
Andrienna langsung bangkit dengan wajah cerah saat pria itu mengaku.
"How are you? Lama sekali kita tidak bertemu, 'kan?"
Ayres Benjamin Natra tersenyum, menatap wajah Andrienna yang tampak senang dengan pertemuan mereka. Dia melangkah mendekat, lalu memeluk sejenak tubuh wanita itu dan menarik harumnya tubuh Andrienna. Bibirnya menyunggingkan senyum, dengan pelukan yang tanpa sadar semakin erat dia lakukan.
"I'm fine." Dia bergumam, mengeratkan pelukannya seolah tak ingin melepas.
"Kau tidak mau melepaskan pelukanku? Sebegitu rindunyakah?"
Ayres tersentak pelan, lalu menunduk menatap matanya. Senyumannya mengartikan kalau ucapan wanita itu adalah benar.
"Bagaimana kabarmu? Kudengar, tiga tahun lalu ayah ibumu meninggal dunia?"
"Hmm." Andrienna mengernyit pelan, mengurai pelukan mereka. "Kau tahu dari mana?"
Ayres tersenyum kecil, lalu duduk saat Andrienna mempersilakannya.
"Ada info dari teman sekelas kita, Jefan. Ingat?"
"Hmm, oh." Andrienna mengangguk saja. "I'm fine."
Ayres tersenyum kecil, menatapnya yang tak balas memandang. Andrienna justru menatap pinggiran meja, tak tahu apa yang harus dikatakan.
"Ada apa denganmu? Kulihat kau sedikit tidak baik."
"Tidak ada apa-apa, Ayres. I'm okay, you know?"
"Aku justru semakin tahu kalau kau kenapa-napa, Andrienna. Tampaknya kau tak bersemangat akibat malam itu." Dia membatin, menatap wajah temannya yang terlihat tak bersemangat dan masih menatap pinggiran meja.
Ya, dia adalah pria di malam itu. Pria yang sudah mengambil segalanya dari Andrienna Callie. Siangnya setelah dia pulang dari urusan pentingnya dengan musuh menyebalkan, Ayres tak menemukan Andrienna di atas ranjang miliknya. Yang tertinggal hanyalah tutup botol parfum dan bercak merah di atas sprey.
Sebulan ini anak buahnya sudah mencari ke mana-mana, bahkan sedetail-detailnya. Namun, yang mereka dapatkan hanyalah info bahwa Andrienna adalah seorang anak orang kaya yang tinggal di kost-an. Maksudnya untuk tinggal di sana entah apa, intinya dia kesulitan mendapatkan informasi karena Andrienna adalah seorang yang bukan main-main. Dia juga kaya raya dan Ayres bangga mendapatkan apa yang pertama dari miliknya.
"Silakan, Nona. Ayam rica-rica, tumisan daging sapi, nasi hangat, lemon tea dan juga air hangat. Semuanya baru di angkat dari wajan, jika ada koreksi rasa yang salah maka laporkan pada kami. Selamat menikmati …."
__ADS_1
"Terima kasih." Andrienna tersenyum, mengambil sendok dan garpunya untuk memulai makan.
"Kau makan semua ini?" Ayres bertanya dengan nada ingin tahunya. "Habis?" lanjutnya tak percaya.
"Kenapa? Kau hanyalah teman, tidak tahu siapa aku, Ayres. Haruskah kukatakan semuanya padamu?"
Ayres terdiam, menatapnya yang tengah mengunyah nasi. Hormon yang berubah-ubah membuat Andrienna sedikit sensitif apabila ada yang menyinggung makannya atau dirinya. Ini memang bukan dirinya sendiri, tapi untuk bayi seorang pria yang entah siapa di dalam perutnya ini. Sama sekali dia tidak pernah menduga, kalau dia akan hamil tanpa suami dan itu adalah sesuatu yang masih sensitif padanya sampai detik ini.
"Kau mencari sesuatu? Atau menunggu sesuatu?"
"Apa?"
"Mana aku tahu." Andrienna menatapnya datar. "Bukankah selama ini kita selalu bertemu, ya? Tetapi kau acuh. Bahkan saat aku menabrakmu di zebra cos pun, kau tak peduli sama sekali. Padahal aku antara sengaja dan tidak, ingin melihat reaksimu."
"Seriusly?" tanyanya dengan mata membulat.
Jadi hal itu bukan suatu ketidaksengajaan?
"No. I'm just kidding." Andrienna menatapnya datar. "Ternyata kau tidak berubah, bahkan setelah bertahun-tahun silam."
Andrienna menghela napas panjang. " Maaf, aku memang agak sensitif," ujarnya sambil meraih tissue.
