
"Halo?"
"Halo, datanglah. Anak buah kita ditahan oleh musuh. Mereka tidak mau bernego, Anda yang diminta kemari oleh ketuanya."
"Kurang ajar! Berani sekali mereka menantangku! Musuh yang mana?!" Pria itu menyentak kesal, dengan jubah hitam legam yang membalut tubuh.
"Tuan Gheromy Adesson. Dia menahan anak buah kita karena keluar dari perbatasan. Tidak ada perang sebelumnya, hanya saja dia memang sudah lama mengincar Anda makanya semua cara dia lakukan untuk mendapatkan kelemahan kita. Segera lah datang, Tuan. Ada Mahesa dan juga Marlen yang dia tahan. Bagaimanapun dua orang itu adalah anak buah terbaik."
"Aku akan datang dalam dua puluh menit."
"Baik."
Pria itu mematikan ponselnya, lalu bangkit kearah dinding dan menekan tombolnya hingga sebuah lemari terlihat. Dia mengambil satu stel pakaian hitam, menanggalkan jubahnya dan mulai bersiap. Dia memakai jam tangan, airphone dan juga sepatu hitam. Tak lupa, tangannya menekan sebuah brankas dan langsung menutup lemari yang langsung menyatu dengan dinding.
Dia menyelipkannya di pinggang dan balik jas, lalu menyimpan pisau lipat di balik lengan baju tepatnya di pergelangan tangan. Ditatapnya kearah ranjang, dimana wanita yang sudah di hancurkannya itu terlelap, dengan langkah yang perlahan pasti mendekatinya.
Dia membelai rambutnya, lalu tersenyum ketika mengecup dahinya.
"Aku akan kembali nanti, kalau kau hilang aku akan menemukanmu, Honey."
Dia menegakkan tubuh, lalu mulai melangkah keluar. Sekali lagi dilihatnya kearah ranjang, lalu tersenyum tipis mengingat betapa gilanya dia menikmati tubuh temannya sendiri. Sesaat kemudian, dia sudah melangkah dengan tangan yang menekan airphone.
"Siapkan mobil, jemput aku."
Tut!
***
Sepasang mata sudah meneteskan air kesekian kalinya. Dia menatap ke sekitar, dengan tubuh yang dia peluk kuat-kuat. Dia benar-benar takut, menjadi orang yang tertutup sejak sebulan kejadian dia terbangun dalam keadaan tak berpakaian terjadi.
Dalam keadaan separuh sadar dan tidaknya dia, dia tahu kalau ada seseorang yang baru merebut harta pertamanya. Hartanya yang paling berharga dan juga satu-satunya. Dia menyeka air matanya, lalu meringkuk layaknya ulat bulu di atas ranjang.
"Apa yang bisa kuberikan pada Kevan kalau dia tahu aku sudah tidak perawan? Bagaimana dia akan menganggapku?" Tubuhnya bergetar mengatakan hal itu, terutama saat mengingat bagaimana dia bangun dalam keadaan di pagi itu.
__ADS_1
Dia sungguh-sungguh hampir gila, dia tak menyangka malam itu dia di jebak oleh pencopet yang mungkin melakukan hal itu padanya.
"Pencopet kurang ajar! Jika aku menemukanmu, aku akan membenamkanmu dalam penjara. Tunggu saja!" Dia berteriak kesal, tapi akhirnya tergugu lagi. "Tetapi ... Dimana? Aku bahkan tak tahu bagaimana wajahnya."
"Demi Tuhan! Aku tak sudi melihat wajah si brengsek itu! Mudah-mudahan kau mati tertabrak!"
Luapan yang terasa mendorong ingin keluar membuatnya bangkit. Andrienna, ya, dia adalah Andrienna. Wanita malang yang harus ternoda akibat perbuatan seorang pria tidak bermoral. Secepat mungkin dia berlari, lalu memuntahkan isi perutnya untuk yang kesekian kalinya.
Bak kata pepatah, habis jatuh tertimpa tangga. Itulah yang menimpa kehidupannya sekarang ini. Sudah ternoda, dinyatakan hamil pula. Jika dia hanya ternoda mungkin itu tidak akan menjadi masalah besar, tapi sekarang dia hamil anak entah siapa. Dia meremang membayangkannya, bagaimana dia bisa menikah atau hidup jika kelak para warga satu kost-annya tahu dia hamil di luar pernikahan?
