
"Wanita ini." Seorang pria menunjukkan video dari tabletnya. "Bawa dia untuk menjadi wanitaku malam nanti. Aku tidak peduli bagaimana caranya, lakukan seperti yang kumau."
"Baik, Bos!"
Pria itu bangkit dari kursi, meninggalkan anak buahnya yang tengah memastikan sekali lagi wajah wanita yang diminta bosnya itu. Keduanya saling tatap, lalu mematikan tabletnya dan mengangguk mantap.
"Mari kita eksekusi."
***
Dinginnya malam membuat langkah seorang wanita bersepatu hak tinggi, rok span hitam dan kemeja putih melambat mendekati perempatan jalan. Masih ramai beberapa orang di jalan itu, dengan dia salah satunya yang berbaur dan memeluk lengannya sendiri.
Dia sudah mengkhayalkan. "Nanti sampai di kost-an aku akan memakan mie pedas, lalu meminum cokelat panas. Pasti akan sangat nikmat sekali ...." Bibirnya merekah, membayangkan betapa nikmatnya makanan itu.
Perutnya memang tidak terlalu lapar, tapi dia ingin makan lagi. Melihat sebuah bus kecil yang tengah berhenti menunggu penumpang, binar mata gadis itu terbit. Dia berlari-lari, tapi tas selempang yang dipakainya terasa di tarik seseorang hingga dia reflek berhenti.
"Copet! Tolong ... ada copet!" Dia berteriak, mengejar seorang pria komplotan pencopet yang sudah berlari ke arah kanan jalan.
__ADS_1
Beberapa warga yang ada di sana ikut mengejar, hingga suasana riuh seketika. Gadis itu terus mengejar karena dia melihat bayangan pria yang berlari di depan sana membawa tasnya.
Dilepaskannya high heels, lalu berlari lagi. Warga yang membantunya tidak ada yang terdengar lagi, mungkin berpencar karena memang gedung-gedung tinggi di tempat ini banyak memiliki lorong. Kakinya menapaki sebuah lorong paling ujung yang gelap. Gadis itu meremang sedikit, tapi tetap melanjutkan langkahnya. Melihat sebuah bayangan berlari di hadapannya, dia langsung mengambil sebuah batang kayu yang tergeletak di pinggir jalan.
Dia mulai berjinjit, melangkah cepat dengan cara itu. Sunyi, tapi lumayan terang. Hal itu membuatnya meneguk ludahnya sendiri hingga tiba di ujung tembok yang melintangkan bayangan seseorang itu. Secepat mungkin dia berbalik, langsung mengayunkan balok di tangannya dengan mata terpejam. Namun, dia tak merasakan apa-apa. Justru pintu rumah yang ada di sebelahnya terbuka, tanpa ada orang yang ada di sana.
"Mana dia? Aaaa!"
Dia terdorong masuk akibat perlakuan seseorang. Tak lama, pintu rumah itu tertutup bersamaan dengan matinya lampu yang ada di ruangan itu. Dia sudah hampir berteriak, tapi lebih dulu mulutnya dibekap oleh sebuah tangan yang juga menyisipkan di pinggangnya.
"Eemmhh! Lepaskan!"
Malam panjang yang hanya dia sendiri nikmati terjadi. Dengan penuh semangat dia melakukannya bahkan tanpa ampun sama sekali. Dadanya semakin berdebar kencang ketika tahu kalau mendapatkan keperawanan lagi dan ini bukan pertama kali. Tetapi ini adalah yang pertama kalinya dia memaksa seorang wanita untuk menjadi miliknya di malam yang sudah naik dan semakin sunyi.
Pria itu berguling seusai melakukan apa yang dia mau. Dia terengah-engah dengan puas, lalu menyeka dahinya yang berpeluh. Bangkit, dia memakai jubah tidurnya dan membiarkan tubuh polos wanita itu terbuka di antara remang-remang kamarnya. Dia melangkah ke arah lemari es, lalu mengambil sekaleng soda.
