
"Kehamilanku bisa, 'kan?"
"Apa?!"
Ayres detik itu juga langsung bangkit dari duduknya. Dia menatap wajah Andrienna yang mendongak kepadanya.
"Kau hamil?"
"Hmm." Andrienna mengangguk, air matanya jatuh lagi seraya memeluk perutnya yang masih rata. "Bagaimana ini, Ayres? Aku tidak mungkin hamil di luar nikah, 'kan? Aku malu. Sepeninggal orang tuaku, aku sudah hancur. Kini semakin hancur akibat malam itu dan kehamilan ini." Ayres menelan ludahnya kasar. "Ingin saja aku menggugurkannya …." Andrienna terisak, dengan mata Ayres yang sudah membulat. "Namun, aku takut. Nyawaku menjadi taruhannya jika melakukan itu," lanjutnya sambil menyeka air mata. "Bantu aku, please ...."
Ayres menarik napasnya perlahan, dia bingung. Wanita ini hamil? Hamil akibat ulahnya di malam itu? Bagaimana mungkin? Selama ini dia selalu menghabiskan malam dengan lima orang wanita pilihannya, tapi tak pernah wanita-wanita itu hamil. Namun, bagaimana bisa wanita ini hanya dengan satu malam bisa hamil karenanya?
"Ayres ...."
Suara lembut Andrienna yang masih terisak itu terdengar, membuat Ayres menarik napasnya sejenak.
"Bantu aku ... kau tidak mau?" Bangun dari duduknya, Andrienna menatap mata pria yang tadi sudah bersedia untuk menjadi penolongnya. "Kau tidak mau menolongku karena aku hamil, 'kan? Apakah kau mulai jijik padaku?"
Ayres menggeleng pelan, menyentuh bahunya dengan lembut. "Bukan seperti itu, Andrienna …." Kelu, bibir dan lidahnya tak mampu mengatakan apapun.
Ada seonggok perasaan yang tak bisa dia bantah dalam hatinya. Layaknya seorang suami yang bahagia mendengar kabar kehamilan istrinya, itulah yang tiba-tiba terbesit dalam dadanya. Andrienna hamil, dan mungkinkah itu bayinya?
"Apa? Aku tahu kau tidak respect lagi padaku. Sudahlah ...." Andrienna mengusap air matanya, lalu kembali duduk di kursinya.
Ayres yang merasakan gerakan itu ikut tersentak, jiwanya sempat berkelana dan dia masih syok akan kenyataan yang menimpa temannya. Benarkah Andrienna hamil anaknya? Benarkah itu anaknya?
Suara deringan ponsel terdengar di sekitar keheningan yang masih melanda. Ayres mengambilnya, lalu menelan ludah sedikit seakan senang dan juga bersyukur atas siapa yang sudah meneleponnya ini.
"Andrienna, aku pamit sebentar. Aku akan tetap membantumu, ingat itu. Namun, ada hal yang penting yang harus kulakukan."
Andrienna tak menjawab, dia hanya diam saat Ayres menggenggam tangannya dan melangkah pergi. Sesekali Ayres menoleh kearah Andrienna sambil menelan ludah. Bagaimana bisa? Anaknya dikandung temannya sendiri?
Saat sudah masuk ke mobil hitamnya yang di jaga bodyguard, Ayres baru mengangkat panggilan dari seseorang yang terus menghubunginya.
__ADS_1
"Halo? Ayr⸺"
"Morgan, datanglah ke mansion sekarang. Aku akan segera datang."
"Ada hal apa? Pentingkah?"
"Jauh lebih penting." Memacu mobilnya, Ayres mematikan panggilan dan membawa kendaraan hitam mewah itu keluar dari area restoran.
Andrienna menatap kepergiannya, dengan perasaan yang tak mampu di tahan bagaimana perihnya. Dia menyeka air mata, lalu melangkah kearah mobilnya. Wanita itu lelah, dia mengantuk hingga tangannya perlahan membawa mobil pulang ke kost-an miliknya.
Setelahnya dia mencuci kaki tangan, membasuh wajahnya dan juga berganti pakaian. Dia lelah, tangisan dan kehamilan membuatnya semakin lelah. Berbaring di atas ranjang, Andrienna menatap langit-langit kamarnya dan terlelap. Dia sudah lelah berpikir, hingga tak mampu untuk memikirkan apapun lagi.
