Menemukan Cahaya Di Dunia Yang Gelap

Menemukan Cahaya Di Dunia Yang Gelap
Badai kegelapan mengahantui raka


__ADS_3

Dengan mata yang masih terpejam, Raka merasakan getaran dari bunyi alarm yang kembali membangunkannya. Ia meraih telepon genggamnya yang tergeletak di samping bantal dan membuka pesan dari Maya. Tidak seperti biasanya, pesan itu membawa kabar buruk tentang sakitnya ayahnya. Raka merasa terkejut dan cemas, apalagi Maya mengatakan bahwa tidak bisa bermain sementara waktu. Ia pun menghela napas berat, merenungkan langkah selanjutnya yang harus ia ambil.


Setelah membaca pesan tersebut, Raka langsung mendoakan kesembuhan untuk ayahnya Maya. Hatinya sedih dan khawatir, namun dia tidak bisa mengganggu keadaan Maya yang sedang mengurusi ayahnya yang sakit. Raka berjanji untuk selalu mendukung Maya dan keluarganya dalam keadaan sulit seperti ini. Raka percaya bahwa kesabaran dan doa yang tulus pasti akan membawa kebahagiaan di masa depan.


Matahari pagi yang terik menyoroti wajah Raka ketika dia bersiap-siap menuju sekolah. Tapi hatinya tidak seperti biasanya yang penuh semangat karena mendengar kabar sedih dari Maya. Ayahnya yang sakit membuat Raka merasa tidak bersemangat untuk memulai hari ini, apalagi karena hari ini dia baru masuk ke kelas 5 SD yang baru. Namun, Raka terus berusaha untuk mempertahankan semangatnya dan berdoa untuk kesembuhan ayah Maya.


Dengan lesu, Raka melangkah menuju kelas 5 SD-nya yang baru. Setiap langkahnya terasa berat, hatinya sedih mendengar kabar bahwa orang tua teman dekat nya sakit. Selama di sekolah, Raka tidak semangat untuk melakukan apa pun. Ia hanya bisa terus berpikir, mencoba memahami dan mencari kebenaran dari perkataan Maya. Hingga akhirnya, saat bel pulang berbunyi , Raka jalan pulang . Dalam perjalanan pulang,


Namun, tak disangka seorang pengganggu datang menghampiri dan mengganggunya. Tanpa pikir panjang, Raka merespons dengan refleks dan memukul orang itu. Terlepas dari perasaan bersalah yang menyelimuti dirinya, raka melanjutkan perjalanan pulang nya .


Raka tiba di depan pintu rumahnya dengan hati yang berat. Ia tidak ingin menunjukkan raut sedih di wajahnya kepada ibu dan ayahnya. Dengan kepala tegak dan senyum palsu, Raka membuka pintu dan memasuki rumah. Ia berharap bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik, tapi takdir berkata lain.


Ibunya langsung menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan putranya. "Apa yang terjadi, Nak?" tanya sang ibu dengan cemas.


"Ma, tadi aku di ganggu sama teman beda kelas, sangat menjengkelkan!" ujarnya


bu Raka mendengarkan cerita putranya dengan serius, kemudian menenangkan Raka, "Jangan khawatir, Nak. Jika kamu di ganggu lagi, coba saja pukul mereka. Mereka tidak akan mengganggumu lagi setelah itu."

__ADS_1


Raka terkejut dengan saran ibunya, "Tapi, Ibu, bukankah tidak boleh memukul orang?"


Ibu Raka tersenyum, "Sekarang dunia sudah berubah, Nak. Terkadang, memukul seseorang bisa menjadi solusi terbaik. Tapi, hanya gunakan itu jika tidak ada cara lain. Dan jangan lupa, Ibu selalu ada untukmu."


Raka merasa tenang mendengar kata-kata ibunya dan tersenyum, "Terima kasih, Ibu. Aku akan mencoba yang terbaik untuk menghadapi mereka jika dia mengganggu ku lagi ."


Dalam hati Raka merasakan lega. Walau ia merasa sedih karena Maya tidak bisa main game bersamanya hari ini karena orangtuanya sakit, ia berhasil menutupi perasaannya dengan baik. Raka menghela nafas, mencoba memikirkan hal lain agar tidak terus berpikir tentang keadaan Maya dan keluarganya yang sedang sakit. "Aku akan mencoba mencari hiburan lain hari ini," gumam Raka dalam hati.