"Luar biasa dia. Sangat suci ...." Pria itu tertawa dengan tangan yang perlahan menyalakan lampu. Dibuangnya kaleng soda yang sudah kosong, lalu berbalik dan naik ke atas ranjang.
__ADS_1
Dirapikannya rambut wanita yang sudah membuatnya puas itu, meskipun dia yang bekerja sendiri. Sempat dikecupnya dahi wanita itu, sebelum nanti meletakkannya di pinggir jalan. Namun, tatapannya membola ketika melihat wajah mungil wanita yang sudah ditidurinya. Selama ini, mana pernah dia tahu kalau wajah wanita yang diinginkannya, yang pernah bertabrakan di zebra cross hingga meninggalkan wangi parfumnya di jas. Sejak itulah dia ingin mencicipi dan juga menghancurkannya karena wanita ini tidak ada kata minta maaf sama sekali padanya. Namun, wanita itu ternyata ....
"Andrienna Cellia?" Rahangnya hampir jatuh, mengingat nama seorang wanita yang tak lain adalah temannya di SMK. "Andrienna? Wanita ini Andrienna? Agh, ****! Bagaimana bisa? Aku baru memerawani temanku sendiri?"
Langsung saja pria itu bangkit dan duduk. Dia melihat tubuh polos wanita yang tak ditutupinya dengan selimut. Dia bangkit dari duduknya, lalu menaikkan selimut untuk menutupi tubuh temannya yang mulai berharga baginya. Dia teringat, saat menuju kamar ini ada sebuah tas yang diletakkannya saat anak buahnya memberikan itu padanya.
Buru-buru dia melangkah ke arah luar, menuruni tangga dan langsung melihat sebuah tas kecil yang ada di sana. Dengan cepat dia mengambil lalu membukanya. Dia melihat sebuah dompet yang lumayan tebal dan uang yang bertumpuk.
"Astaga ... dia punya uang yang lumayan banyak." Tanpa sadar bibir pria itu langsung menyunggingkan senyum.
Dia mengambil sebuah card lalu membaca namanya.
"Andrienna Cellia ... dia benar-benar Andrienna ..." Jantungnya berdegup sejenak, teringat dengan gadis cantik yang sedikit lemot sepuluh tahun lalu.
Di umur masih sekitar delapan belas tahun, saat reuni terakhir yang mereka lakukan. Wajahnya tak berubah sama sekali, justru terlihat semakin imut dan cantik. Langsung dia melangkah, menaiki tangga sambil mengambil sebuah ponsel dari dalam tasnya. Bibir yang mulanya tersenyum mulai meredup melihat apa yang menjadi wallpaper. Andrienna dengan seorang pria berjas. Temannya itu memeluk dari belakang leher pria yang sedang duduk di kursi itu dengan wajah yang sama-sama bahagia.
"Andrienna ... siapa dia? Pacarnya?" Dengan mata menggelap, pria itu mencengkram erat ponsel wanita itu dan memasukkannya ke dalam tas.
__ADS_1
Dia meletakkan tasnya di nakas, lalu menaiki ranjang. Wanita yang baru saja direbut segalanya oleh dia sendiri itu masih terlelap. Akibat efek bius dan juga kelelahan yang diberikannya. Dengan cepat napas pria itu memburu, seolah tak terima dan mulai mengklaim kalau wanita ini adalah miliknya.
"Kupastikan kau akan putus dengan pacarmu, Sayang. Aku adalah pemilikmu, kau tidak akan bisa bersatu dengannya." Dia kembali mengulang malam mereka, merengkuh tubuh seorang wanita yang tak berdaya di bawahnya. "Kau milikku! Mau berapa jauh pun kau berlari, aku akan mendapatkanmu. Tidak peduli pada apa pun, Girl!" Umpatan, ******* dan juga penyesalan menjadi satu. Akan tetapi, hal itu tidak membuat pria itu berhenti. Dia merasa punya kuasa dan mampu melakukan apa yang dia mau. "You mine, Honey!"