"Apa yang bisa kulakukan?" Menatap kaca kamar mandi, Andrienna sudah hampir ingin menggugurkannya tapi dia tak tega dan juga takut mati.
Bagaimanapun dia banyak tahu tentang efek samping melakukan aborsi. Banyak berita yang mengatakan kalau pelakunya akan lebih besar resiko kehilangan nyawa. Hal itulah yang membuatnya mundur, meskipun sudah hampir mendekati klinik ilegalnya.
Suara perutnya yang kelaparan terdengar, membuat Andrienna menghela napas. Dia mengusap perutnya, lalu melangkah perlahan keluar kamar mandi. Dia memakai make-up agar wajahnya yang memucat tidak terlalu tampak. Mungkin dia memang harus mulai menerima kenyataan kalau itulah takdirnya.
"Aku bosan makan di dalam kamar. Kita keluar, ya?" gumamnya lembut sambil mengambil sebuah dompet tangan yang multifungsi.
Tidak akan ada yang menyangka kalau dia hamil, karena sampai sekarang tak ada yang tahu apa yang sudah menimpanya, bahkan teman kerja. Dia minta cuti sejak kejadian itu, hingga tak ada yang menemuinya kecuali yang benar-benar dekat.
"Seharusnya malam itu aku membawa mobil." Wanita berambut kecoklatan dengan gelombang cantik itu menghela napas, lalu mulai memasuki mobil merahnya yang terparkir di halaman kostan elit miliknya.
Dia hidup tidak kekurangan satu apapun, sangat cukup dan tercukupi. Warisan ayah ibunya yang sudah tiada masih membanjiri hidupnya, tapi dia tetap bekerja sebagai seorang pegawai di kantor orang lain. Dia hanya menerima keuntungan dari anak buah yang tak lain adalah petinggi terpercaya di perusahaannya.
Malangnya, dia wanita kaya raya yang hanya tinggal sebatang kara. Ada rumahnya di pusat kota, amat mewah dan megah. Namun, dia malah menyewa kostan yang bahkan mampu dia beli semua unitnya. Hal itu dia lakukan untuk menjauhi rumah mewah milik mereka dan juga peninggalan orang tuanya. Dia hidup menjauh, tapi masih memegang remote control atas semua cabang dan perusahaan utama. Andrienna Callie bukannya seorang wanita biasa.
"Silakan, Nona."
"Terima kasih." Andrienna tersenyum menerima buku menunya. "Boleh tunggu lima belas menit?"
"Tentu, senyaman Anda." Pelayan itu menjawab sopan, membuat Andrienna mengangguk.
Dia mulai memperhatikan setiap menu, hingga akhirnya mendapatkan makanan yang sesuai.
__ADS_1
"Ayam rica-rica, nasi hangat, selada dan juga minumnya segelas lemon tea juga air hangat. Ayamnya hangat, ya?"
"Baik, ada lagi, Nona?"
"Emm, ini tumisan daging sapi?"
"Benar, Nona. Memakai wagyu yang perpotongnya lima juta lima ratus. Bisa request setengah matang atau matang sempurna."
"Hmm, itu satu."
"Baik, ada lagi?"
Andrienna menutup buku menunya. "Itu saja dulu, mungkin kalau saya mau tambah akan saya katakan nanti."
"Baik, untuk nasi hangat berapa porsi?"
"Emm, ukuran dua orang."
"Baik, tunggu, ya, Nona."
"Iyaa." Dengan ramah Andrienna berkata, menyerahkan buku menu padanya yang langsung berlalu.
Andrienna menghela napas panjang setelah memesan makanan, hingga seseorang berdiri di hadapannya pun dia tak tahu.
"Andrienna?"
Wanita itu mendongak, menatap siapa yang ada di hadapannya.
"Benar, kau Andrienna, 'kan? Teman sekolahku dulu saat SMK. Demi apa kita bertemu lagi disini setelah reuni itu. Astaga ... Apa kabar?"
"Wait!" Andrienna menatapnya lekat-lekat, hingga mampu merasakan aura dominan pria ini. "Ayres Benjamin Natra?!"
"Yes, i'm!"
__ADS_1