnya, ia sudah tiba di terminal bus di Jakarta. Ia buru-buru keluar dari bis dan merogoh dompetnya untuk melihat sisa uang yang dimilikinya. Ternyata sisa uangnya sangat sedikit, bahkan tidak cukup untuk membayar transportasi menuju rumahnya.


Raka merasa sedikit khawatir saat melihat dompetnya kosong. Dia merenung sejenak untuk mencari solusi yang terbaik agar bisa pulang ke rumah tanpa membuat orangtuanya marah. Setelah beberapa saat berpikir, Raka memutuskan untuk mengunjungi kantor polisi dan berpura-pura tersesat.


Dengan langkah cepat, Raka menuju ke kantor polisi terdekat. Ketika sampai di sana, "Tolong, Pak Polisi, saya tersesat dan tidak tahu jalan pulang ke rumah. Bisa tolong antar saya ke rumah?" pinta Raka dengan nada polos.


Petugas piket yang melihat keadaan Raka langsung merasa iba .


Petugas polisi memberinya bantuan dan menghubungi orangtuanya untuk memberitahu bahwa Raka telah ditemukan. Tak lama kemudian, orangtuanya datang menjemput Raka di kantor polisi.


Setelah kejadian itu, Raka merasa bahwa orang tuanya menjadi sangat over protektif. Mereka selalu bertanya-tanya di mana Raka pergi dan siapa teman-temannya. Menurut Raka, kekhawatiran orang tuanya terlalu berlebihan dan membuatnya merasa terkekang.


Setiap harinya, Raka merasa seperti di dalam selimut awan hitam kesedihan yang tak kunjung usai. Meskipun sudah berteman dengan Pitha dan bersiap-siap untuk pensi game dan berpamitan dengan seisi guild termasuk Vhionitha,


Raka yang dulu ceria dan ramah, kini berubah menjadi tertutup dan tidak terlalu peduli dengan lingkungan sekitarnya. Hatinya terasa hampa tanpa kehadiran Maya, teman sepermainannya yang sudah lama menghilang tanpa jejak. Terkadang, ketika sedang sendirian, Raka teringat kembali akan kenangan indah bersama Maya dan menangis sejadi-jadinya.


Raka mencoba menyembunyikan kesedihannya di hadapan ibunya dengan tersenyum dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Namun, dalam hatinya, ia merasa hampa dan kesepian. Setiap kali ia memikirkan Maya, hatinya terasa sakit dan sedih.


Saat tepat 3 bulan berlalu, Raka memutuskan untuk menjual karakter game online-nya. Ia merasa bosan dengan game itu dan ingin mencari yang baru untuk dimainkan.


Setiap anggota guild Zone tercengang ketika Raka mengumumkan rencananya untuk menjual char game onlinenya dan berhenti bermain. Mereka penasaran dan bertanya-tanya apa yang menyebabkan perubahan pikiran tiba-tiba dari Raka. Namun, Raka hanya memberikan alasan palsu bahwa ia ingin fokus pada sekolah dan tidak lagi mempunyai waktu untuk bermain game. Meskipun anggota guild merasa sedikit kecewa, mereka menghormati keputusan Raka.

__ADS_1


Ketua guild Zone terkejut ketika mendengar rumor bahwa Raka berniat menjual akun game-nya. Ia merasa terpanggil untuk membeli karakter tersebut agar tidak jatuh ke tangan guild lain. Ketua guild tersebut berusaha mempengaruhi Raka dengan memberikan tawaran yang menggiurkan,


Raka merasa kebingungan yang tak terhingga. Ia merasa senang dan lega karena akun game-nya bernilai 10 juta rupiah, tetapi di sisi lain, ia merasa khawatir dan gugup dengan bagaimana cara menyembunyikan uang tersebut dari orang tuanya. Raka berusaha merenung sejenak dan berpikir bahwa dia mungkin bisa menyembunyikan uang itu di tempat yang aman dan rahasia, misalnya di dalam laci yang tersembunyi atau di dalam kotak yang tertutup rapat. Namun, ia juga merasa takut bahwa orangtuanya bisa menemukan uang tersebut dan memarahinya. Raka merasa dilema dan tidak tahu harus bagaimana.


__ADS_2