"Ada apa?" Ayres menatapnya hangat. "Katakan padaku, apa yang membuatmu sensitif?"
"Are you sure?"
"Yes, why not? Barangkali aku bisa memberikan beberapa hal sebagai solusi." Ayres mengangguk, hingga Andrienna memainkan sendok di tangannya.
"Kau tahu ... kurang lebih sebulan lalu aku baru di jebak oleh seorang pria yang mencopet tasku." Pahit Andrienna berkata, membuat Ayres tersenyum tipis nyaris tak terlihat.
"Lalu?"
Andrienna menghela napasnya perlahan. "Dia melakukan hubungan itu padaku, dia merenggut kesucianku. Please, Ayres ...." Wanita itu mendekat, mengambil tangan Ayres yang lebar dan menggenggamnya. "Jangan katakan pada siapapun, ya? Jangan permalukan aku. Aku mengatakan ini padamu karena tidak ada yang mampu kupercayai selain kau. Aku hanya sebatang kara, tidak ada orang tua ataupun saudara. Tegakah kau menyebarkan aibku pada orang lain?"
"Wait!" Ayres menatap wajahnya. "Kau dijebak oleh pencopet?" tanyanya dalam, membuat Andrienna mengangguk pelan.
__ADS_1
"Yes, you know? Aku d jebak dan di berikan obat bius, sampai aku tidak sadar apa-apa. Namun paginya, aku terbangun dalam keadaan yang mengenaskan, Ayres. Tubuhku sakit semua, seperti tidak ada tulang lagi. Please ... bantu aku mencari siapa yang sudah melakukan itu. Tuntut dia, aku akan membantumu dalam finansialnya. Aku akan memberikan modal yang banyak dalam pencarian itu. Kau tahu, aku butuh teman untuk melakukan ini. Aku takut sendiri, bahkan untuk melaporkannya ke polisi aku tak sanggup. Please Ayres, bantu aku ...."
Ayres mematung di tempatnya, melihat setitik air mata dari kelopak Andrienna yang sudah jatuh.
"Bantu aku, please ... aku butuh bantuan untuk menuntut keadilan. Please, Ayres ...."
"Apa buktinya, Andrienna?" Ayres bertanya sangsi, lebih tepatnya dia tak mungkin mencari siapa pelakunya, dia sendirilah orangnya. "Kita butuh bukti yang kuat ...."
Andrienna terdiam, menyeka air matanya perlahan.
"Kapan kejadiannya?"
"Sebulan lalu, di jalan kiri perempatan kota. Kau tahu, di ujung lorongnya ada sebuah rumah kecil yang terpencil. Disanalah aku mendapatkan kejadian buruk itu, Ayres." Andrienna sesenggukan, tubuhnya gemetar mengatakannya. "Dia merenggut semuanya dariku, dalam keadaan tidak sadarku. Apa yang bisa kulakukan? Pria brengsek itu entah siapa dan aku tak melihat wajahnya sama sekali karena gelap."
"Itu aku," Ayres membatin, seraya menggenggam tangan Andrienna. "Tenanglah, aku akan membantu tetapi kita butuh bukti. Kau punya bukti? Pakaianmu malam itu atau apa?"
"Pakaianku di malam itu sudah kubuang jauh-jauh." Andrienna terdiam saat Ayres menyeka air matanya yang bercucuran.
Tak ada orang yang memperhatikan mereka, para pelanggan cafe hanya sibuk dalam urusannya.
"Tenanglah, jangan menangis. Kita hanya butuh bukti. Menurutmu, apa yang bisa menyakinkan polisi untuk melakukan penangkapan?"
"Emm." Andrienna terdiam dengan tangan yang perlahan dia ambil dari tangan Ayres. "Seperti apa contohnya?"
"Yaa, hal yang berkaitan dengan malam itu. Ini juga sudah sebulan katamu, kenapa tidak lapor sejak awal?" Dia berkata begitu, tapi hatinya malah tersenyum karena Andrienna tak melaporkan kejadiannya. "Kenapa kau diam saja?"
Andrienna sesenggukan pelan. "Aku takut mengatakannya, takut sekali."
Ayres menghela napas. "Seharusnya kau katakan saja pada polisi, mereka juga akan melindungimu. Namun sekarang tidak ada yang perlu kita bicarakan tentang malam itu. Kita hanya butuh bukti."
"Bukti?" Andrienna terdiam, teringat tentang kehamilannya. "Aku tahu, aku punya bukti malam itu."
Bola mata Ayres melebar sedikit. "Apa?"
"Kehamilanku bisa, 'kan?"
__ADS_1
"Apa?!"