Sementara itu, Ayres sudah berderap masuk ke dalam mansion. Dia mendapati seorang pria sebayanya yang langsung bangkit dan berjabat tangan dengan menabrakkan kedua telapak tangan mereka dan mencengkramnya erat.
"Ada apa? Wajahmu menampilkan dengan jelas kalau kau mengalami sesuatu." Morgan bertanya pada Ayres yang langsung menghela napas.
"You know? I have a baby."
Ayres menghela napasnya dalam. "Di dalam rahim wanita yang sudah kumiliki."
"Hah? Anggeria? Felia? Nadia? Jasmine? Or Ghea?"
"No." Ayres menggeleng tegas, lalu menatap kakaknya. "Bukan salah satu dari mereka, Morgan. Ini wanita lain, wanita yang kujebak di rumah Lorong Hitam dan dia masih perawan malam itu. Kau menghubungiku paginya, karena menghadapi si brengsek itu. Hingga saat aku kembali, dia tak kutemukan lagi. Hari ini ... aku melihatnya di cafe. Saat kuhampiri, dia mengenalku karena dia tak lain adalah temanku."
Morgan membulatkan mata mendengar cerita adiknya.
"Are you serious, Ayres?!"
"Yes, i'm serious. Namun, aku ingin memastikan." Ayres berkata sambil memangku dagunya.
Morgan kembali duduk, menatap wajah adiknya yang tampak seperti bingung dan juga ragu.
"Apa? Apa yang ingin kau pastikan?"
__ADS_1
Ayres tersenyum kecil. "Itu sungguhan anakku atau tidak."
"What? Bagaimana kabar yang kau bawa? Tadi kau mengatakan anakmu, sekarang kau ingin memastikan. Apa-apaan kau, Ayres! Gantle, akui jika kau benar-benar menodainya. Bukankah kau memang mengharapkan bayimu hadir? Makanya kau seperti orang gila jika sudah berhubungan dengan seorang wanita."
Ayres menghela napasnya, lalu menyugar kasar rambutnya.
"Yes, kau benar. Kau tahu aku memang mengharapkan bayiku lahir. Namun, mengapa kelima wanita itu tidak ada yang berhasil hamil? Bukankah aku selalu melakukannya dengan mereka?"
Morgan tersenyum tipis. "Yakinkah kau? Mereka itu bukan wanita baik-baik, mereka hanya menginginkan uang dan hartamu. So, apakah kau tidak dapat memikirkan? Bisa saja mereka meminum obat kontrasepsi, bukan?"
"Itu tidak mungkin."
"Kau tidak percaya padaku?" Morgan berdecih sebal. "Aku saja tidak ada yang selera melihat wanita-wanitamu itu. Sangat tidak menggoda sekali, mereka hanya seperti wanita biasa."
Ayres menatap kakaknya yang tampak datar.
"Kau tidak mau dengan wanita itu?"
"What? Kenapa?"
"Biar aku yang mengambil alih." Morgan tersenyum tipis. "Pasti dia kasihan, kuyakin dia menangis. Jika kau tidak keberatan, aku akan menggantikanmu. Aku akan berusaha mendekatinya, lalu menikahinya dan menjadi ayah anaknya. Siapa namanya tadi?"
"Kau bercanda?!" Suara Ayres mulai berubah tak suka. "Aku ayah bayinya! Bagaimana bisa kau mengatakan itu, Morgan!"
"Ck!" Morgan bersandar, menatapnya datar. "Kau masih ragu, ingat itu."
Ayres terdiam, dia akui itu benar.
"Kau bayangkan, di tengah keraguanmu, wanita itu tetap pada kesedihannya. Hatinya pasti hancur sekali, apalagi dia wanita baik-baik. Bagaimana bisa kau masih ragu jika kau yang menjadi pertama untuknya? Dan bagaimana bisa kau mengatakan itu bayimu atau tidak padahal kau tahu kalau itu temanmu? Kau mengaku dia temanmu pasti kau tahu bagaimana dia, bukan?"
Ayres terbungkam lagi dan Morgan tampak tersenyum miring di kursinya. Dia memang ingin mengubah sikap adiknya ini, agar fokus pada pekerjaan, bukan main wanita yang berganti-ganti tiap malam. Namun, Ayres memang keras kepala. Dia tidak mau berhenti karena belum menemukan pawang.
"Dan masalahnya, bagaimana kau bisa tahu keadaannya sekarang? Perasanku kejadian itu sudah sebulan yang lalu. Apakah kau menguntitnya? Lalu say hello padanya?"
__ADS_1