Setelah meletakkan tasnya di meja belajar, Raka segera meraih smartphone-nya dari dalam saku celana. Dengan jari yang lincah, ia membuka aplikasi Messenger dan mengetikkan nama Maya di kolom pencarian. Setelah menemukan akun temannya itu, Raka menekan tombol pesan dan mengetikkan beberapa kata singkat: "Hai, kamu sudah online?" Hatinya berharap-harap cemas, semoga saja Maya sudah online dan bisa diajak bermain game meski orangtuanya sedang sakit.


Raka masih menatap layar ponselnya dengan harap-harap cemas. Meski sudah 15 menit berlalu, belum ada juga balasan dari Maya. Raka merasa khawatir akan kondisi orang tua sahabatnya itu. Ia menghela napas dan memejamkan mata.


Namun, meskipun begitu, Raka tetap merasa tak tenang. Ia terus menggenggam erat ponselnya, berharap ada kabar baik dari Maya. Setelah memastikan tidak ada notifikasi masuk, akhirnya Raka memutuskan untuk tidur. Mungkin besok akan ada kabar dari Maya.


Dengan perlahan, Raka merebahkan tubuhnya ke kasur dan menutup mata. Meski rasa khawatir masih ada di dalam hati, namun Raka mencoba untuk memejamkan mata dan tidur. Semoga esok hari akan lebih baik, pikirnya dalam hati sebelum akhirnya terlelap di dalam mimpinya.


Dalam keheningan yang menyelimuti hari-harinya, Raka merasa terisolasi dari dunia luar. Setiap harinya, ia hanya menghabiskan waktu dengan rutinitas yang membosankan, dan menunggu kabar dari Maya yang tak kunjung datang. Minggu demi minggu berlalu, hingga Raka merasa seperti terjebak dalam kegelapan yang menyelimuti hatinya. Bagaimana kabar ayah Maya? Dan di mana Maya berada? Raka tak bisa menghapus rasa khawatir yang membuncah di dalam dirinya. Dan ia terus menunggu, menunggu hingga kabar dari orang yang membuat raka bersemangat .

__ADS_1


Raka memutuskan untuk pergi ke Bandung dengan rasa waspada dan hati-hati. Dia takut kalau ada yang mengikuti atau mengejarnya. Namun, rasa cemas tersebut tidak bisa menghentikan tekadnya untuk menemukan kebenaran tentang kabar sakitnya ayah dari temannya, Maya. Raka menaiki kereta api yang membawanya ke kota Bandung.


Di dalam kereta, Raka melihat pemandangan luar yang indah. Hujan turun dengan lembut dan menambah keindahan kota Bandung. Raka berpikir bahwa ia harus tetap tenang dan hati-hati saat mencari kebenaran. Dia harus mengumpulkan bukti-bukti yang cukup untuk membuktikan kebenaran dari kabar sakit ayah Maya.


Setelah sampai di Bandung,raka menuju kerumah maya untuk melihat langsung kondisi ayah nya maya secara langsung . setelah beberapa hari mencari, Raka masih belum menemukan kebenaran tentang kabar sakit tersebut.


Dengan hati yang berat, Raka berjalan ke kafe internet dekat Terminal Dago. Dia merasa putus asa karena hampir kehabisan uang dan harus segera pulang ke rumah. Namun, ada satu hal yang menghantui pikirannya. Apa kabar Maya? Apakah dia baik-baik saja? Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Raka mencoba mencari tahu kebenaran tentang keadaan temannya itu.


Dengan penuh harap, Raka membuka messenger di komputer dan mencari akun Maya. Namun, setelah mencoba berkali-kali, ternyata akun tersebut tidak aktif. Raka merasa semakin cemas dan gelisah. Apakah sesuatu yang buruk terjadi pada Maya? Dia merasa tidak bisa mengabaikan perasaan khawatirnya.


Pitha, yang melihat Raka sedang sedih, mencoba memulai percakapan dengan lembut. "Ada yang salah, Raka?" tanyanya dengan suara lembut.


Raka mengangkat wajahnya yang pucat, dan menunjukkan sebuah foto pada Pitha. "Ini Maya, teman main game-ku," ujarnya sedih.


Pitha melihat foto itu dan terkejut. "Kamu kenal dia?!" tanyanya terkejut.


Raka mengangguk lemas. "Dia teman dekat ku yang hilang kabar selama seminggu, karena katanya ayah nya sendang sakit dan aku tidak tahu harus bagaimana," keluhnya.

__ADS_1


Setelah raka berbicara , Pitha sebenarnya terjadi bahwa Maya mungkin saja berbohong karena orang tuanya pisah dan ....


__ADS_2